Pasar Kripto Masih Rawan Koreksi, Ini Alasannya

Pasar kripto global masih berada dalam kondisi rawan koreksi, seiring meningkatnya dominasi stablecoin, tekanan teknikal pada Bitcoin, serta potensi volatilitas dari pergerakan dolar AS.

Kombinasi faktor teknikal dan makroekonomi tersebut membuat pasar kripto belum menunjukkan sinyal pemulihan yang stabil dalam jangka pendek.

Berdasarkan analisis yang disampaikan oleh analis BehDark, dominasi Tether (USDT) terhadap total kapitalisasi pasar kripto atau USDT Dominance (USDT.D) masih bergerak dalam tren naik pada timeframe empat jam.

Kenaikan ini mencerminkan meningkatnya sikap defensif investor yang memilih memindahkan dana ke aset yang lebih stabil di tengah ketidakpastian pasar.

IKLAN
Chat via WhatsApp

USDT Dominance

Setelah sempat mengalami koreksi dan menyentuh area support di kisaran 6,10 persen hingga 6,19 persen, USDT.D kembali menguat. Zona tersebut dinilai sebagai area penting yang berfungsi sebagai titik balik pergerakan harga.

Pola Kenaikan USDT Indikasikan Sikap Hati-hati Investor

Secara teknikal, pergerakan USDT.D membentuk pola ascending channel yang mengindikasikan kelanjutan tren naik. Breakout kecil yang terjadi diikuti dengan fase retest yang berhasil, memperkuat sinyal bahwa momentum masih terjaga.

BACA JUGA:  Robinhood dan Sony Kucurkan Dana Investasi di Crypto Exhange Ini

BehDark mencatat bahwa selama dominasi USDT bertahan di atas zona hijau tersebut, peluang penguatan menuju area resistance di kisaran 6,5 persen hingga 6,7 persen masih terbuka. Kenaikan dominasi USDT biasanya berbanding terbalik dengan pergerakan Bitcoin dan altcoin.

Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian besar pelaku pasar kripto lebih memilih mengamankan dana dalam bentuk stablecoin. Situasi tersebut mencerminkan fase risk-off, di mana investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko dan cenderung melakukan profit taking.

Potensi Pelemahan Dolar Tambah Volatilitas Pasar

Dari sisi makroekonomi global, analis kripto Ash Crypto menyoroti potensi pelemahan indeks dolar AS atau DXY akibat rencana intervensi terhadap pelemahan yen Jepang. Menurutnya, kebijakan tersebut dapat berdampak langsung terhadap stabilitas pasar keuangan, termasuk pasar kripto.

“Untuk kali pertama dalam abad ini, bank sentral AS berencana melakukan intervensi terhadap yen dengan menciptakan dolar baru dan hal ini berpotensi melemahkan nilai dolar,” tulis Ash Crypto.

Ia menjelaskan bahwa langkah tersebut dapat mendorong volatilitas dalam jangka pendek, sebelum pasar menemukan keseimbangan baru. Berdasarkan pengalaman pada pertengahan 2024, intervensi serupa sempat memicu gejolak selama beberapa pekan, sebelum aset digital mengalami penguatan.

BACA JUGA:  Open Interest Bitcoin Anjlok ke Titik Terendah Oktober 2024, Ini Artinya

Meski berpotensi memberikan dampak positif dalam jangka menengah, fase transisi menuju pelemahan dolar dinilai masih menyimpan risiko tinggi bagi pasar kripto.

Bitcoin Masih Tertekan di Bawah Area Resistance

Sementara itu, dari sisi teknikal, pergerakan Bitcoin juga menunjukkan tekanan yang belum mereda. Analisis lainnya dari BehDark melihat bahwa, pada time frame empat jam, tren bearish masih mendominasi.

Analisis BTC

Setelah mencapai titik puncak di area D, harga Bitcoin mengalami tekanan jual yang signifikan. Area resistance di kisaran US$91.700 hingga US$93.700 tidak berhasil ditembus secara meyakinkan, sehingga memperkuat sinyal distribusi.

Kegagalan harga mempertahankan momentum rebound menunjukkan bahwa minat beli belum cukup kuat untuk mendorong pembalikan tren. Struktur ini menandakan bahwa pasar kripto belum memasuki fase akumulasi yang solid.

Di sisi bawah, zona demand di area US$82.000 hingga US$84.000 menjadi perhatian utama sebagai potensi target koreksi berikutnya. Zona tersebut sebelumnya menjadi area pantulan harga dan berpotensi kembali menarik minat beli jika tekanan jual mulai mereda.

BACA JUGA:  Tak Sekadar Stablecoin, Tether Bangun Imperium Bisnis di Banyak Sektor

Secara keseluruhan, kombinasi antara meningkatnya dominasi USDT, potensi volatilitas akibat pergerakan dolar, serta tekanan teknikal pada Bitcoin menunjukkan bahwa pasar kripto masih berada dalam fase rawan koreksi.

Belum adanya struktur reversal yang jelas, ditambah dengan pergeseran likuiditas ke aset defensif, memperkuat indikasi bahwa sentimen pasar masih cenderung berhati-hati. Dalam kondisi ini, pergerakan harga berpotensi didominasi oleh fluktuasi tajam dan fase konsolidasi.

Para analis menilai, stabilitas pasar kripto baru berpeluang terbentuk apabila dominasi stablecoin mulai melemah, tekanan jual pada Bitcoin mereda, serta kondisi makroekonomi global menunjukkan sinyal yang lebih kondusif.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait

Iklan Bitget Blockchain Media Indonesia