Penulis The Bitcoin Standard Prediksi BTC Akan Lampaui Emas dan Makin Stabil

Bitcoin kembali mendapat prediksi besar. Saifedean Ammous, penulis The Bitcoin Standard, menilai BTC bukan hanya berpeluang melampaui emas, tetapi juga dapat menjadi aset yang semakin stabil.

Pandangan itu berangkat dari perdebatan soal pasokan tetap Bitcoin. Bagi Ammous, batas 21 juta BTC bukan kelemahan, melainkan karakter yang justru dapat memperkuat fungsi moneternya.

Fixed Supply Bitcoin Kembali Jadi Perdebatan

Lewat utas yang diunggah pada Selasa (13/10/2026), Ammous menanggapi kritik Profesor Lawrence H. White, penulis Better Money: Gold, Fiat, or Bitcoin?, terkait pasokan tetap Bitcoin.

White menilai pasokan Bitcoin yang tidak dapat menyesuaikan diri terhadap perubahan permintaan membuat harga BTC terlalu volatil untuk menjadi alat tukar yang andal.

Menurut White, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan stablecoin lebih banyak digunakan untuk transaksi. Pasokannya dianggap lebih fleksibel, sementara nilainya dirancang tetap dekat dengan mata uang fiat.

Ammous justru melihat mekanisme itu dari sudut berbeda. Ketika permintaan meningkat sementara pasokan tetap, penyesuaian terjadi melalui kenaikan daya beli, bukan melalui penciptaan unit baru.

“Memegang Bitcoin berarti menggunakan BTC sebagai uang, dan belum luasnya penggunaan Bitcoin sebagai alat pembayaran bukanlah bukti bahwa proses monetisasinya tidak sedang berlangsung,” ujar Ammous.

BACA JUGA:  Harga Bitcoin Mulai Bergerak Sesuai Skenario, Level Ini Jadi Babak Penentunya

Menurutnya, menyimpan BTC untuk mempertahankan daya beli juga dipandang sebagai bentuk penggunaan moneter. Karena itu, minimnya pembayaran menggunakan Bitcoin tidak otomatis menandakan proses monetisasinya gagal.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Dari titik inilah Ammous membawa emas ke dalam perdebatan. Menurutnya, sejarah justru menunjukkan bahwa aset dengan pasokan yang sulit bertambah memiliki karakter yang lebih kuat sebagai penyimpan nilai.

Emas Jadi Pembanding, Bitcoin Dinilai Lebih Langka

Sebagai pembanding, World Gold Council mencatat rata-rata pertumbuhan stok emas di atas permukaan hanya sekitar 1,7 persen per tahun selama 25 tahun terakhir.

Bagi Ammous, rendahnya pertumbuhan pasokan bukan kelemahan emas. Justru karakter itulah yang membantu emas mempertahankan perannya sebagai aset moneter selama periode yang sangat panjang.

Bitcoin kemudian membawa prinsip kelangkaan itu lebih jauh. Berbeda dengan emas yang produksinya masih dapat bertambah, pasokan maksimum BTC telah dibatasi secara permanen pada 21 juta koin.

Ammous juga mengutip Ludwig von Mises yang menyoroti perubahan produksi logam dan permintaan industri sebagai sumber ketidakpastian. Bitcoin, menurutnya, tidak menghadapi dua faktor tersebut.

BACA JUGA:  AI Ubah Peta Bitcoin Mining, Listrik dan Data Center Kini Jadi Aset Paling Diburu

Dengan pasokan BTC yang dapat diprediksi dan tanpa fungsi industri, nilai Bitcoin lebih bergantung pada permintaan moneternya. Ammous menilai struktur tersebut lebih dekat dengan bentuk uang yang benar-benar murni.

“Saya percaya bahwa uang yang paling ideal adalah uang murni, dengan pasokan yang dapat diprediksi dan tanpa kegunaan industri yang bersaing dengan fungsi moneternya,” tegasnya.

Namun, kelangkaan saja belum menjawab kritik utama terhadap BTC, yakni volatilitas. Karena itu, Ammous kemudian mengalihkan argumennya pada perkembangan pasar BTC yang dinilainya mulai matang.

Bitcoin Makin Besar, Volatilitas Makin Turun?

Data Fidelity yang dirujuk Ammous menunjukkan realized volatility Bitcoin cenderung menurun dalam jangka panjang. Temuan serupa juga terlihat dalam data Charles Schwab dan sejumlah penelitian akademik.

Bitcoin Realized Volatility - Saifedean Ammous
Bitcoin Realized Volatility – Saifedean Ammous

Analisis JPMayall bahkan menunjukkan volatilitas terealisasi 252 hari Bitcoin turun menjadi sekitar 1,52 kali volatilitas emas, sehingga jarak gejolak harga kedua aset mulai menyempit.

Gambaran serupa muncul dari penelitian Kim-Oanh Do. Likuiditas BTC dinilai semakin matang, terlihat dari bid-ask spread yang menyempit, dampak harga mengecil, dan guncangan volatilitas yang makin singkat.

BACA JUGA:  Pasar Kripto Anjlok, Bitcoin Jebol US$81.000, Ini 5 Biang Keroknya

“Kapitalisasi pasar dan likuiditas Bitcoin telah tumbuh, sementara volatilitasnya menurun secara signifikan. Ini persis seperti yang saya perkirakan,” tulis Ammous ketika merangkum tren tersebut.

Bagi Ammous, hubungan itu menjadi kunci. Semakin besar kapitalisasi dan likuiditas Bitcoin, semakin dalam pula pasar yang menyerap perubahan permintaan tanpa harus menghasilkan gejolak harga sebesar sebelumnya.

Dari sana muncul proyeksi besarnya. Ammous memperkirakan Bitcoin dapat menjadi semakin stabil seiring kematangannya, bahkan ketika kapitalisasi pasar BTC suatu hari tumbuh melampaui emas.

Jika tren tersebut berlanjut, argumen Ammous akan mendapat ujian sebenarnya saat Bitcoin tumbuh semakin besar. Pertanyaannya, apakah kelangkaan dan likuiditas yang makin dalam benar-benar mampu membuat BTC lebih stabil daripada emas?

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita Bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait