Pasar kripto anjlok dalam dua hari terakhir, di tengah meningkatnya tekanan geopolitik, ketidakpastian kebijakan moneter AS, serta kekhawatiran baru terhadap keamanan aset digital.
Analis kripto Ash Crypto menyoroti penyusutan kapitalisasi pasar sekitar US$200 miliar dalam 48 jam, ketika Bitcoin (BTC) dilaporkan sempat turun ke bawah US$81.000 dan Ethereum (ETH) menembus US$2.450.
Menurut Ash Crypto, tekanan jual tersebut turut memicu likuidasi posisi long senilai sekitar US$1,4 miliar. Angka itu merupakan estimasi yang disampaikan analis untuk periode penurunan tersebut, bukan angka yang telah terverifikasi secara independen.
Sementara itu, data CoinMarketCap pada saat artikel ini disusun memperlihatkan kapitalisasi pasar kripto global berada di kisaran US$2,8 triliun, mencerminkan tekanan yang meluas pada aset digital.
Untuk menjelaskan pelemahan tersebut, Ash Crypto mengidentifikasi empat faktor utama, di mana enguatan indeks dolar AS (DXY) juga menjadi perkembangan makroekonomi yang relevan untuk diperhatikan.
Kelima faktor ini berlangsung dalam periode yang berdekatan, meskipun hubungan sebab-akibat langsung antara masing-masing peristiwa dan penurunan harga kripto belum dapat dipastikan.
Ancaman Serangan AS ke Iran Kembali Mengusik Pasar
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali menjadi perhatian setelah muncul laporan bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump tengah mempersiapkan kemungkinan operasi militer berskala besar.
Berdasarkan laporan investigasi Axios pada Rabu (7/10/2026), Pentagon telah menginstruksikan Komando Pusat AS (CENTCOM) untuk menyelesaikan persiapan kemungkinan operasi tempur terhadap Iran.
Rencana yang dibahas mencakup serangan terhadap fasilitas energi, infrastruktur, serta instalasi nuklir Iran. Namun, belum ada keputusan final mengenai pelaksanaan operasi tersebut.
Perkembangan terbaru pada 8 Oktober justru memperlihatkan perubahan sikap. Melalui akun resminya di Truth Social, Trump menyatakan AS tidak akan menyerang Iran sebelum pemilihan umum sela pada 3 November 2026.
Trump juga menyebut pembicaraan dengan Iran berlangsung produktif, meskipun blokade AS terhadap pelabuhan Iran tetap diberlakukan.
Ketidakpastian mengenai kelanjutan konflik ini penting bagi pasar keuangan karena gangguan pasokan energi dapat meningkatkan harga minyak dan memperbesar risiko inflasi.
Dalam kondisi tersebut, investor cenderung lebih berhati-hati terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin dan altcoin.
Riset AI Picu Kekhawatiran Baru soal Keamanan Kripto
Tekanan berikutnya berasal dari perdebatan mengenai kemampuan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam memecahkan persoalan matematika yang mendasari sistem kriptografi.
Pada 6 Oktober, OpenAI mengumumkan kemajuan penelitian matematika melalui model AI internal yang menghasilkan berbagai solusi terhadap persoalan matematika terbuka.
Perusahaan turut menerbitkan sejumlah pembuktian yang diformalisasi menggunakan Lean agar dapat diperiksa secara komputasional.
Perkembangan tersebut memicu peringatan dari peneliti Ethereum Foundation, Justin Drake, mengenai kemungkinan ancaman AI terhadap algoritma tanda tangan digital yang digunakan jaringan blockchain.
Dalam unggahannya di sosial media, Drake menyerukan persiapan menghadapi skenario bunker mode, yaitu langkah pengamanan aset apabila kemampuan AI berkembang hingga dapat memecahkan sistem kriptografi tertentu.
Menurutnya, dalam skenario terburuk, kemajuan AI berpotensi mempercepat ancaman terhadap algoritma kriptografi kurva eliptik, bahkan sebelum komputer kuantum mampu melakukannya.
Kendati demikian, kekhawatiran tersebut masih bersifat hipotetis. Hingga kini, belum terdapat bukti publik bahwa AI berhasil memecahkan sistem tanda tangan kriptografi Bitcoin maupun Ethereum secara praktis.
Dengan demikian, perkembangan ini lebih tepat dipandang sebagai risiko keamanan jangka panjang dan faktor ketidakpastian pasar, bukan bukti bahwa keamanan kedua jaringan telah ditembus.
Pemerintah AS Pindahkan Bitcoin Senilai Miliaran Dolar
Faktor ketiga berkaitan dengan aktivitas dompet kripto yang dikaitkan dengan pemerintah AS.
