Setelah crash besar pada Jumat lalu, pasar kripto mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Bitcoin (BTC) kembali menembus level US$110.000 setelah sempat anjlok ke US$105.000, diikuti oleh rebound tipis di sejumlah altcoin.
Namun, meski pergerakan harga tampak membaik, sejumlah analis memperingatkan bahwa fase ini belum tentu menandakan pemulihan sejati. Risiko tekanan jual dan ketidakpastian makro masih bisa menjadi bayangan besar bagi pasar crypto.
“Whale” Hyperliquid Angkat Bicara Soal Kondisi Pasar Kripto
Garrett Jin, sosok yang diduga sebagai whale Hyperliquid dengan kepemilikan 100.000 BTC, angkat bicara soal kondisi pasar kripto saat ini. Melalui unggahan di akun X pribadinya pada Senin (13/10/2025), Jin membagikan pandangannya mengenai arah pasar dan faktor yang memicu gejolak baru-baru ini.
Ia menjelaskan bahwa dari sisi teknikal, pasar global tengah berada dalam kondisi overbought. Jin juga menyoroti tingginya korelasi antara pasar crypto dan saham teknologi AS, yang membuat risiko dapat berpindah dengan cepat di antara keduanya.
“Dari sudut pandang analisis teknikal, saham teknologi AS, saham teknologi A-shares, dan mayoritas kripto menunjukkan sinyal overbought, seperti divergensi MACD. Dalam seminggu terakhir, kami melihat perubahan struktur di saham AS — dari risk-on menuju risk-off,” tulisnya.
Lebih lanjut, Jin menilai bahwa ketegangan dagang antara AS dan Tiongkok menjadi salah satu faktor eksternal yang memperburuk situasi. Ia menyoroti kebijakan baru dari Beijing berupa “special port fee” untuk kapal asal AS, yang diumumkan sehari sebelum pasar jatuh pada 11 Oktober.
Menurutnya, meningkatnya tensi dagang tersebut mendorong pelaku pasar untuk bersikap lebih hati-hati. Baik saham maupun aset kripto kini menunjukkan pergeseran ke mode defensif sebagai respons terhadap ketidakpastian global yang semakin tinggi.
Leverage Ekstrem dan Krisis Likuiditas
Selain faktor makro, Garrett juga menilai bahwa kejatuhan pasar kripto turut dipicu oleh kelemahan struktural dalam industri itu sendiri, terutama tingginya tingkat leverage dan sikap terlalu optimistis para pelaku pasar.
“Pasar saham AS dan kripto baru-baru ini didorong oleh posisi long dengan leverage tinggi — menciptakan lahan subur bagi krisis deleveraging,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa ketika kepanikan meningkat, bahkan bursa terbesar sekalipun bisa mengalami gangguan.
Sebagai solusi, Jin mengusulkan agar crypto exchange menerapkan mekanisme stabilization fund seperti yang ada di pasar saham AS untuk menjaga likuiditas. Menurutnya, hanya dengan cara tersebut kepercayaan bisa pulih, modal dapat kembali masuk, dan pasar tumbuh secara sehat.
Pasar Kripto Masih Rapuh, Tetap Waspada
Melihat kondisi pasar kripto yang sebelumnya mengalami crash besar, serta pandangan ahli yang menilai bahwa penyebabnya sangat kompleks dan datang dari berbagai sisi, wajar jika muncul spekulasi luas mengenai arah pasar selanjutnya.
Meski mulai terlihat tanda-tanda pemulihan, kewaspadaan tetap sangat diperlukan. Menurut laporan XWIN Research Japan, kondisi saat ini menandai fase pembersihan leverage yang mendalam — namun belum bisa dipastikan sebagai titik dasar sejati bagi Bitcoin.
Peringatan serupa juga disampaikan oleh analis CobraVanguard, yang mengingatkan bahwa meski tren pasar uang (FX) saat ini menunjukkan arah bullish, potensi penurunan tetap ada — dan hal tersebut bisa berdampak pada pasar kripto, seperti yang pernah terjadi sebelumnya.
“Kita mungkin akan segera melihat penurunan yang sangat tajam di pasar — mungkin sesuatu yang belum pernah kamu saksikan sebelumnya,” tulisnya di kanal Telegram-nya, Senin (13/10/2025).
Melihat kondisi pasar global yang masih dipenuhi ketidakpastian, banyak yang menilai bahwa periode volatilitas tinggi belum berakhir. Oleh karena itu, manajemen risiko dan menghindari posisi leverage berlebihan menjadi langkah untuk menghadapi kondisi yang belum stabil. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



