OpenSea, salah satu pasar NFT terbesar di dunia, resmi mengubah arah bisnisnya menjadi platform agregator aset kripto multi-chain setelah menghadapi penurunan tajam di sektor NFT dan gelombang pemutusan hubungan kerja berskala besar.
Berdasarkan laporan Forbes, transformasi ini menandai langkah strategis perusahaan untuk memperluas layanan, tidak hanya pada perdagangan NFT, tetapi juga mencakup token, memecoin dan aset digital lain di 22 blockchain berbeda.
Perubahan model bisnis ini menjadi tonggak penting dalam evolusi OpenSea dari marketplace NFT menjadi platform agregasi aset kripto lintas jaringan.
Perusahaan kini memfasilitasi perdagangan aset digital melalui integrasi dengan berbagai bursa terdesentralisasi (DEX) seperti Uniswap dan Meteora. Langkah ini memungkinkan pengguna untuk melakukan pertukaran token atau NFT tanpa harus keluar dari ekosistem OpenSea.
Dalam model barunya, OpenSea mengadopsi sistem non-custodial, di mana dana pengguna tetap berada di bawah kendali masing-masing pemilik wallet. Platform ini juga tidak memberlakukan prosedur Know Your Customer (KYC) secara tradisional.
Sebagai gantinya, OpenSea menggandeng perusahaan analitik blockchain TRM Labs untuk memantau aktivitas wallet yang mencurigakan serta memastikan kepatuhan terhadap kebijakan sanksi global.
“Kami ingin menjaga keseimbangan antara kebebasan pengguna dan tanggung jawab terhadap keamanan ekosistem digital,” ujar perwakilan OpenSea.
Model Baru, Volume Perdagangan Naik Tajam
OpenSea kini mengenakan biaya transaksi tetap sekitar 0,9 persen per perdagangan. Dalam bulan pertama penerapan sistem baru tersebut, volume transaksi di platform melonjak signifikan, dengan nilai perdagangan mencapai US$2,6 miliar pada Oktober 2025.
Lebih dari 90 persen aktivitas tersebut berasal dari perdagangan token non-NFT, menandai pergeseran besar dalam fokus pengguna dari koleksi digital ke aset kripto yang lebih likuid.
Perubahan strategi ini didorong oleh anjloknya pasar NFT sejak puncaknya pada 2021–2022. Volume penjualan yang merosot tajam membuat pendapatan perusahaan menurun drastis.
Untuk bertahan, OpenSea memilih bertransformasi menjadi agregator lintas aset, sekaligus menyiapkan peluncuran token internal bernama SEA yang dirancang untuk memperkuat keterlibatan komunitas.
Program insentif bernama Treasure Chest juga disiapkan untuk memberi penghargaan bagi pengguna aktif di platform baru tersebut.
Meski langkah ini disambut positif oleh sebagian besar pelaku industri, OpenSea masih menghadapi sejumlah tantangan. Tidak diterapkannya KYC tradisional menimbulkan potensi risiko kepatuhan terhadap peraturan keuangan di berbagai yurisdiksi.
Pengawasan aktivitas mencurigakan kini sepenuhnya bergantung pada analisis on-chain dan sistem pemantauan otomatis. Selain itu, persaingan dari platform serupa seperti Blur, Magic Eden, dan aggregator DEX lain semakin ketat, terutama dalam memperebutkan likuiditas dan kepercayaan pengguna.
Di sisi lain, pengawasan dari otoritas tetap menjadi faktor penting yang dapat memengaruhi operasional perusahaan. OpenSea sebelumnya sempat menjadi subjek penyelidikan oleh Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) Amerika Serikat terkait status hukum NFT. Namun, pada Februari 2025, SEC menghentikan penyelidikan tersebut tanpa tindakan lanjutan. Keputusan itu dianggap sebagai tanda pelonggaran tekanan terhadap perusahaan kripto besar di AS, memberi ruang bagi OpenSea untuk melanjutkan ekspansi bisnisnya secara lebih agresif.
Langkah Strategis OpenSea di Tengah Ketidakpastian Regulasi
Transformasi OpenSea menjadi agregator aset kripto lintas jaringan mencerminkan perubahan besar dalam dinamika industri Web3.
Dengan memperluas cakupan ke berbagai aset digital, perusahaan berupaya mempertahankan relevansi di tengah menurunnya minat terhadap NFT tradisional. Namun demikian, strategi ini tetap menuntut keseimbangan antara inovasi teknologi dan kepatuhan hukum di pasar global yang semakin diawasi.
Bagi pengguna, model non-custodial dan kebijakan minim KYC memberikan keleluasaan lebih besar dalam bertransaksi. Namun, tanpa sistem verifikasi identitas yang kuat, risiko penyalahgunaan untuk aktivitas ilegal juga meningkat.
Oleh karena itu, keberhasilan OpenSea akan bergantung pada kemampuannya menjaga transparansi, memperkuat integrasi lintas blockchain, serta memastikan kepatuhan tanpa mengorbankan prinsip desentralisasi yang menjadi dasar ekosistem kripto.
Dengan strategi baru ini, OpenSea berharap dapat mengembalikan posisinya sebagai pemain dominan dalam perdagangan aset digital global.
Namun, masa depan platform ini masih akan sangat ditentukan oleh kemampuan perusahaan menavigasi regulasi internasional dan memenangkan kembali kepercayaan pasar yang sempat melemah akibat kejatuhan pasar NFT. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



