Kasus drainer Ledger yang ikut menyeret nama CryptoBilis kini memasuki babak baru. Setelah reseller tersebut disorot, dua pendirinya akhirnya buka suara untuk menjelaskan posisi mereka.
Arravind Prabu dan Vimalatheethan menegaskan sudah tidak lagi terlibat dalam operasional CryptoBilis sejak Maret 2026, sekitar tujuh bulan sebelum kasus kehilangan dana pengguna Ledger mencuat.
Pendiri CryptoBilis Tegaskan Sudah Mundur sejak Maret
Melalui pernyataan yang diunggah di akun LinkedIn pribadinya pada Sabtu (10/10/2026), Arravind Prabu menjelaskan bahwa CryptoBilis telah berpindah kepemilikan sejak awal tahun ini.
Perubahan tersebut menandai berakhirnya keterlibatan Arravind dan Vimalatheethan dalam operasional perusahaan. Keduanya mengaku telah menyerahkan seluruh tanggung jawab manajerial, administratif, dan operasional pada Maret 2026.
“Awal tahun ini, CryptoBilis diakuisisi oleh pemilik baru. Sebagai bagian dari proses transisi tersebut, Vimal dan saya secara resmi mengundurkan diri,” tulis Arravind dalam pernyataannya.

Sejak proses serah terima rampung, keduanya mengklaim tidak memiliki akses maupun kendali terhadap sistem CryptoBilis, termasuk backend, basis data pelanggan, riwayat pesanan, hingga kanal komunikasi perusahaan.
Arravind mengatakan keterlibatan mereka setelah akuisisi terbatas. Mereka sempat membantu manajemen baru reseller Ledger sebagai penasihat dan membantu koordinasi sejumlah agenda industri pada masa transisi.
“Kami sempat membantu tim manajemen baru sebagai penasihat dan koordinasi pada sejumlah acara industri penting, termasuk Bitcoin Pizza Day, MyBW, dan PBW, kami tidak lagi memiliki akses atau keterlibatan dalam operasional maupun infrastruktur TI,” tambahnya.
Klarifikasi Muncul saat Investigasi Ledger Mengerucut
Pernyataan Arravind muncul ketika investigasi Ledger mulai mengerucut pada hardware wallet Ledger yang berasal dari CryptoBilis, reseller yang melayani sejumlah pasar di Asia Tenggara.
Ledger pada Senin (12/10/2026) menyatakan bahwa seluruh kasus terkonfirmasi terkait pengurasan dana pada akhir pekan lalu sejauh ini melibatkan perangkat yang dijual melalui CryptoBilis.
Di saat yang sama, perusahaan menegaskan sistem internal dan kanal penjualan langsung Ledger tidak terdampak. Karena itu, perhatian investigasi sementara lebih banyak mengarah pada jalur distribusi perangkat.
Kasus ini sebelumnya mencuri perhatian setelah investigasi Bitquery memperkirakan sekitar US$92,9 juta aset kripto terkuras dari 311 alamat di berbagai jaringan blockchain.
Laporan sebelumnya juga menemukan bahwa CryptoBilis memiliki jejak penjualan di Indonesia, mulai dari situs lokal, marketplace, media sosial, bahkan hingga alamat usaha yang tercatat di Jakarta.
Meski perhatian mengarah ke jalur distribusi, sejauh ini belum ada bukti yang menunjukkan CryptoBilis sengaja memodifikasi cold wallet atau mengetahui adanya manipulasi sebelum produk diterima konsumen.
Siapa yang Mengelola CryptoBilis saat Insiden Terjadi?
Klarifikasi Arravind kemudian memunculkan pertanyaan penting soal siapa yang mengelola CryptoBilis ketika insiden terjadi. Jika serah terima rampung pada Maret, asumsi kasus pada Oktober ini berlangsung di bawah kepemilikan baru.
Arravind menjelaskan bahwa proses akuisisi memang belum diumumkan karena adanya kesepakatan untuk menunda pengumuman, meski para pemasok telah lebih dahulu diberi tahu mengenai perubahan kepemilikan tersebut.
“Berdasarkan perjanjian, seluruh pihak sepakat menunda pengumuman hingga pertengahan Oktober 2026. Sementara itu, seluruh pemasok sebelumnya telah diberitahu mengenai akuisisi perusahaan dan struktur manajemen yang baru,” tuturnya.
CryptoBilis Terseret Investigasi Ledger, Ternyata Punya Toko di Indonesia!
Mereka juga menyatakan tetap terbuka untuk memberikan konteks historis kepada Ledger apabila informasi dari periode kepemimpinan mereka dinilai dapat membantu proses investigasi kasus drainer.
Sementara untuk operasional dan pertanyaan teknis, keduanya mengarahkan komunikasi kepada Nicholas Chang yang disebut sebagai person in charge CryptoBilis di bawah manajemen baru.
Klarifikasi ini memang belum menjawab penyebab insiden. Namun, satu hal menjadi lebih jelas, yakni fokus penyelidikan mengarah pada apa yang terjadi setelah perubahan kepemilikan dan saat distribusi berlangsung.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita Bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


