Punya modal Rp1 juta dan ingin mulai mendapatkan passive income dari kripto? Ada beberapa cara yang bisa dicoba tanpa harus terus memantau grafik atau aktif trading crypto harian.
Peluangnya juga cukup beragam. Selain menyimpan aset, pemilik kripto bisa memperoleh imbal hasil dari staking hingga menyediakan likuiditas di ekosistem DeFi.
Namun, setiap metode punya tingkat risiko yang berbeda. Karena itu, memahami cara cari passive income dari kripto menjadi penting agar potensi keuntungan tetap sejalan dengan risiko yang diambil.
Kenapa Kripto Bisa Digunakan untuk Mencari Passive Income?
Konsep passive income kripto sebenarnya tidak jauh berbeda dengan menempatkan modal pada instrumen keuangan yang dapat menghasilkan imbal hasil secara berkala.
Mirip Deposito, Dividen Saham hingga Reksa Dana
Konsepnya kurang lebih mirip instrumen keuangan lain. Deposito memberikan bunga, saham tertentu membagikan dividen, sedangkan reksa dana menawarkan potensi pertumbuhan nilai dari aset yang dikelola.
Di kripto, sumber imbal hasilnya berbeda. Pemilik aset bisa mendapat reward dari staking crypto, produk di platform tertentu, lending hingga biaya transaksi dari aktivitas penyediaan likuiditas.
12 Cara Trading Bitcoin Harian yang Efektif dan Minim Risiko
Artinya, passive income kripto tidak selalu datang dari kenaikan harga aset. Dalam beberapa mekanisme, aset yang disimpan atau digunakan dalam jaringan juga dapat menghasilkan imbalan.
Namun, tingkat risiko setiap metode berbeda. Produk sederhana relatif mudah dipahami, sedangkan strategi DeFi biasanya membutuhkan pemahaman lebih mendalam soal likuiditas, volatilitas dan pengelolaan posisi.
Passive Income Kripto Tetap Punya Risiko
Meski terlihat menarik, passive income kripto memiliki risiko yang lebih tinggi dibandingkan deposito, saham maupun reksa dana. Potensi imbal hasil yang besar biasanya datang bersama risiko yang ikut meningkat.
Harga Bitcoin, Ethereum, Solana dan juga aset kripto lainnya bisa bergerak cepat. Return staking 5 persen per tahun, misalnya, belum tentu menutup kerugian jika harga aset turun 20 persen.
Stablecoin memang relatif lebih stabil karena dirancang mengikuti aset tertentu, seperti dolar AS. Namun, risiko depeg, masalah platform, smart-contract hingga perubahan tingkat imbal hasil tetap perlu diperhatikan.
Risikonya bisa semakin besar ketika masuk ke DeFi. Penyedia likuiditas dapat mengalami impermanent loss, keluar dari rentang harga, atau terkena dampak pergerakan pasar yang ekstrem.
Karena itu, yield tinggi sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai keuntungan pasti. Semakin besar imbal hasilnya, semakin penting memahami sumber keuntungan dan risiko di baliknya.
Cara Dapat Passive Income dari Kripto
Dengan modal sekitar Rp1 juta, terdapat beberapa pendekatan yang dapat dipertimbangkan. Pilihannya bisa disesuaikan dengan toleransi risiko serta seberapa aktif aset ingin dikelola.
1. Menyimpan Stablecoin pada Platform Rertentu
Salah satu cara mednapatkan passive income dari aset kripto yang relatif sederhana adalah menyimpan stablecoin seperti USDT atau USDC pada platform yang memberikan imbal hasil.
Mekanismenya terbilang cukup mudah. Stablecoin disimpan dalam periode tertentu, kemudian pengguna memperoleh imbalan berdasarkan persentase yang berlaku di platform tersebut.
Cara Dapat Passive Income Rp5–10 Juta Per Bulan Modal Stablecoin
Sebagai ilustrasi, modal Rp1 juta dengan imbal hasil 5 persen per tahun secara matematis dapat menghasilkan sekitar Rp50.000 dalam setahun, sebelum memperhitungkan biaya dan perubahan tingkat imbal hasil.
Cara ini mudah dipahami pemula karena nilai stablecoin cenderung lebih stabil dibandingkan aset kripto lain. Namun, risiko platform, depegging dan perubahan imbal hasil tetap perlu diperhatikan.
2. Staking Aset Kripto
Alternatif berikutnya adalah staking. Mekanisme ini memungkinkan pemilik aset mendapatkan reward dengan mengunci atau mendelegasikan kripto untuk membantu proses validasi jaringan blockchain.
Beberapa aset besar yang mendukung staking antara lain Ethereum dan Solana. Besaran reward yang diterima bisa berbeda tergantung jaringan, metode staking kripto dan kondisi pasar.
Sebagai contoh, modal Rp1 juta dengan estimasi reward 6 persen per tahun secara matematis dapat menghasilkan sekitar Rp60.000 dalam setahun dalam bentuk aset kripto.
Namun, nilai akhirnya tetap mengikuti harga aset. Jika harga koin turun cukup dalam, nilai portofolio bisa tetap berkurang meskipun jumlah token dari staking terus bertambah.
3. Menjadi Liquidity Provider dengan DLMM
Untuk pengguna yang sudah memahami DeFi, passive income kripto juga dapat dicari dengan menjadi liquidity provider melalui mekanisme Dynamic Liquidity Market Maker (DLMM) di Meteora atau platform lain.
DLMM membagi likuiditas ke dalam beberapa rentang harga atau bin. Penyedia likuiditas kemudian memperoleh bagian trading fee ketika transaksi terjadi pada area tempat modal ditempatkan.
Strategi ini dapat diterapkan pada pasangan aset besar seperti SOL-USDC, ETH-stablecoin atau pasangan kripto lain yang memiliki likuiditas dan volume perdagangan cukup tinggi.
Sebagai simulasi, modal Rp1 juta dibagi secara double-sided. Sekitar Rp500.000 ditempatkan pada SOL dan Rp500.000 lainnya dalam stablecoin.
Jika posisi menghasilkan rata-rata fee 0,05 persen per hari, secara matematis hasilnya sekitar Rp500 per hari atau Rp15.000 per bulan.
Namun, angka tersebut hanya simulasi. Return dari strategi DLMM sebenarnya sangat bergantung pada volume perdagangan, lebar rentang, biaya transaksi dan seberapa lama posisi tetap aktif.
Jika harga bergerak keluar dari rentang, posisi dapat berhenti menghasilkan fee. Selain itu, perubahan harga yang tajam juga dapat menimbulkan impermanent loss.
Jangan Hanya Mengejar Yield Paling Tinggi
Pada akhirnya, cara cari passive income dari kripto bukan sekadar mencari imbal hasil paling besar. Sumber keuntungan dan juga risiko di baliknya justru perlu diperhatikan sejak awal.
Stablecoin relatif lebih sederhana, staking cocok untuk aset yang ingin disimpan lebih lama, sedangkan DLMM menawarkan potensi fee lebih tinggi dengan pengelolaan yang lebih aktif.
Modal Rp1 juta sudah cukup untuk mulai memahami strategi investasi. Fokus awalnya tidak perlu langsung mengejar hasil besar, tetapi mengenali hubungan antara yield, risiko dan volatilitas.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


