Perang Bank vs Kripto Memanas Jelang Voting CLARITY Act 15 September

Pertarungan untuk menentukan masa depan regulasi kripto di AS memasuki fase krusial. Menjelang pemungutan suara prosedural CLARITY Act pada 15 September 2026, industri kripto dan sektor perbankan justru semakin keras berebut pengaruh di Washington.

Ketegangan itu meningkat setelah Senator Cynthia Lummis dan sejumlah senator Republik merilis versi terbaru Digital Asset Market Clarity Act pada Kamis (10/9/2026). Dalam rilis terbarunya, Lummis menyebut lebih dari 114 ketentuan yang diminta anggota Demokrat telah dimasukkan ke dalam rancangan tersebut.

“Kami telah memasukkan lebih dari 114 ketentuan terpisah atas permintaan rekan Demokrat,” ujar Lummis.

Dokumen yang diperbarui tersebut mencapai sekitar 630 halaman dan membawa sejumlah perubahan penting. Salah satunya menyasar platform yang mengklaim beroperasi sebagai keuangan terdesentralisasi (DeFi), tetapi pada praktiknya masih memiliki pihak pengendali.

Platform semacam itu dapat diwajibkan mendaftar ke Commodity Futures Trading Commission (CFTC) dan tunduk pada Bank Secrecy Act. Revisi tersebut juga memperjelas bahwa ketentuan DeFi hanya berlaku pada transaksi spot atau tunai komoditas digital serta memperjelas kewenangan credit union dalam aktivitas aset digital.

BACA JUGA:  USDC Dapat Jalur Baru di Rusia, Potensi Pasar Tembus US$46 Miliar

Namun, perubahan besar itu belum meredakan perselisihan.

Stablecoin Jadi Titik Perang Bank dan Industri Kripto

Salah satu pertempuran terbesar justru terjadi di sekitar stablecoin. Pada 10 September, hampir 80 asosiasi perbankan tingkat negara bagian bersama American Bankers Association (ABA) dan Independent Community Bankers of America (ICBA) kembali mendesak senator mengubah ketentuan CLARITY Act terkait pembayaran bunga, imbal hasil, atau rewards stablecoin.

Dalam surat yang disampaikan kepada para senator, kelompok tersebut menilai masih terdapat celah yang memungkinkan penyedia layanan aset digital menawarkan insentif menyerupai bunga deposito.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

“Konsekuensi keluarnya deposito bagi lembaga keuangan komunitas bukan sekadar teori,” tulis kelompok perbankan tersebut.

Kekhawatirannya sederhana. Jika pemilik dana memperoleh imbal hasil menarik dari stablecoin, sebagian uang yang selama ini berada di deposito bank dapat berpindah ke produk aset digital. Bank kemudian berpotensi kehilangan sumber dana yang biasa digunakan untuk kredit perumahan, usaha kecil dan pembiayaan pertanian.

ICBA bahkan memperkirakan dalam pemodelannya bahwa skenario pertumbuhan stablecoin berbunga dapat mengurangi deposito community bank hingga US$1,3 triliun dan berpotensi memangkas aktivitas pinjaman sekitar US$850 miliar.

BACA JUGA:  Harga XRP Mulai Kirim Sinyal Bullish, Tapi Sejarah 2022 Bikin Waspada

Angka tersebut bukan proyeksi netral mengenai apa yang pasti akan terjadi, melainkan estimasi ICBA yang menjadi salah satu pihak aktif dalam perdebatan regulasi stablecoin.

Di sisi lain, industri kripto juga tidak tinggal diam. Berdasarkan laporan Reuters pada Rabu (9/9/2026), kelompok seperti Stand With Crypto dan Blockchain Association meningkatkan kampanye kepada senator di negara bagian masing-masing selama masa reses Kongres.

Industri aset digital disebut telah mengeluarkan sedikitnya US$190 juta dalam aktivitas politik terkait pemilu 2026, memperlihatkan besarnya kepentingan di balik pertarungan regulasi kali ini.

Voting 15 September Jadi Ujian Besar CLARITY Act

Perhatian berikutnya tertuju pada 15 September. Berdasarkan jadwal resmi Senat AS, cloture motion terhadap upaya membawa H.R. 3633 atau Digital Asset Market Clarity Act ke tahap pembahasan berikutnya dijadwalkan matang pada pukul 14.15 waktu AS bagian timur.

Pemungutan suara tersebut bukan voting final untuk mengesahkan CLARITY Act menjadi undang-undang. Ini merupakan voting prosedural untuk menentukan apakah Senat akan melanjutkan pembahasan RUU itu.

BACA JUGA:  Berita Kripto Terbaru Minggu Ini, dari Bitcoin hingga Tokenisasi RI

Masalahnya, kompromi terbaru belum menyelesaikan seluruh perselisihan. Revisi terbaru tidak membawa perubahan signifikan pada bagian etik, salah satu isu yang masih menjadi hambatan dalam memperoleh dukungan Demokrat.

Dengan demikian, pertarungan CLARITY Act kini jauh lebih besar daripada sekadar menentukan aturan untuk Bitcoin atau aset kripto lainnya.

Di baliknya terdapat perebutan mengenai siapa yang akan mengatur pasar digital AS, seberapa jauh stablecoin boleh bersaing dengan deposito bank, dan apakah Washington dapat mencapai kompromi regulasi sebelum momentum politik saat ini menghilang.

Voting 15 September akan menjadi ujian pertama untuk mengetahui apakah kompromi tersebut cukup kuat untuk membawa CLARITY Act maju, atau justru memperpanjang kebuntuan regulasi kripto AS.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait