spot_img
spot_img

Penambang Bitcoin Tiongkok Minggat, Warga Georgia Banjir Pesanan Gedung

Minggatnya sejumlah besar penambang Bitcoin dari Tiongkok ke luar negeri, ternyata memberikan berkah tersendiri. Seorang warga Georgia mengaku kebanjiran pesanan. Sejumlah pengelola tambang itu berkali-kali meneleponnya untuk menyiapkan gedung khusus di negara bekas Uni Soviet itu.

Sejak Mei 2021, penambang Bitcoin di Tiongkok tengah-tengah bersiap kemungkinan terburuk kegiatan mereka akan ditutup selama-lamanya.

Jadilah pada Juni, sejumlah besar sentra tambang sudah ditutup, itu dimulai pada April di Inner Mongolia, menyusul Xinjiang. Kemudian yang teranyar adalah Yunnan dan Sichuan.

Beijing mengklaim adalah membersihkan Tiongkok dari lebih dari 90 persen hingga Juli 2021.

Penambang pun bersiap pindah ke luar negeri agar tetap bisa bertahan hidup. Ada yang sudah mengirimkan alat-alatnya ke Maryland, Amerika Serikat. Ada pula yang ke Kazakhstan.

Sejumlah pakar pun memperkirakan produksi kripto nomor wahid itu akan meningkat di tempat lain karena penambang Tiongkok mengirimkan mesin mereka, sebagian menjualnya atau mencari “perlindungan” di luar negeri, walaupun di negeri tujuan energi listrik terbarukan dan murah masih sedikit.

“Baik dalam jangka pendek dan menengah, tambang Bitcoin kemungkinan akan masih meningkatkan emisi karbon yang terkait dengan penambangan bitcoin,” kata Alex de Vries, Pendiri Digiconomist kepada Reuters, Selasa (29/6/2021).

Banjir Pesanan Gedung di Georgia

Adalah Shota Siradze, warga negara Georgia di kota Tbilisi yang kebanjiran pesanan itu. Dia sudah lama menjalankan bisnis kripto, spesialis penyedia gedung-gedung untuk tambang kripto.

Siradze mengaku teleponnya mulai berdering lagi sejak minggu lalu setelah berbulan-bulan “senyap”.

“Orang-orang mulai banyak menelepon saya, meminta untuk menemukan gedung untuk memasang mesin tambang dalam jumlah besar. Sebagian besar pesanan datang dari Tiongkok yang baru saja membeli mesin-mesin baru,” ujarnya.

Di Georgia memang banyak tambang kripto, termasuk Bitocin, karena sumber listrik bertenaga air yang relatif murah di sana.

Permintaan listrik pun semakin besar di wilayah itu, hingga sempat ada pemadaman listrik bergilir di kota lain di Abkhazia. Di kota itu pula penambang kripto sudah dilarang baru-baru ini.

Sejumlah peneliti memastikan pula, penambang Tiongkok hijrah ke Kazakhstan, yang masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil untuk listrik. Atau di Texas yang biayanya tidak jauh lebih murah daripada di Tiongkok.

“Negara lain pada dasarnya dalam kondisi buruk untuk menyambut para Bitcoiner lewat penambang itu,” kata Howson di Universitas Northumbria. [red]

spot_img

Terkini

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Terkait