Pasar Prediksi Terancam RUU Baru Imbas Konflik Iran-AS

Gelombang regulasi baru mulai menyasar pasar prediksi. Kali ini, Kongres AS bergerak cepat menyusul dugaan praktik taruhan berbasis informasi orang dalam terkait konflik geopolitik.

RUU BETS OFF Muncul dari Dugaan “Insider

Dua anggota Demokrat AS, Greg Casar dan Chris Murphy, memperkenalkan BETS OFF Act pada Selasa (17/03/2026) setelah munculnya aktivitas mencurigakan di platform prediksi seperti Polymarket.

Kasus ini bermula dari sejumlah akun yang memasang taruhan tidak biasa terkait kemungkinan pecahnya konflik antara AS dan Israel melawan Iran. Taruhan tersebut dinilai terlalu spesifik dan terkesan “lebih tahu duluan” dibanding publik.

Situasi ini memicu kecurigaan adanya pihak yang memanfaatkan informasi sensitif untuk meraih keuntungan. Apalagi, topik yang dipertaruhkan menyangkut isu geopolitik dan potensi konflik militer.

IKLAN
Chat via WhatsApp

Insider? 6 Akun Raup Rp20 Miliar di Polymarket dari Konflik Iran–AS

Murphy bahkan menyebut bahwa ada kemungkinan orang-orang dengan “insider information” terkait rencana militer Presiden Donald Trump terlibat dalam aktivitas tersebut, yang kemudian memicu kekhawatiran serius di kalangan pembuat kebijakan.

BACA JUGA:  Drama Gugatan Terorisme terhadap Binance Kandas di Pengadilan AS

“Kita tidak boleh hidup di negara di mana orang yang berada di ruang pengambilan keputusan soal perang dan damai juga memiliki taruhan besar terhadap hasil keputusan itu,” ujarnya.

Dari BETS OFF hingga DEATH BETS Act

RUU BETS OFF yang diajukan oleh Chris Murphy dan Greg Casar bukan satu-satunya langkah yang muncul untuk menekan pasar prediksi di AS.

Pada pekan lalu, Senator Adam Schiff juga mengajukan DEATH BETS Act yang bertujuan melarang kontrak taruhan terkait perang, terorisme, pembunuhan, hingga kematian individu.

Hal ini menunjukkan bahwa regulator di berbagai negara mulai melihat pasar prediksi bukan sekadar inovasi finansial, tetapi juga celah penyalahgunaan informasi sensitif.

Apalagi, topik taruhan kini menyentuh isu strategis seperti konflik dan keputusan negara yang berkaitan langsung dengan keamanan nasional, seperti yang terlihat dalam konflik antara AS dengan Iran yang memanas sejak akhir Februari 2026.

BACA JUGA:  Akuisisi BVNK, Mastercard Gaspol Masuk Dunia Stablecoin

Kontroversi semakin memanas setelah koresponden militer The Times of Israel mengaku menerima ancaman pembunuhan, diduga karena laporannya digunakan untuk menyelesaikan taruhan di Polymarket.

Taruhan Rudal Iran di Polymarket Picu Ancaman ke Jurnalis Israel

Kontroversi Memanas, Pasar Prediksi Belum Menyerah

Meski tekanan regulasi meningkat, pasar prediksi belum menunjukkan tanda mundur. Hingga saat ini, Polymarket masih menyediakan berbagai kontrak taruhan terkait konflik AS-Iran, termasuk kemungkinan pengiriman pasukan darat hingga perubahan kepemimpinan Iran.

Pihak Polymarket sendiri membela model bisnisnya. Mereka menyebut bahwa pasar prediksi justru membantu publik memahami kemungkinan skenario masa depan dengan lebih objektif, terutama di tengah situasi penuh ketidakpastian.

“Prediction markets bisa memberikan jawaban yang tidak bisa diberikan oleh TV atau media sosial,” tulis mereka dalam pernyataan terkait taruhan yang berkaitan dengan konflik di Timur Tengah.

BACA JUGA:  JUP Dalam Sorotan Usai 10 Lini Produk Baru Perluas Ekosistem Jupiter

Dengan RUU yang terus bermunculan dan tekanan politik yang meningkat, masa depan pasar prediksi kini berada di persimpangan. Apakah inovasi ini akan tetap berkembang, atau justru terhenti oleh regulasi yang semakin ketat.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait