Pemerintah Malaysia Akan Verifikasi Ijazah Pakai Blockchain NEM

124

Kementerian Pendidikan Malaysia membentuk konsorsium universitas untuk menggunakan teknologi blockchain demi memerangi besarnya jumlah ijazah palsu, Coindesk melansir (9/11). Hal ini menandakan sikap Kementerian Pendidikan yang bertekad mereformasi dan menjaga mutu pendidikan tinggi di Malaysia.

Dalam rilis pers melalui Twitter pada Kamis (8/11), Kementerian Pendidikan mengumumkan bahwa bersama dengan konsorsium enam universitas, mereka telah meluncurkan sistem berbasis blockchain yang dinamakan e-Scroll untuk penerbitan dan verifikasi ijazah universitas. Universitas yang ikut serta dalam konsorsium tersebut adalah International Islamic University Malaysia sebagai ketuanya, Universitas Utara Malaysia, Universitas Teknologi Malaysia, Universitas Malaysia Sabah, Universitas Malaysia Trengganu dan Universitas Teknologi MARA.

Konsorsium ini dibentuk untuk mempelajari adopsi blockchain dan mengembangkan sistem verifikasi ijazah. Selain itu, konsorsium tersebut juga bertujuan memberikan pelatihan dan pengembangan teknologi blockchain bagi para mahasiswa dan akademisi. Secara jangka panjang, target konsorsium enam universitas itu adalah memberikan solusi blockchain standar industri yang berpotensi memberi penghasilan bagi universitas anggota konsorsium.

Pihak Kementerian berkata solusi ini diciptakan sebagai respon terhadap meningkatnya jumlah kasus ijazah dan sertifikat palsu yang bisa didapatkan secara mudah melalui Internet. Selain itu, kementerian juga ingin menjaga nama baik universitas di Malaysia dan melindungi mahasiswa yang taat aturan.

Mengutip laporan BBC Radio pada Januari yang menemukan luar biasanya jumlah perdagangan ijazah dan palsu, Kementerian Pendidikan berkata, “Pembeli ijazah palsu siap merogoh kocek sampai lima ratus ribu poundsterling demi mendapatkan dokumen palsu. Skenario semacam ini bukan tidak lazim terjadi di Malaysia.”

Pihak kementerian menyatakan ide sistem berbasis blockchain diutarakan pertama kali pada Januari 2018 oleh Majelis Dekan-Dekan ICT (MADICT). Kementerian Pendidikan dan MADICT percaya blockchain dapat memperbaiki efisiensi dan membuktikan asal muasal ijazah.

Rilis pers kementerian tersebut menyatakan universitas-universitas Malaysia saat ini menerima ribuan permintaan secara global untuk memverifikasi lulusannya. Proses verifikasi ini sebagian besar masih dilakukan secara manual melalui telefon dan surel, sehingga masih sangat tidak efisien.

Dikembangkan oleh tim dari International Islamic University (IIUM) yang dipimpin oleh Profesor Dato Dr Norbik Bashah Idris, Kementerian Pendidikan berkata bahwa sistemnya menyimpan data ijazah menggunakan blockchain NEM yang menyediakan verifikasi daring dalam hitungan detik ketika QR code yang dicetak pada ijazah dipindai.

“Walaupun sistem demikian dapat dibangun menggunakan blockchain lain, NEM dipilih karena fitur uniknya yang dapat mengelola pelacakan dan persyaratan keaslian,” jelas Kementerian Pendidikan.

Dalam versi awal proyek ini, proses verifikasi dapat dilakukan dari mana saja di dunia selama ada koneksi internet, dan prosesnya hanya membutuhkan beberapa detik saja. Untuk fase pertama, mahasiswa PhD dari IIUM yang lulus pada 10 November akan memiliki ijazah mereka dicatat dalam sistem tersebut, sehingga keaslian ijazah mereka dapat diverifikasi secara instan di seluruh dunia.

Pihak kementerian berkata mereka mengundang sekolah dan universitas lain untuk bergabung ke dalam konsorsiumnya. [ed]

Ikuti media sosial kami

Ingin Beriklan? Hubungi Kami