Ini 6 Penyebab Stablecoin Depeg dan Cara Kamu Memitigasinya!

Penyebab stablecoin depeg pada dasarnya adalah gangguan pada cadangan aset, likuiditas, mekanisme penjaga harga, atau keamanan sistem yang membuat kepercayaan pasar runtuh sehingga harga stablecoin menjauh dari nilai patokannya.

Banyak orang menganggap stablecoin sebagai pelabuhan aman di tengah pasar kripto yang naik turun. Kenyataannya, stablecoin tetap punya risiko. Memahami penyebab stablecoin depeg akan membantumu menilai aset digital dengan lebih jernih, apalagi kalau kamu baru mulai berinvestasi. Yuk, kita bahas satu per satu.

BACA JUGA: Begini Cara Tether Untung Rp160 Triliun dari “Mencetak” USDT!

Apa Itu Stablecoin Depeg?

Stablecoin depeg adalah kondisi saat harga pasar sebuah stablecoin menyimpang dari nilai yang seharusnya ia ikuti. Untuk stablecoin berpatokan dolar AS, artinya harganya turun ke bawah atau naik di atas US$1. Melansir laman Coincub, stablecoin yang diperdagangkan di US$0,97 atau US$1,03 sudah tergolong depeg.

Tidak semua penyimpangan harga itu berbahaya. Coincub menjelaskan bahwa ukuran, durasi, dan lokasi penyimpangan menentukan seberapa serius masalahnya. Selisih kecil di satu pasangan perdagangan yang sepi berbeda jauh dengan diskon luas yang disertai penarikan dana yang tersendat.

BACA JUGA:  Uptober Siap Dimulai? Ini Beberapa Katalis yang Bisa Kamu Perhatikan!

Bagaimana Stablecoin Menjaga Nilainya?

Ada tiga cara utama stablecoin menjaga nilainya. Stablecoin berbasis mata uang fiat, seperti USDC dan USDT, menjaga nilai lewat cadangan dan hak penukaran (redemption). Melansir laman Stripe, harga stabil selama pemegang bisa menukarkan token dengan aset yang dijanjikan secara cepat dan mudah.

Stablecoin berbasis kolateral kripto bergantung pada jaminan yang nilainya lebih besar dari token yang diterbitkan. Stablecoin algoritmik tidak punya cadangan sama sekali dan mengatur pasokan token lewat kode. Pada stablecoin yang didukung cadangan, harga ditarik kembali ke US$1 oleh arbitrase.

Melansir laman Coincub, jika token diperdagangkan di US$0,98, trader yang memenuhi syarat bisa membeli 10.000 token seharga US$9.800 lalu menukarkannya menjadi US$10.000.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Selisih US$200 itu menjadi insentif, dan aksi beli serta tukar tersebut mendorong harga kembali ke US$1. Mekanisme ini melemah ketika proses penukaran tersendat, dan di sinilah depeg biasanya bermula.

6 Penyebab Stablecoin Depeg yang Perlu Kamu Tahu

Melansir laman Eco, hampir semua kasus depeg besar sejak 2018 cocok dengan segelintir pola penyebab, dan banyak kejadian besar merupakan gabungan dua atau tiga penyebab sekaligus. Berikut enam penyebab stablecoin depeg yang paling sering muncul.

BACA JUGA: Bukan Cuma USDT! Ini 10 Stablecoin Terbesar yang Menguasai Pasar Kripto 2026

1. Cadangan Aset Bermasalah atau Sulit Dicairkan

Penyebab stablecoin depeg yang paling mendasar adalah cadangan yang hilang nilainya atau tidak bisa diakses. Contohnya USDC pada Maret 2023. Melansir laman Circle, sekitar US$3,3 miliar cadangan USDC, atau sekitar 8 persen dari total, tertahan di Silicon Valley Bank yang ditutup regulator.

Harga USDC sempat turun hingga sekitar 86 sen, lalu pulih setelah pemerintah AS menjamin dana nasabah dan penukaran dibuka kembali. Melansir laman Halborn, lonjakan permintaan penukaran juga bisa memaksa penerbit menjual cadangan dengan harga yang tidak menguntungkan.

2. Likuiditas Pasar yang Tipis

Cadangan yang sehat pun tidak menjamin harga tetap stabil kalau pasarnya sepi. Melansir laman Coincub, di kolam likuiditas (liquidity pool) setiap penjualan satu stablecoin membuat harga bagi penjual berikutnya makin buruk.

Efek ini disebut price impact, dan makin besar kalau ukuran transaksi dibandingkan dengan likuiditas yang tersedia. Akibatnya, diskon kecil di layar bisa berubah menjadi kerugian besar bagi penjual bervolume tinggi.