Berdasarkan pelacakan Arkham Intelligence terhadap kepemilikan kripto pemerintah AS, pada 8 Oktober terjadi pemindahan sekitar 12.267 BTC senilai kurang lebih US$1,01 miliar dari dompet yang berkaitan dengan penyitaan aset hasil peretasan Bitfinex.
Bitcoin tersebut dipindahkan menuju alamat dompet baru yang belum memiliki identifikasi penerima.
Aktivitas itu menyusul pergerakan aset sehari sebelumnya, ketika sekitar 3.200 BTC senilai US$264 juta dan USDT senilai US$119 juta tercatat mengalir menuju alamat deposit Coinbase Prime.
Pergerakan dalam jumlah besar berpotensi menimbulkan kekhawatiran mengenai tekanan jual tambahan, terutama ketika harga Bitcoin sedang melemah.
Namun, perpindahan aset tidak dapat langsung disamakan dengan penjualan. Coinbase Prime juga menyediakan layanan kustodian institusional, sementara transfer pada 8 Oktober tidak menunjukkan deposit langsung ke bursa.
Selain itu, melalui perintah eksekutif pembentukan Strategic Bitcoin Reserve yang diterbitkan pada Maret 2025, pemerintah AS menetapkan bahwa Bitcoin yang masuk ke cadangan strategis tersebut tidak boleh dijual dan harus dipertahankan sebagai aset cadangan.
Ketentuan itu tetap memiliki pengecualian hukum untuk kategori dan kondisi tertentu. Oleh karena itu, status dan tujuan masing-masing transfer perlu diperiksa sebelum menyimpulkan adanya penjualan oleh pemerintah.
Risalah FOMC Buka Peluang Kenaikan Suku Bunga Lagi
Dari sisi kebijakan moneter, tekanan terhadap pasar kripto juga bertepatan dengan publikasi risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada Rabu (7/10/2026).
Berdasarkan risalah resmi The Fed, para pembuat kebijakan sebelumnya sepakat menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin dalam pertemuan 15–16 September.
Kenaikan tersebut membawa kisaran suku bunga federal menjadi 3,75–4 persen.
Lebih jauh, mayoritas peserta rapat menilai kenaikan suku bunga tambahan kemungkinan masih diperlukan sebelum akhir 2026, terutama untuk mengendalikan inflasi yang bertahan di atas target dua persen.
Pandangan tersebut sejalan dengan proyeksi ekonomi The Fed edisi September, yang memperlihatkan median perkiraan suku bunga federal pada akhir 2026 sebesar 4,1 persen.
Meski begitu, kenaikan berikutnya belum menjadi keputusan resmi. The Fed menegaskan kebijakan selanjutnya tetap bergantung pada perkembangan data ekonomi dan risiko inflasi.
Ekspektasi suku bunga tinggi berpotensi mengurangi daya tarik aset berisiko karena biaya pendanaan meningkat dan instrumen berbunga menawarkan imbal hasil yang lebih kompetitif.
Dolar AS Melesat, Tekanan ke Bitcoin Bertambah
Faktor kelima yang melengkapi tekanan makroekonomi tersebut adalah penguatan indeks dolar AS atau DXY.
Berdasarkan data pergerakan DXY di TradingView, indeks dolar bergerak di sekitar level 102, setelah mengalami penguatan dalam beberapa hari sebelumnya.
DXY mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia, termasuk euro, yen Jepang dan pound sterling.

Penguatan dolar sering menjadi tantangan bagi aset yang diperdagangkan dalam denominasi dolar AS, termasuk Bitcoin, karena dapat memperketat kondisi finansial global dan mengurangi minat terhadap investasi berisiko.
Kondisi ini turut berkaitan dengan arah kebijakan The Fed. Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi dapat mendukung permintaan terhadap dolar sekaligus meningkatkan tekanan pada pasar aset spekulatif.
Meski demikian, hubungan antara DXY dan Bitcoin tidak selalu bergerak berlawanan secara konsisten. Reaksi pasar tetap dipengaruhi likuiditas, permintaan investor dan kondisi ekonomi yang lebih luas.
Secara keseluruhan, lima perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pelemahan pasar kripto tidak hanya diwarnai persoalan internal industri, tetapi juga tekanan ekonomi dan geopolitik global.
Risalah FOMC dan penguatan dolar memberikan gambaran tekanan makroekonomi yang terukur, sementara ancaman AI dan transfer Bitcoin pemerintah AS menambah ketidakpastian yang masih perlu dipantau.
Bagi investor, perkembangan harga selanjutnya akan bergantung pada bagaimana pasar merespons perubahan kebijakan moneter, risiko geopolitik, serta arus likuiditas dalam perdagangan aset digital.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


