Ketika harga aset kripto terus tertekan, perusahaan Digital Asset Treasury (DAT) mulai beralih ke kecerdasan buatan (AI) demi menarik kembali minat investor. Namun, apakah strategi ini benar-benar mampu membalikkan keadaan?
Perusahaan DAT Ramai-Ramai Beralih ke Sektor AI
Ledakan perusahaan DAT yang sempat meramaikan pasar kripto kini mulai meredup. Setelah menikmati euforia tahun lalu, banyak perusahaan menghadapi tekanan ketika harga aset digital memasuki tren penurunan.
Menurut laporan Bloomberg pada Senin (27/07/2026), melemahnya pasar kripto membuat sejumlah perusahaan yang sebelumnya berfokus mengoleksi aset digital kini mengalihkan strategi bisnis ke sektor kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Perusahaan seperti K Wave Media Ltd., Lixte Biotechnology Holdings Inc., hingga AlphaTON Capital Corp. menjadi beberapa contoh yang memilih meninggalkan model bisnis DAT dan bertransformasi menuju bisnis yang berkaitan dengan AI.
Sayangnya, perubahan arah perusahaan belum memberikan hasil sesuai harapan. Bloomberg mencatat saham K Wave Media telah turun 71 persen sejak beralih ke pengembangan pusat data pada Mei lalu.
Sementara itu, saham Lixte Biotechnology merosot 33 persen setelah mengumumkan merger dengan perusahaan baterai pada Juni. AlphaTON Capital, yang berganti nama menjadi Alpha Compute Corp., juga mencatat penurunan saham 33 persen sejak April.

Fenomena ini bukan terjadi pada satu atau dua perusahaan. Bloomberg menyebut sedikitnya belasan perusahaan treasury kripto telah beralih ke bisnis AI dalam beberapa bulan terakhir, meski performa saham mereka masih belum menunjukkan pemulihan berarti.
Ketika Kripto Kehilangan Magnet, AI Jadi Primadona Baru
Perubahan arah tersebut bukan tanpa alasan. Selama harga kripto terus melemah, banyak saham perusahaan DAT diperdagangkan di bawah nilai bersih aset yang mereka miliki atau net asset value.
Model bisnis DAT sendiri mengandalkan neraca perusahaan untuk membeli kripto, kemudian memperoleh pendanaan melalui penerbitan saham. Strategi ini sempat menghasilkan keuntungan ketika harga Bitcoin terus melejit.
Namun, situasinya berubah drastis. Bloomberg mencatat harga Bitcoin telah turun 49 persen dari puncaknya pada Oktober tahun lalu dan melemah 27 persen sepanjang tahun hingga 24 Juli 2026.
Ethereum bahkan mengalami tekanan lebih dalam. Mata uang kripto terbesar kedua itu tercatat turun 38 persen sepanjang tahun ini dan telah terkoreksi 62 persen dari rekor tertingginya pada Agustus 2025.
Akibatnya, saham perusahaan DAT di Amerika Serikat dan Kanada mencatat penurunan hingga 43 persen sejak awal tahun. Kondisi tersebut mendorong banyak manajemen perusahaan mulai mencari sumber pertumbuhan baru.
“Ada minat yang besar terhadap AI dan banyak yang beralih ke bidang yang diyakini dapat membuat bisnisnya berhasil. Sebagian besar perusahaan mencoba mengubah arah bisnis, atau mereka sudah mati maupun sedang menuju kehancuran,” kata Managing Partner Renno & Co LLC, Toufic Adlouni.
AI Menarik Dana Besar, Tetapi Tidak Semua Berhasil
Daya tarik AI memang sulit diabaikan. Arus investasi besar dari perusahaan teknologi seperti Alphabet, Microsoft, OpenAI, hingga Anthropic membuat bisnis pusat data menjadi salah satu sektor dengan pertumbuhan tercepat sepanjang 2026.
Bloomberg mencatat hampir seluruh 10 saham dengan kinerja terbaik di indeks S&P 500 tahun ini berasal dari perusahaan yang memasok kebutuhan pusat data. SanDisk bahkan melonjak lebih dari 500 persen, disusul Dell Technologies, Intel, dan Micron Technology.
Memahami Istilah Digital Asset Treasury (DAT) yang Lagi Hits
Meski demikian, sekadar mengganti identitas perusahaan menjadi bisnis AI belum cukup mengembalikan kepercayaan investor. Gregory Sichenzia, pendiri firma hukum Sichenzia Ross Ference Carmel LLP, menilai situasi perusahaan DAT telah berubah total dibanding tahun lalu.
“Tahun lalu, DAT seolah tidak bisa berbuat salah, tetapi tahun ini istilah tersebut justru menjadi sesuatu yang sangat dihindari,” ujar Sichenzia.
Di sisi lain, tidak semua meninggalkan blockchain. Daniel Forman, mitra Lowenstein Sandler LLP, mengatakan minat terhadap blockchain masih tetap ada, hanya saja model bisnis digital asset treasury dinilai sudah kehilangan momentum.
Menariknya, perusahaan Bitcoin mining justru menjadi kelompok yang sukses beradaptasi. CoreWeave, Hut 8, Iren, dan TeraWulf berhasil memanfaatkan infrastruktur pusat data mereka untuk mendukung kebutuhan AI sehingga kembali menarik perhatian investor.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


