Perang insentif di perpetual DEX makin panas pada 2025, dan kamu pasti melihat bagaimana berbagai perp DEX berlomba-lomba menurunkan biaya, membagikan poin, sampai menyiapkan airdrop besar-besaran demi menarik volume. Tapi apakah strategi ini benar-benar sehat? Atau justru hanya menciptakan aktivitas semu yang hilang setelah insentif berhenti?
Yuk, simak ulasan lengkapnya melalui penjelasan berikut ini!
BACA JUGA: 7 Rekomendasi Perp DEX Terbaik yang Bisa Kamu Coba!
Apa Itu Perang Insentif di Perpetual DEX?
Perang ini muncul ketika platform perpetual DEX saling bersaing menawarkan zero fee, airdrop, dan points demi merebut pengguna. Insentif di perpetual dex seperti ini memang bisa memicu volume meledak, tapi tidak semuanya mampu menjaga Open Interest (OI), metrik yang menunjukkan komitmen modal jangka panjang.
Platform seperti Lighter, EdgeX, dan Aster menjadi contoh bagaimana insentif dapat menghadirkan efek luar biasa, namun juga membawa risiko serius soal keberlanjutannya. Berikut ini ulasan bagaimana platform-platform tersebut menggunakan program insentif di dalam layanannya seperti dilansir oleh pengguna X @stacy_muur:
BACA JUGA: 10 Tempat Trading Crypto Tanpa KTP dan Modal Kecil Terbaru!
1. Lighter: Program Zero Fee

Lighter menarik perhatian karena menawarkan zero fee untuk semua trader, ditambah program points farming yang nantinya ditukar menjadi token LITER saat TGE.
Kombinasi ini membuat volume trading mereka langsung meledak karena banyak trader memanfaatkan biaya nol untuk farming sebanyak mungkin. Buat pemula, pendekatan ini memang terlihat menarik, kamu seperti “dibayar” untuk trading.
Tapi dari sisi keberlanjutan, strategi ini berisiko tinggi. Rasio Volume/OI mereka sangat tidak sehat, yang menunjukkan bahwa sebagian besar aktivitas bukan trading sungguhan, tapi farming jangka pendek.
| Metrik | Lighter | Catatan Risiko |
| Rasio Volume/OI (24j) | 8.03 | Angka ini jauh di atas rasio sehat (≤ 3), menandakan aktivitas didorong insentif. |
| Sifat Aktivitas | Farming intensif | Trader menghasilkan sekitar USUS$8 volume untuk setiap US$1 modal. Mengindikasikan aktivitas farming, bukan posisi nyata. |
| Retensi Pasca-Airdrop | Belum terbukti | Belum ada jaminan bahwa pengguna akan bertahan setelah TGE dan airdrop selesai. |
Dan karena belum ada bukti apakah para petani poin ini akan bertahan setelah airdrop selesai, masa depan Lighter sangat bergantung pada apakah mereka bisa mengubah volume insentif menjadi pengguna setia. Jika gagal, volume bisa runtuh dalam semalam.
2. EdgeX: Insentif Terukur dengan Pendapatan Nyata

EdgeX memang menggunakan sistem poin seperti kompetitor lain, tapi pendekatannya lebih terukur. Mereka punya struktur hadiah yang transparan dan secara tegas melarang wash trading, sekaligus menawarkan biaya transaksi lebih rendah dari Hyperliquid. Hasilnya, banyak trader sungguhan yang masuk, bukan sekadar points farmers.
Meskipun rasio Volume/OI mereka awalnya tampak mengkhawatirkan, EdgeX terbukti mampu menghasilkan pendapatan besar ratusan juta dolar per tahun yang mengindikasikan adanya likuiditas dan pengguna nyata.
| Metrik | EdgeX | Catatan Risiko/Keberlanjutan |
| Rasio Volume/OI (24j) | 10.51 | Angka awalnya terlihat mengkhawatirkan, terutama untuk platform baru yang masih didorong insentif. |
| Pendapatan | US$509 juta (tahunan) | EdgeX mencatat pendapatan nyata, sekitar US$41,72 juta dalam 30 hari terakhir, menunjukkan ada trader asli, bukan sekadar petani poin. |
| Tren Rasio | Terus membaik | Rasio Volume/OI menunjukkan peningkatan stabil seiring platform matang, diperkuat oleh metrik yang bersih tanpa kasus wash trading. |
Model insentif mereka masih memengaruhi metrik, tapi tren semakin sehat. Ini membuat EdgeX terlihat lebih siap untuk bertahan jangka panjang dibanding platform yang sepenuhnya bergantung pada program poin.
3. Aster: Hype yang Tinggi, Tapi Fondasi yang Rapuh

