Penjelasan Bitcoin bagi yang Berusia 40 Tahun ke Atas

Menurut survei Grayscale, usia rata-rata investor kripto adalah 42 tahun. Kendati demikian, kripto lebih mudah dipahami oleh kaum milenial dibanding kelompok usia 40 tahun ke atas. Salah satu kendala memahami kripto adalah penggunaan jargon yang tidak familiar seperti algoritma konsensus dan desentralisasi. Adakah cara memahami Bitcoin yang lebih mudah?

Jawabannya adalah berhenti melihat kripto sebagai mata uang dan melihatnya sebagai teknologi yang mengubah cara Internet dipakai, walaupun tajuk utama Bitcoin adalah sebagai sistem uang elektronik. Dengan pola pikir yang berbeda, kelompok usia 40 tahun kiranya bisa lebih mudah memahaminya, sebab pernah mengalami fenomena serupa ketika Internet baru lahir, dan tahu cara meraih cuan darinya.

Saat itu, Internet hanya bisa dipakai untuk mengirim berkas (file) menggunakan File Transfer Protocol (FTP), teknologi lama dan masih pula digunakan hingga saat ini. Tetapi, seiring bertumbuhnya teknologi itu, periset mengembangkan protokol-protokol baru. Pada tahun 1982, lahirlah Simple Mail Transmission Protocol (SMTP) agar pengguna bisa mengirim surel (surat elektronik) melalui Internet.

Beberapa tahun setelahnya, dikembangkanlah Hypertext Transfer Protocol (HTTP) oleh Tim Berners Lee. Protokol ini berguna untuk mengirim laman web dengan tautan (hyperlink), sehingga terbentuk World Wide Web yang dunia tahu saat ini.

Pada tahun 1994, ditemukan protokol Secure Sockets Layer (SSL) yang memungkinkan pemasukan informasi sensitif, seperti informasi pribadi atau kartu kredit, lewat Internet menjadi lebih aman. Hal ini membuka peluanga bagi usaha-usaha e-commerce, seperti Amazon meraih keuntungan.

Selain itu, tercipta juga protokol lain, termasuk Voice Over Internet Protocol (VOIP) yang merubah cara telekomunikasi lewat internet, serta Real-Time Streaming Protocol (RTSP) yang membuat streaming konten video menjadi kenyataan.

Setiap protokol baru yang lahir merupakan satu langkah lebih maju yang semakin mematangkan Internet dan penggunaannya bagi khalayak ramai. Begitu pula dengan blockchain dan kripto, protokol yang memungkinkan pengiriman uang melalui Internet secara realtime.

Saat ini sudah ada e-banking dan gerbang pembayaran berbasis daring (online). Tetapi sebetulnya prosesnya masih merupakan gabungan antara dunia maya dan dunia nyata. Setiap transaksi masih ditangani di dunia fisik yang lamban dan penuh dengan birokrasi berbelit.

Protokol Bitcoin yang lahir pada tahun 2009 menjadi jawaban terhadap permasalahan tersebut dan merupakan protokol pembayaran yang sepenuhnya daring serta peer-to-peer, sehingga siapapun dapat mengirim uang melalui Internet, tanpa bank atau perantara.

Melalui perbankan, pengguna yang ingin mengirim US$10 juta ke luar negeri harus membayar mahal dan menunggu tiga hingga lima hari. Dengan Bitcoin, uang itu bisa dikirim dalam 10 menit saja, kapan saja dengan biaya yang sangat rendah.

Selain manfaat-manfaat tersebut, Bitcoin adalah uang yang dapat diprogram. Alih-alih memakai jasa pengacara dan bankir investasi, pengguna dapat menciptakan kontrak pintar berisi instruksi keuangan menggunakan kode secara gratis. Teknologi ini mendisrupsi layanan seperti escrow, penerbitan hutang, derivatif, penggalangan dana dan sebagainya.

Sebab itu, banyak investor yang “melahap” Bitcoin dan aset kripto lain, sebelum khalayak ramai menyadari betapa berharganya teknologi kripto tersebut. Bagi yang pernah mengalami kisah awal kelahiran Internet, terlihat protokol Internet mendisrupsi industri yang besar pada saat itu.

SMTP melahirkan surel dan mendisrupsi kantor pos, HTTP melahirkan world wide web dan mendisrupsi media serta periklanan, SSL melahirkan e-commerce dan mendisrupsi ritel fisik, RTSP melahirkan streaming dan mendisrupsi industri hiburan. Bitcoin diperkirakan akan mendisrupsi industri keuangan seperti protokol-protokol internet tersebut. [forbes.com/ed]

Terkini

Warta Korporat

Terkait