Pendapatan Robinhood Chain dalam basis mingguan berhasil menyentuh angka tertinggi sepanjang sejarahnya, dan pemicu utamanya bukan datang dari lonjakan pengguna, melainkan dari melonjaknya biaya transaksi akibat perdagangan saham tokenisasi yang makin ramai.
Kalau kamu mengikuti perkembangan dunia kripto belakangan ini, nama Robinhood Chain mungkin sudah cukup sering muncul di linimasa. Chain ini memang baru diluncurkan pada awal Juli 2026, tapi pergerakannya sudah cukup mencuri perhatian, terutama soal pendapatan mingguannya yang tiba-tiba melesat. Yuk, kita bahas lebih dalam apa yang sebenarnya terjadi.
BACA JUGA:Â 10 Proyek di Robinhood Chain yang Harus Kamu Pantau!
Rekor Pendapatan Robinhood Chain dalam Angka
Berdasarkan data rolling 7 hari, pendapatan Robinhood Chain tembus US$1,377 juta pada periode hingga 23 Juli 2026. Angka ini melampaui rekor sebelumnya yang tercatat US$1,211 juta pada 16 Juli, atau naik sekitar 13,7 persen. Kelihatannya seperti kabar baik banget, kan? Tapi ternyata ada plot twist yang perlu kamu ketahui.
Kalau dibandingkan dengan minggu sebelumnya (10-16 Juli), jumlah transaksi di chain ini justru turun 11,6 persen, dari 65,4 juta jadi 57,8 juta transaksi. Volume perdagangan di bursa terdesentralisasi (DEX) pun ikut menyusut hampir 29 persen.
Jadi, dari mana datangnya kenaikan pendapatan tadi? Jawabannya ada di biaya per transaksi, yang justru melonjak 28,6 persen, dari US$0,0185 jadi US$0,0238 per transaksi.

Dengan kata lain, transaksinya lebih sedikit, volumenya lebih kecil, tapi pendapatannya lebih besar. Ini murni cerita soal kenaikan harga gas, bukan pertumbuhan pemakaian jaringan.
Kenapa Biaya Transaksi di Robinhood Chain Bisa Melonjak
Di Robinhood Chain, setiap transaksi membayar biaya dasar blok (base fee) tanpa ada biaya prioritas tambahan. Artinya, pendapatan chain ini murni hasil dari gas yang terpakai dikalikan base fee, dan base fee sendiri baru naik kalau blok-bloknya penuh alias makin ramai dipakai.
Sekitar 3 poin persentase dari kenaikan 13,7 persen tadi berasal dari apresiasi harga ETH, sisanya murni karena kepadatan jaringan yang mendorong base fee naik.
Nah, pemicu kepadatan ini ternyata datang dari satu hal spesifik, yaitu perdagangan saham tokenisasi (stock token) yang meledak dalam waktu singkat. Volume pasangan saham tokenisasi Robinhood melonjak dari US$0,6 juta pada 13 Juli menjadi US$114,4 juta pada 23 Juli, atau setara 15,7 persen dari total volume DEX di chain ini, naik drastis dari sepuluh hari sebelumnya yang cuma 0,06 persen.

Transaksi saham tokenisasi ini juga tergolong “boros gas” karena butuh banyak langkah (hop) dalam satu kali eksekusi, kebanyakan melalui Uniswap v3 dan v4. Makanya, pada 23 Juli, rata-rata biaya transaksi mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah chain ini yaitu US$0,0422 per transaksi, meski jumlah transaksinya justru lebih sedikit dibanding hari-hari sebelumnya.
Sementara itu, memecoin masih menjadi penyumbang volume terbesar di chain ini, berkisar 59 hingga 81 persen dari total volume DEX. Namun porsinya perlahan menurun, dan gas yang dibutuhkan per transaksinya juga lebih ringan dibanding transaksi saham tokenisasi.
Fondasi di Balik Lonjakan Pendapatan Robinhood Chain
Kenaikan pendapatan Robinhood Chain ini juga dibarengi dengan pertumbuhan Total Value Locked (TVL) yang cukup signifikan, dari US$256 juta menjadi US$573 juta hanya dalam sepuluh hari. Protokol seperti Morpho, Ethena, Maple, dan Spark semuanya mencatat kenaikan dana yang terkunci. Pasokan stablecoin di chain ini pun ikut membengkak dari US$268 juta jadi US$462 juta.
Sejak diluncurkan pada 1 Juli 2026, Robinhood Chain memang langsung mencatatkan pertumbuhan pesat dengan total value locked sekitar US$312 juta dan 3,6 juta transaksi harian, meski aset tokenisasi dunia nyata (real-world assets) awalnya hanya menyumbang porsi kecil dibanding memecoin dan stablecoin. Artinya, modal riil yang masuk ke chain ini memang mendukung transaksi yang lebih besar dan kompleks, bukan sekadar transaksi yang lebih banyak.
Perkembangan terbaru juga menunjukkan tren yang makin menguat. Melansir laman Coindesk, per 25 Juli 2026, aset tokenisasi dunia nyata di Robinhood Chain melonjak sekitar lima kali lipat dalam kurang dari dua minggu menjadi sekitar US$70 juta, dengan sejumlah saham tokenisasi seperti GameStop, Nvidia, dan SpaceX masing-masing mencatatkan volume perdagangan harian di atas US$500 ribu, bahkan ada yang menembus US$1 juta.
BACA JUGA:Â To The Moon! Segini Nilai Bitcoin Elon Musk Setelah SpaceX IPO!
Apa yang Perlu Kamu Perhatikan ke Depan?
Perlu kamu ingat, rekor pendapatan Robinhood Chain ini bertumpu pada faktor yang paling rentan berubah, yaitu harga gas. Kalau minat terhadap perdagangan saham tokenisasi mereda, base fee bisa turun lagi, dan pendapatan berpotensi anjlok lebih cepat dibanding penurunan aktivitas itu sendiri.
Beberapa indikator seperti jumlah pengguna aktif harian dan volume DEX pun sebenarnya sudah menunjukkan tren melandai, hanya biaya per transaksi saja yang masih naik.
Di sisi lain, ada juga sisi positif yang patut diapresiasi. Dalam waktu sepuluh hari saja, saham tokenisasi berhasil naik dari yang tadinya nyaris tidak terlihat menjadi 16 persen dari total volume chain, dibarengi dengan TVL yang berlipat ganda.
Perlu diingat juga, Robinhood Chain ini baru diluncurkan akhir April, jadi secara skala tahunan pendapatannya masih berada di kisaran US$72 juta. Artinya, rekor demi rekor mingguan seperti ini memang masih relatif mudah tercipta di tahap awal pertumbuhan chain.
Jadi, Akankah Tren Pendapatan Robinhood Chain Ini Bertahan?
Momentum kenaikan pendapatan Robinhood Chain jelas menarik untuk terus kamu pantau, apalagi kalau kamu tertarik melihat bagaimana keuangan tradisional dan teknologi blockchain semakin berpadu lewat konsep aset tokenisasi.
Namun, seperti yang sudah dibahas, rekor ini masih rapuh karena bergantung pada satu variabel yang mudah berubah, yaitu tingkat kepadatan jaringan.
Singkatnya, kenaikan pendapatan mingguan Robinhood Chain terjadi bukan karena makin banyak orang memakai jaringannya, melainkan karena transaksi saham tokenisasi yang boros gas mendorong biaya transaksi naik signifikan.
Ke depan, keberlanjutan tren ini akan sangat bergantung pada apakah minat terhadap saham tokenisasi terus tumbuh atau justru hanya gelombang sesaat.
Mau belajar crypto dan blockchain lebih lanjut? Yuk, pelajari selengkapnya hanya di Blockchain Media Indonesia! [msn]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