Aster sempat mendominasi market perp DEX berkat hype masif dan dukungan langsung dari CZ. Ledakan harga dan volume mereka dibantu oleh airdrop farming serta narasi kuat yang menyebar cepat di komunitas. Namun, sebagian besar pertumbuhan ini lebih didorong oleh euforia dan spekulasi ketimbang organik.
| Metrik | Aster | Catatan Risiko |
| Rasio Volume/OI (24j) | 4.74 | Jauh lebih tinggi dibandingkan Hyperliquid (1,57), menunjukkan aktivitas yang tidak sepenuhnya organik. |
| Rasio Puncak | 58+ | Rasio Volume/OI pernah mencapai lebih dari 58, angka yang sangat mengkhawatirkan untuk sebuah perp DEX. (sehat = <3). |
| Masalah Kredibilitas | Penghapusan oleh DefiLlama | Aster sempat dihapus karena korelasi volume 1:1 dengan Binance, indikasi kuat manipulasi data atau wash trading. |
| Kontrol | Sangat terpusat | Sebanyak 96% token ASTER dikuasai hanya oleh 6 dompet, memperbesar risiko manipulasi internal. |
Risiko jangka panjang Aster cukup besar. Rasio Volume/OI mereka pernah menembus angka ekstrem, ditambah masalah transparansi setelah DefiLlama menemukan korelasi volume 1:1 dengan Binance yang mengindikasikan manipulasi atau wash trading.
Lebih parah lagi, 96% token dikendalikan hanya oleh enam dompet, menunjukkan tingkat sentralisasi yang mengkhawatirkan. Dengan fondasi seperti ini, keberlanjutan Aster hingga saat ini masih sepenuhnya bergantung pada hype, bukan kekuatan produk.
BACA JUGA: 5 Crypto Exchange Tempat Trading Futures di Indonesia
Apakah Zero Fee, Airdrop, dan Points Farming Bisa Bertahan Lama?
Dalam jangka pendek, strategi seperti Zero Fee dan Points Farming memang mampu menarik banyak trader karena mereka bisa menghasilkan volume besar dengan modal kecil. Namun, data menunjukkan bahwa ketika insentif berhenti, Open Interest (OI) justru rendah. Artinya, banyak trader hanya datang untuk mengejar hadiah, bukan karena mereka benar-benar ingin menggunakan platform tersebut.
Situasi ini terlihat jelas pada Lighter dan Aster yang menunjukkan rasio Volume/OI sangat rendah.
Lighter punya teknologi kuat tetapi masih harus membuktikan apakah farmers akan bertahan setelah TGE. EdgeX lebih terukur dengan insentifnya dan memiliki pendapatan nyata, membuatnya sedikit lebih sehat. Sementara Aster berada di titik paling berisiko karena isu kredibilitas dan transparansi data.
Pada akhirnya, model insentif seperti ini ibarat memberi produk gratis dan membayar orang untuk mencobanya: antrean memang panjang, tetapi tidak banyak yang akan kembali setelah hadiahnya hilang.
Lalu, Jika Insentif Berakhir Apa yang Tersisa?
Pada akhirnya, masa depan sebuah perp DEX tidak ditentukan oleh seberapa besar volume yang mereka hasilkan saat musim insentif, tetapi seberapa kuat komitmen pengguna ketika hadiah telah berhenti mengalir. Jika sebuah platform tidak mampu mempertahankan OI yang sehat, tidak ada Zero Fee atau Points Farming yang bisa menyelamatkannya dalam jangka panjang.
Pertanyaannya sekarang, platform mana yang benar-benar sedang membangun fondasi kuat dan mana yang hanya hidup dari hadiah sementara?
Mau belajar crypto dan blockchain lebih lanjut? Yuk, pelajari selengkapnya hanya di Blockchain Media Indonesia! [msn]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



