Pemerintah Tiongkok: Kripto Anonim Itu Cuma Gimmick Pemasaran

Pemerintah Tiongkok kembali menyoroti anggapan bahwa aset kripto dapat digunakan untuk memindahkan dana secara anonim tanpa meninggalkan jejak.

Kementerian Keamanan Negara Tiongkok atau Ministry of State Security (MSS) menyebut klaim mengenai kripto anonim dan transaksi yang tidak dapat dilacak pada dasarnya hanya menjadi gimmick pemasaran yang kerap dimanfaatkan pelaku kejahatan.

Melalui akun WeChat resminya pada Senin (28/9/2026), MSS menerbitkan artikel bertajuk “Kejahatan Mata Uang Virtual yang Tak Terlacak? Pikirkan Lagi!” Otoritas tersebut menyoroti kesalahpahaman bahwa sifat desentralisasi dan transaksi peer-to-peer dapat memutus hubungan antara kepemilikan kripto dan identitas seseorang.

Menurut MSS, pengguna mungkin tidak mencantumkan nama asli secara langsung ketika melakukan transaksi blockchain. Namun, alamat wallet hanya memberikan pemisahan sementara antara alamat tersebut dan identitas pemiliknya, bukan menjadikan identitas benar-benar tidak dapat ditemukan.

“Anonimitas transaksi hanyalah ilusi, sementara atribut anonim kripto merupakan proposisi keliru” tulis artikel tersebut.

Jejak Kripto Anonim Tetap Terekam di Blockchain

MSS menilai narasi kripto anonim menjadi menarik bagi pelaku kejahatan karena menawarkan kesan bahwa dana dapat bergerak tanpa pengawasan sistem keuangan tradisional. Namun, karakter blockchain justru membuat sebagian besar aktivitas on-chain meninggalkan rekam transaksi yang dapat dianalisis kembali.

BACA JUGA:  Harga XRP Mulai Kirim Sinyal Bullish, Tapi Sejarah 2022 Bikin Waspada

Setiap transaksi pada blockchain publik dicatat dalam ledger dan pada umumnya tidak dapat dihapus atau diubah setelah terkonfirmasi. Jejak tersebut memungkinkan analis menghubungkan perpindahan aset dari satu wallet ke wallet lain, termasuk ketika pelaku memecah dana atau memindahkannya melalui beberapa jaringan.

Identitas juga berpotensi terungkap ketika aset berpindah antara kripto dan mata uang fiat atau melewati platform yang mengumpulkan data pengguna. MSS menyebut informasi seperti catatan platform, perangkat hingga alamat IP dapat dikombinasikan dengan analisis blockchain untuk membantu mengidentifikasi pengguna di balik suatu wallet.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Pemerintah Tiongkok menyoroti pencucian uang, serangan siber dan aktivitas spionase sebagai beberapa risiko yang berkaitan dengan penyalahgunaan aset digital. Klaim mengenai kripto anonim, menurut otoritas tersebut, dapat dimanfaatkan untuk meyakinkan pelaku bahwa dana ilegal bisa dipindahkan tanpa konsekuensi.

BACA JUGA:  Crypto Ikut Tentukan Politik Inggris? Rp1,44 Triliun Mengalir ke Farage

Kasus Bitget Tunjukkan Sulitnya Benar-benar Menghilangkan Jejak

Pernyataan tersebut muncul ketika industri kripto masih mengikuti pergerakan dana dari insiden keamanan Bitget. Bursa itu mengonfirmasi melalui pembaruan resminya bahwa sekitar US$387,5 juta aset telah dipindahkan ke alamat yang dikendalikan penyerang dalam insiden pada 24 September 2026.

Jumlah itu direvisi naik dari estimasi awal US$351,6 juta setelah Bitget memasukkan transaksi pada jaringan Zcash dan TRON. Perusahaan menegaskan kenaikan tersebut bukan berasal dari serangan baru, melainkan hasil klasifikasi transaksi yang lebih lengkap.

Perkembangan berikutnya justru memperlihatkan bagaimana dana yang berusaha disamarkan masih bisa diikuti.

Investigator on-chain ZachXBT mengungkapkan bahwa sejumlah aktor ilegal Tiongkok diduga membantu mencuci dana hasil eksploitasi Bitget atas nama penyerang yang diduga terkait DPRK atau Korea Utara.

Menurut temuannya, kelompok tersebut melakukan chain-hopping menggunakan bridge dan mengirim dana ke layanan pencampuran seperti Wasabi.

Ironisnya, beberapa pihak yang diduga terlibat disebut secara terbuka meminta bantuan untuk memproses transaksi melalui server Discord dan kanal Telegram yang digunakan layanan tersebut. ZachXBT mempublikasikan lima alias beserta akun dan transaction hash yang dikaitkannya dengan aktivitas tersebut.

BACA JUGA:  Meme Coin x Saham Makin Panas, Robinhood Chain Cetak Rekor Baru

Salah satu alias bahkan diklaim pernah terpantau membantu memindahkan dana dari eksploitasi Kelp DAO senilai sekitar US$292 juta pada awal tahun ini. Temuan itu masih merupakan hasil investigasi ZachXBT dan belum menjadi penetapan resmi aparat penegak hukum.

Kasus Bitget dengan demikian menunjukkan batas dari gagasan kripto anonim. Pelaku memang dapat menggunakan bridge, berpindah blockchain dan memakai layanan pencampuran untuk mempersulit investigasi.

Namun, serangkaian transaksi tersebut tetap dapat meninggalkan potongan jejak digital yang kemudian dirangkai kembali melalui analisis on-chain dan informasi dari luar blockchain.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait