Pasar Saham AS Mulai Rapuh, Bitcoin Malah Kasih Sinyal Besar Ini

Pasar saham AS mulai menunjukkan tanda-tanda kerapuhan di balik stabilitas indeks utama, namun di saat yang sama Bitcoin justru dinilai mulai memperlihatkan karakter baru yang kian independen dari pergerakan aset berisiko tradisional.

Analisis tersebut disampaikan analis on-chain XWIN Japan di CryptoQuant yang menyoroti lonjakan posisi short di pasar saham AS hingga level historis dalam beberapa waktu terakhir.

Menurut XWIN Japan, peningkatan short interest tersebut bukan sekadar mencerminkan pesimisme pasar. Ia menilai institusi besar justru masih mempertahankan posisi long dalam jumlah besar sambil memperkuat strategi hedging, sehingga menciptakan lingkungan pasar dengan leverage sangat tinggi di Wall Street.

Data terbaru menunjukkan gross leverage hedge fund mendekati 293 persen, sementara Days-to-Cover dan eksposur short berbasis dolar di indeks S&P 500 juga mencapai level tertinggi sepanjang sejarah.

Bitcoin Mulai Bergerak dengan Siklusnya Sendiri

XWIN Japan menjelaskan bahwa konsentrasi modal ke saham-saham AI berkapitalisasi besar menjadi salah satu penyebab utama kondisi tersebut. Arus dana terus mengalir ke segelintir perusahaan teknologi raksasa, sementara saham sektor lemah dan kapitalisasi kecil justru mengalami peningkatan aktivitas short secara agresif.

Kondisi itu membuat indeks seperti S&P 500 terlihat relatif stabil di permukaan, padahal struktur internal pasar dinilai semakin rapuh. Situasi tersebut dinilai penting bagi Bitcoin karena selama ini aset kripto terbesar itu kerap bergerak searah dengan saham AS saat pasar memasuki fase risk-off besar.

BACA JUGA:  Siap Siaga! Harga Bitcoin Bisa Demam Parah ke Bawah 50 Ribu Dolar

XWIN Japan pun mengingatkan bahwa saat crash COVID-19 tahun 2020, Bitcoin ikut jatuh bersama pasar saham dan gagal berfungsi sebagai safe haven tradisional. Bahkan sepanjang periode 2020 hingga 2022, pergerakan BTC dan S&P 500 masih menunjukkan korelasi yang cukup kuat.

Bitcoin CVD 26 mei

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Namun sejak 2025, pola tersebut mulai berubah. Meski indeks saham AS relatif stabil, Bitcoin justru menunjukkan volatilitas yang jauh lebih besar. Tekanan beli Spot Taker CVD serta arus masuk ETF dinilai menjadi faktor yang membuat BTC semakin dipengaruhi oleh siklus likuiditas internal pasar kripto sendiri.

“Bitcoin mulai berevolusi dari aset risk-on murni menjadi hybrid asset yang memiliki struktur pasar sendiri,” ujar XWIN Japan.

Ia menilai apabila ke depan pasar mendapatkan kombinasi kebijakan seperti pelonggaran suku bunga The Fed, pelemahan dolar AS, dan kembalinya arus masuk ETF secara agresif, maka Bitcoin berpotensi berubah menjadi tujuan likuiditas sekunder global dan tidak lagi hanya bergerak mengikuti saham teknologi AS.

BTC Masuk Zona Bahaya, Trader Pantau US$83 Ribu

Di tengah perubahan struktur pasar tersebut, sejumlah analis teknikal juga mulai menyoroti area krusial yang dapat menentukan arah Bitcoin dalam jangka pendek. Analis CryptoZ menilai BTC masih berisiko mengalami tekanan lanjutan apabila harga gagal kembali bertahan di atas area US$80.000.

BACA JUGA:  Harga Bitcoin Masih Bisa Turun Lagi? Data Ini Bikin Deg-degan

BTC analisis cryptoz 26 mei

Dalam analisanya, CryptoZ melihat struktur harga Bitcoin sempat kembali masuk ke dalam range sebelumnya sebelum membentuk dua candle merah beruntun.

Ia memperkirakan market maker berpotensi lebih dulu mendorong harga naik untuk menjebak posisi short terlambat sebelum akhirnya kembali menekan harga turun menuju area US$74.000.

Pandangan serupa datang dari analis Don yang mengamati pergerakan pasar prediksi Kalshi. Menurutnya, trader di platform tersebut mulai pricing kemungkinan breakdown dari ascending channel Bitcoin dengan target penurunan menuju support besar di kisaran US$54.000.

Bitcoin analisis Don 26 mei 26

Meski begitu, Don menilai skenario bearish tersebut akan gugur apabila Bitcoin mampu breakout dan bertahan di atas area US$83.000. Ia juga menyebut struktur pasar mulai menunjukkan tanda pemulihan setelah BTC berhasil keluar dari pola falling wedge.

Dalam analisanya, area US$83.000 menjadi level konfirmasi bullish utama, sementara kehilangan ascending channel berpotensi membuka tekanan lebih dalam menuju area US$54.000.

Trigger Point Ini Bisa Tentukan Arah Pasar Berikutnya

Sementara itu, analis Klondike menyoroti Bitcoin yang saat ini berada di area penentuan arah penting pada time frame 6 jam. Dalam grafik yang dibagikannya, level US$76.473 ditandai sebagai trigger point utama jangka pendek setelah harga beberapa kali bergerak bolak-balik di zona tersebut.

BACA JUGA:  Prabowo Lengser Sebelum 2027? Taruhan di Polymarket Bikin Heboh!

BTC analisis KL 26 mei

Menurut Klondike, reaksi harga di area itu akan menentukan apakah Bitcoin mampu melanjutkan recovery atau justru kembali masuk ke fase bearish. Di sisi bullish, ia melihat peluang kenaikan terbuka apabila BTC berhasil merebut kembali resistance utama di kisaran US$77.600 hingga US$78.250.

Zona tersebut dinilai sebagai supply area penting yang sebelumnya beberapa kali menjadi titik rejection harga. Jika breakout valid berhasil terjadi dan harga mampu bertahan di atas area tersebut, momentum bullish diperkirakan dapat mendorong Bitcoin menuju area US$82.000 hingga US$82.500.

Namun sebaliknya, Klondike juga memperingatkan risiko penurunan apabila BTC gagal mempertahankan trigger point US$76.473. Dalam proyeksinya, kehilangan level tersebut dapat membuka ruang koreksi menuju support kuat di area US$74.350 yang sebelumnya sempat menjadi zona pantulan yang kuat.

Karena itu, area antara US$76.400 hingga US$78.250 kini dipandang sebagai “area perang” utama yang akan menentukan arah Bitcoin dalam beberapa hari mendatang.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait