Pendiri BitMEX: Perang AS dengan Iran Bisa Picu Reli Bitcoin

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah AS dan Israel menyerang Iran. Namun, bagi sebagian pelaku pasar kripto, setiap eskalasi konflik justru dipandang sebagai peluang.

Dari Medan Perang ke Mesin Pencetak Uang

Dalam blog berjudul iOS Warfare yang terbit Senin (02/03/2026), pendiri BitMEX, Arthur Hayes, menyoroti pola yang menurutnya konsisten sejak 1985. Ia menilai setiap perang AS di Timur Tengah biasanya diikuti pelonggaran kebijakan moneter.

Dalam analisanya, Hayes menyoroti pola historis yang terus berulang, di mana pengeluaran pemerintah AS, khususnya untuk belanja militer dan veteran, melonjak secara signifikan setiap kali konflik di Timur Tengah pecah.

“Seperti yang dapat dilihat, biaya untuk merawat personel militer meningkat dua kali lebih cepat dibandingkan dengan anggaran federal. Dan yang penting, The Fed menurunkan harga uang segera setelah Pax Americana memulai perang pilihannya di Timur Tengah,” tegas Hayes.

IKLAN
Chat via WhatsApp

Menurut Hayes, pola ini berulang: The Fed kerap memangkas suku bunga atau melonggarkan kebijakan, seperti pada Perang Teluk 1990 di era Presiden George H.W. Bush ketika bank sentral memberi sinyal pelonggaran jika konflik berlangsung lebih lama.

BACA JUGA:  BIP 360: Fondasi Baru Bitcoin Menghadapi Ancaman Quantum Computing

“Perkembangan situasi mengarah pada kondisi yang pada akhirnya memerlukan pelonggaran kebijakan untuk mengatasi potensi pelemahan ekonomi yang berlangsung sebelum kenaikan minyak,” demikian tertulis dalam notulen FOMC 21 Agustus 1990 yang dibagikan Hayes.

Suku Bunga The Fed saat Konflik Terjadi - Maelstrom.
Suku Bunga The Fed saat Konflik Terjadi – Maelstrom.

The Fed kemudian memangkas suku bunga pada pertemuan November dan Desember 1990, dengan perang disebut sebagai faktor yang memengaruhi keputusan tersebut. Konflik itu sendiri berakhir pada Maret 1991.

Pola serupa terjadi pasca serangan 11 September 2001, ketika Ketua The Fed saat itu mengusulkan pemangkasan suku bunga federal funds sebesar 50 basis poin karena meningkatnya ketidakpastian.

Bahkan pada 2009, ketika Presiden Barack Obama meningkatkan pengerahan pasukan di Afghanistan, suku bunga sudah berada di titik nol dan quantitative easing berjalan penuh. Likuiditas melimpah menjadi fondasi sistem.

Bagi Hayes, rangkaian peristiwa ini bukan kebetulan, melainkan pola yang terus berulang setiap kali Amerika Serikat terlibat dalam konflik besar yang terjadi di Timur Tengah.

BACA JUGA:  Gila! Crypto Exchange Asal Korsel Salah Kirim 2.000 BTC ke 695 Orang

Konflik AS–Iran 2026 dan Taruhan Besar Bitcoin

Kini, perhatian tertuju pada kelanjutan konflik AS–Iran di bawah Donald Trump. Hayes menilai, semakin lama dan mahal keterlibatan militer berlangsung, semakin besar peluang The Fed memangkas suku bunga atau mencetak uang untuk menjaga stabilitas ekonomi.

Menurut Hayes, logikanya sederhana. Perang membebani fiskal dan pasar keuangan sangat sensitif terhadap gejolak. Jika harga aset turun dan kepercayaan melemah, bank sentral cenderung turun tangan.

“Pada dasarnya, jika melemahnya kepercayaan terhadap ekonomi Pax Americana membuat harga aset turun, The Fed harus segera bertindak. Solusinya, seperti biasa, adalah uang yang lebih murah dan lebih melimpah,” tulisnya.

Dalam konteks itu, aset Bitcoin diposisikan sebagai aset yang diuntungkan oleh likuiditas longgar. Jika suplai uang meningkat dan nilai dolar tertekan, aset dengan pasokan terbatas seperti BTC berpotensi mengalami apresiasi.

Bitcoin vs Geopolitik, Begini Kata Data On-Chain

Meski begitu, Hayes tidak menganjurkan langkah terburu-buru. Ia memilih bersikap wait and see dan menilai momen terbaik untuk masuk pasar adalah ketika The Fed memangkas suku bunga atau kembali mengguyur likuiditas ke sistem.

BACA JUGA:  Whale Pindahkan US$8,3 Miliar Bitcoin ke Binance, Siap Jual?

Pada akhirnya, pertanyaan paling relevan bagi investor kripto saat ini adalah kapan likuiditas akan kembali mengalir deras. Jika pola ini terulang, Bitcoin bisa saja bersiap menyambut reli berikutnya di tengah kondisi geopolitik yang memanas.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait