Pencurian Kripto US$282 Juta Bikin Harga Monero Meledak, Kok Bisa?

Aksi pencurian kripto senilai lebih dari US$282 juta mengguncang pasar aset digital setelah terungkap bahwa seorang pemilik hardware wallet kehilangan Bitcoin (BTC) dan Litecoin (LTC) dalam jumlah besar akibat penipuan rekayasa sosial.

Kasus ini terjadi pada 10 Januari 2026 sekitar pukul 23.00 UTC dan kali pertama diungkap oleh peneliti on-chain ZachXBT pada Sabtu (17/1/2026). Dana hasil kejahatan tersebut kemudian dikonversi ke Monero (XMR), memicu lonjakan pada harga aset kripto yang berfokus privasi tersebut dalam waktu singkat.

Menurut temuan ZachXBT, pelaku berhasil mengecoh korban melalui skema social engineering atau rekayasa sosial, meski korban menggunakan perangkat hardware wallet yang dikenal memiliki tingkat keamanan tinggi.

Dalam skema tersebut, korban diduga tertipu oleh komunikasi palsu yang mengatasnamakan pihak tepercaya, sehingga tanpa sadar memberikan persetujuan atas transaksi berbahaya.

IKLAN
Chat via WhatsApp

“Korban kehilangan lebih dari US$282 juta dalam bentuk Bitcoin dan Litecoin akibat rekayasa sosial terhadap pengguna hardware wallet,” tulis ZachXBT dalam laporan publiknya.

BACA JUGA:  Tragis! Anak Purbaya Rungkad Rp4,9 Miliar Akibat Crypto Crash Hari Ini

Alamat dompet yang telah diungkap menunjukkan total dana yang dicuri mencapai sekitar 2,05 juta LTC dan 1.459 BTC. Setelah dana dikuasai, pelaku segera memindahkan dan menukarnya melalui berbagai jalur lintas jaringan untuk mengaburkan jejak transaksi.

Sebagian besar BTC dan LTC dikonversi ke Monero melalui sejumlah layanan instant exchange. Transaksi dalam volume besar tersebut menyebabkan permintaan Monero melonjak tajam dalam waktu singkat, yang kemudian mendorong harga XMR naik signifikan di pasar saat itu.

Selain itu, sebagian BTC juga dijembatani melalui Thorchain ke jaringan lain seperti Ethereum, Ripple dan Litecoin. Pola ini umum digunakan dalam skema pencucian dana kripto untuk memecah alur transaksi dan menyulitkan pelacakan on-chain.

Pola Pencucian Dana dan Dampak ke Pasar Monero

Aktivitas konversi besar-besaran dari BTC dan LTC ke Monero membuat likuiditas XMR terserap secara cepat. Akibatnya, harga Monero sempat melonjak hingga mendekati US$800, sebelum akhirnya mengalami koreksi.

Seorang analis pasar kripto yang memantau pergerakan tersebut mengatakan bahwa lonjakan ini sangat tidak biasa.

BACA JUGA:  Malaysia Serius Kembangkan Stablecoin Ringgit, Puluhan Proyek Diuji

“Volume pembelian Monero yang masuk dalam waktu singkat menunjukkan adanya arus dana besar dari satu sumber. Ini bukan pergerakan organik pasar,” ujarnya.

Monero dikenal sebagai aset kripto dengan fitur privasi tinggi, sehingga sering digunakan dalam transaksi yang ingin menghindari pelacakan. Dalam kasus ini, penggunaan XMR diduga kuat bertujuan untuk menyamarkan asal-usul dana hasil pencurian kripto.

Meski harga Monero kemudian kembali stabil, peristiwa ini menyoroti bagaimana aktivitas ilegal dalam skala besar dapat memengaruhi dinamika pasar kripto secara signifikan, terutama pada aset dengan likuiditas tertentu.

Data on-chain juga menunjukkan bahwa dana hasil kejahatan tersebut masih tersebar di beberapa jaringan, dengan sebagian masih berada di alamat yang telah diidentifikasi. Namun, sebagian lainnya sudah berpindah melalui berbagai protokol lintas jaringan.

Rekayasa Sosial Jadi Celah Utama Keamanan

Kasus ini kembali menegaskan bahwa ancaman terbesar dalam dunia kripto tidak selalu berasal dari celah teknis, melainkan dari faktor manusia. Meskipun hardware wallet dirancang untuk memberikan perlindungan ekstra, pengguna tetap rentan terhadap manipulasi psikologis.

BACA JUGA:  Triv Buka Akses Obligasi Global Lewat Tokenized Bond ETF

“Perangkatnya aman, tapi pengguna bisa dibuat lengah. Pelaku memanfaatkan kepercayaan korban, bukan mengeksploitasi sistemnya,” ungkap seorang Peneliti Keamanan blockchain.

Modus seperti ini biasanya melibatkan komunikasi palsu yang menyerupai layanan resmi, permintaan verifikasi mendesak, atau instruksi untuk menandatangani transaksi tertentu. Ketika korban mengikuti arahan tersebut, akses terhadap aset kripto bisa berpindah tangan tanpa disadari.

Dalam beberapa tahun terakhir, pencurian kripto berbasis social engineering memang menunjukkan tren meningkat. Pelaku tidak lagi hanya mengandalkan peretasan teknis, tetapi juga memanfaatkan kelemahan perilaku manusia.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait

Iklan Bitget Blockchain Media Indonesia