Regulasi pasar prediksi terbaru dari Commodity Futures Trading Commission (CFTC) Amerika Serikat resmi memperketat aturan main platform seperti Kalshi, terutama untuk kontrak yang rawan dimanipulasi.
Bagi kamu yang tertarik dengan investasi berbasis blockchain, penting untuk memahami arah regulasi pasar prediksi terbaru ini, karena bisa berdampak langsung pada bagaimana platform tersebut beroperasi ke depannya.
BACA JUGA:Â 7 Platform Pasar Prediksi Terpopuler, Bukan Cuma Polymarket!
Kenapa Regulator Turun Tangan?
Melansir laman Cointelegraph, Divisi Pengawasan Pasar CFTC baru-baru ini mengeluarkan peringatan resmi kepada entitas yang mereka awasi. Peringatan itu menyebut bahwa kontrak pasar prediksi yang berdasarkan pada ucapan atau tindakan seseorang, atau yang dikenal sebagai “mention markets“, hanya boleh dicatatkan dalam kondisi yang sangat terbatas.
Jenis kontrak ini biasanya mempertaruhkan apakah seseorang akan mengucapkan kata tertentu, hadir di sebuah acara, atau berinteraksi dengan orang lain.
Alasan di balik pengetatan ini cukup masuk akal. CFTC menilai kontrak semacam ini punya risiko manipulasi yang lebih tinggi karena hasilnya bergantung pada perilaku spesifik seseorang yang belum tentu bisa diverifikasi secara independen. Dengan kata lain, hasil taruhan bisa saja “diatur” oleh pihak yang punya akses atau pengaruh terhadap subjek yang dipertaruhkan.
Peringatan ini bukan muncul tanpa sebab. Sebelumnya, seorang mantan operator teleprompter di Gedung Putih terbukti meraup untung lebih dari US$107 ribu dengan memperdagangkan kontrak yang terkait pidato Presiden Donald Trump, karena ia diduga memiliki akses informasi yang tidak dimiliki trader lain.
Kasus semacam ini memperlihatkan celah yang bisa dimanfaatkan orang dalam, dan menjadi salah satu pemicu utama regulasi pasar prediksi terbaru yang kini diterapkan.
Empat Hal yang Harus Diperhatikan Bursa
Masih dari sumber yang sama, regulasi pasar prediksi terbaru ini juga memberi panduan konkret bagi bursa yang ingin tetap mencatatkan kontrak jenis mention market. Ada empat faktor utama yang perlu dipertimbangkan, yaitu apakah ada pengawasan yang memadai untuk mendeteksi manipulasi, apakah kata atau tindakan yang jadi dasar penyelesaian kontrak bisa diverifikasi secara independen, adanya tekanan eksternal yang bisa memengaruhi perilaku subjek, dan kewajiban lain yang mungkin dimiliki subjek dari kontrak tersebut.
Ketua CFTC, Mike Selig, menyambut baik panduan ini dan menegaskan bahwa kejelasan regulasi justru mendorong terciptanya pasar yang lebih sehat. Menariknya, sebelum peringatan resmi ini keluar, CFTC dikabarkan sudah lebih dulu menyelidiki mention markets sejak Agustus lalu, dan Kalshi sempat menghentikan sementara kontrak yang terkait acara olahraga selama proses investigasi berlangsung.
Dugaan Volume Palsu di Kalshi
Selain soal mention markets, ada kabar lain yang membuat pengawasan terhadap pasar prediksi semakin ramai dibicarakan. Melansir laman CoinDesk, muncul tuduhan bahwa Kalshi memanipulasi volume trading pada kontrak perpetual future Ether (ETH-PERP) miliknya.
Seorang analis kuantitatif menyoroti kejanggalan besar, yaitu volume trading dalam 24 jam yang mencapai US$539 juta, sementara open interest atau total nilai kontrak aktif hanya sekitar US$3,1 juta. Artinya, volume trading tercatat 174 kali lebih besar dibanding posisi yang benar-benar terbuka, pola yang umumnya jadi indikasi klasik dari wash trading atau volume palsu.
Kalshi Crypto Trading Volumes Face Wash-Trading Allegations
Stealth Neolab co-founder and former quant trader Beni questioned Kalshi’s crypto trading volumes, noting that ETH-PERP 24-hour volume reached approximately $539M while open interest stood at around $3.1M. He also… pic.twitter.com/TR8rfNUEQr
— Wu Blockchain (@WuBlockchain) September 21, 2026
Analis tersebut juga menemukan pola transaksi senilai US$5.500 yang berulang dan menyumbang hingga 58 persen dari total volume kontrak Ether tersebut dalam empat hari terpisah.
Pihak Kalshi sendiri membantah tudingan tersebut. Perwakilan Kalshi menjelaskan bahwa tingginya angka volume disebabkan oleh konvensi pelaporan industri, di mana volume dihitung berdasarkan potensi pembayaran maksimum, bukan uang tunai yang benar-benar dikeluarkan trader.
Selain itu, Kalshi juga menegaskan bahwa sebagai bursa yang teregulasi, mereka wajib melaporkan seluruh skema insentif secara terbuka kepada CFTC, berbeda dengan bursa luar negeri yang sering menjalankan program serupa secara tertutup.
Kasus ini menunjukkan bahwa meski regulasi pasar prediksi terbaru sudah mulai diterapkan, tantangan di lapangan tetap kompleks. Transparansi data dan interpretasi angka volume menjadi isu yang perlu terus diawasi bersama, baik oleh regulator maupun komunitas trader itu sendiri.
BACA JUGA:Â Polymarket vs Kalshi: Mana yang Cocok Buat Pasang Prediksi?
Lantas, Bagaimana Masa Depan Pasar Prediksi Setelah Ini?
Dengan makin ketatnya pengawasan dari regulator, pasar prediksi kemungkinan akan terus bertransformasi menuju arah yang lebih transparan dan tepercaya, meski di sisi lain juga membuat platform harus lebih hati-hati dalam merancang produknya.
Perkembangan ini menarik untuk terus kamu ikuti, apalagi jika kamu ingin memahami lebih dalam bagaimana regulasi memengaruhi dunia crypto dan blockchain secara keseluruhan.
Mau belajar crypto dan blockchain lebih lanjut? Yuk, pelajari selengkapnya hanya di Blockchain Media Indonesia! [msn]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