3. Mekanisme Algoritmik yang Gagal

Stablecoin algoritmik menjaga harga lewat hubungan dengan token lain tanpa cadangan aset nyata. Kasus paling terkenal adalah TerraUSD (UST). Melansir laman The Block, satu UST selalu bisa ditukar dengan LUNA senilai US$1. Saat kepercayaan runtuh, penukaran UST justru mencetak LUNA baru ketika permintaan LUNA sedang anjlok.

UST Depeg
UST Depeg. Foto: Chainalysis

Akibatnya terjadilah spiral kematian (death spiral) dan UST jatuh di bawah US$0,30 hanya dalam beberapa hari pada Mei 2022. Melansir laman Kryptonim, stablecoin berbasis fiat umumnya bisa pulih dari masalah likuiditas jangka pendek, sedangkan stablecoin algoritmik sering runtuh total begitu kepercayaan hilang.

BACA JUGA: 3 Negara ASEAN Gabung Garap Stablecoin Lintas Negara, Indonesia Gak Diajak?

4. Kolateral Kripto yang Anjlok

Stablecoin berbasis kripto menjaga nilainya lewat overkolateralisasi, yaitu jaminan yang nilainya lebih besar daripada token yang beredar. Melansir laman Coincub, protokol DeFi akan menjual jaminan itu ketika batas tertentu terlampaui.

Kalau pasar jatuh cepat atau sepi pembeli, hasil penjualannya bisa kurang dan memicu penurunan harga jaminan lebih jauh. Komposisi jaminan juga penting, karena stablecoin yang dijamin stablecoin lain ikut mewarisi risiko penerbit dan hak penukaran stablecoin tersebut.

5. Kunci Pencetakan Token Dibobol

Ini pola yang makin sering muncul pada 2026, ketika penyerang mencetak token tanpa jaminan sama sekali. Melansir laman Coincub, pada 22 Maret 2026 penyerang membobol kontrak pencetakan Resolv dan mencetak puluhan juta token USR lewat peran istimewa yang dikendalikan satu kunci. Harga USR jatuh ke sekitar US$0,025 hanya dalam 17 menit dan masih mendekati nol hingga Agustus.

Kasus StablR pada Mei 2026 juga serupa, yaitu satu kunci yang bocor dari tiga yang tersedia sudah cukup bagi penyerang untuk mencetak token. Cadangan yang utuh tidak banyak membantu kalau token tanpa jaminan sudah membanjiri pasar.

6. Harga Acuan dan Koneksi Antar protokol yang Rapuh

Depeg juga bisa terjadi hanya di satu tempat. Melansir laman Coincub, saat pasar anjlok pada 10 Oktober 2025, USDe turun di bawah US$0,66 di Binance karena bursa itu menghitung jaminan memakai buku pesanannya sendiri. Harga lokal tersebut tetap memicu likuidasi, padahal di tempat lain proses cetak dan tukar USDe berjalan normal.

USDC and USDe Depeg
USDC and USDe Depeg. Foto: x/gdog97_

Koneksi antar protokol pun bisa menularkan masalah. Pada 2023, Dai ikut tertarik turun ke level USDC lewat fasilitas tukar satu banding satu, padahal Dai masih overkolateralisasi.

Bagaimana Cara Memitigasi Penyebab Stablecoin Depeg?

Langkah pertama adalah mengenali token yang kamu pegang, termasuk penerbit, alamat kontrak, jaringan blockchain, dan apakah itu token asli atau versi jembatan (bridged). Melansir laman Coincub, versi bridged bisa jadi tidak dapat ditukar langsung ke penerbitnya. Periksa juga laporan cadangan, mulai dari tanggal, aset yang dicakup, dan standar pemeriksaannya.

Kemudian sebarkan kepemilikan ke beberapa stablecoin yang titik kegagalannya berbeda, sebab menyimpan beberapa token yang bergantung pada bank, bursa, atau jembatan yang sama tidak banyak mengurangi risiko. Pilih stablecoin yang teregulasi dengan cadangan transparan, dan pantau kestabilan harganya.

Hindari juga memakai stablecoin sebagai jaminan pinjaman berleverage, karena posisimu bisa terlikuidasi walaupun nilai token hanya turun sedikit.

BACA JUGA:  82 Proyek Kripto Ditutup Sepanjang 2026, Cek Akunmu Sekarang!

Sudah Siapkah Kamu Mengenali Penyebab Stablecoin Depeg Sejak Dini?

Singkatnya, penyebab stablecoin depeg meliputi cadangan bermasalah, likuiditas tipis, mekanisme algoritmik yang gagal, kolateral kripto yang anjlok, kunci pencetakan yang dibobol, serta harga acuan dan koneksi antar protokol yang rapuh.

Mau belajar crypto dan blockchain lebih lanjut? Yuk, pelajari selengkapnya hanya di Blockchain Media Indonesia! [msn]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait