Perbedaan Bitcoin (BTC) dan Ripple (XRP)

1395

Bitcoin (BTC) dan Ripple (XRP) sama-sama berkapitalisasi besar sejak dulu kala, berdasarkan data dari Coinmarketcap. XRP juga berdaya tarik tinggi karena selain harganya murah, transaksinya cepat dengan biaya kirim rendah.


Berdasarkan data terkini di Indodax, XRP diperdagangkan dengan volume Rp5,4 miliar per hari. Volume ini menunjukkan aset kripto itu digemari investor di Indonesia. Apa perbedaan XRP dengan Bitcoin sehingga pegiat kripto menyimpan dan juga memperjualbelikannya?

Dari sisi tujuan penciptaan, Bitcoin dikembangkan sebagai uang digital untuk pembayaran barang dan jasa. Sedangkan XRP ditujukan sebagai penyelesaian pembayaran (settlement) bagi bank dan jaringan pembayaran, sistem transfer uang dan pertukaran uang.

XRP berlandaskan ide untuk menciptakan sistem transfer aset secara langsung dan real-time yang lebih murah, transparan dan aman dibanding metode pembayaran saat ini, seperti SWIFT yang lazim digunakan bank. XRP dapat digunakan untuk pembayaran transfer komoditas, seperti minyak atau emas.

Sistem pembayaran konvensional menggunakan dolar AS untuk konversi antar mata uang. Hal ini memunculkan biaya pertukaran dan waktu, sehingga transfer bank antar negara membutuhkan beberapa hari untuk diproses.

BERITA TERKAIT  Malam Ini! Webinar Gratis Seputar DeFi, Menuju US$10 Miliar?

Alih-alih dolar AS, dengan mengonversi nilai transfer menjadi XRP, biaya pertukaran dapat dihapus dan proses pembayaran berlangsung dalam hitungan detik.

XRP tidak dirancang sebagai mata uang atau metode pembayaran seperti Bitcoin. Tetapi ada sejumlah pedagang daring yang menerima XRP sebagai alat bayar.

Kedua aset kripto ini berbeda dari sisi pengembang. Bitcoin dikelola oleh sekelompok pengembang mandiri. Bitcoin bergerak di atas sistem desentralistik dan tidak di bawah kendali dan pengawasan oleh bank, pemerintah atau pihak ketiga manapun. Aset kripto nomor satu ini diciptakan oleh sosok pseudononim bernama Satoshi Nakamoto.

Sebaliknya, XRP diciptakan perusahaan resmi bernama Ripple Labs yang memiliki tujuan, sasaran dan investor. Perusahaan ini didirikan pada tahun 2012. Pada tahun 2015-2016, Ripple membuka kantor di Australia, Luksemburg dan Inggris.

Perbedaan paling utama antara Bitcoin dan XRP adalah teknologinya. Bitcoin menggunakan blockchain dengan algoritma konsensus Proof of Work yang dilakukan melalui penambangan. Melalui sistem ini, penambang Bitcoin bersaing mendapatkan imbalan Bitcoin, yakini 6,25 BTC plus biaya transaksi.

BERITA TERKAIT  Altcoin Berpesta! Akankah ini Berlanjut?

XRP tidak ditambang sama sekali. Ripple memakai konsensus iteratif dan jaringan peladen (jaringan komputer server) yang memvalidasi transaksi kripto XRP. Jaringan Ripple dikelola oleh peladen mandiri yang membandingkan riwayat transaksi secara terus-menerus.

Sebab dikendalikan oleh jaringan terbatas, transaksi XRP lebih cepat dibandingkan Bitcoin. Bitcoin membutuhkan waktu rata-rata 10-30 menit untuk konfirmasi transaksi, sedangkan XRP hanya butuh 5 detik.

100 miliar kripto XRP sudah diterbitkan sejak awal, dan baru 38 miliar yang dilepas untuk peredaran di pasar kripto. Sisanya disimpan oleh Ripple Labs dan dapat diterbitkan sewaktu-waktu. Bitcoin tidak memiliki penerbitan awal sama sekali dan pasokan maksimumnya terbatas pada 21 juta BTC.

Ripple Labs menambahkan fitur smart contract untuk merilis 1 miliar simpanan XRP per bulan untuk pendanaan operasional, insentif pelanggan dan penjualan ke investor terakreditasi.

Kripto XRP yang tidak dipakai akan dikembalikan ke simpanan. Saat bulan pertama kontrak ini dijalankan, Ripple hanya memakai 100 juta XRP dan mengembalikan selisihnya, 900 juta XRP.

Perbedaan yang besar soal suplai ini yang membuat harga XRP jauh lebih kecil dibanding BTC. Per Sabtu (08 Agustus 2020), harga BTC adalah Rp170.275.00, sedangkan XRP bernilai Rp4.318 di Indodax.

BERITA TERKAIT  Tertunda 6 Bulan, Justin Sun Akhirnya Makan Malam Bersama Warren Buffet

Bitcoin merupakan aset kripto yang lebih desentralistik dibanding XRP dari sisi kepemilikan. Pasokan BTC tersebar di seluruh dunia, sedangkan 60 persen suplai token XRP dipegang oleh Ripple.

Sebab dikendalikan oleh Ripple Labs, pada tahun 2019 perusahaan ini pernah menuai kontroversi dan dituduh melakukan penjualan sekuritas tidak terdaftar.

Pengacara Ripple membantah XRP adalah sekuritas, tetapi tidak memberikan penjelasan yang memadai tentang kontroversi tersebut.

XRP beberapa kali mengalahkan kinerja BTC sebagai alat investasi. Pada akhir tahun 2017, saat harga BTC meroket, harga XRP sempat menyentuh Rp52.400 di Indodax.

Pertengahan tahun yang sama, pasangan XRP/BTC melambung 56 kali lipat, dari 428 satoshi per XRP menjadi 24200 satoshi per XRP.

Namun kini harganya merosot jauh dan bertahan di bilangan 2526 satoshi per XRP menurut bursa Bittrex. [cointelegraph.com/bernardmarr.com/ed]

Ikuti media sosial kami

INFO IKLAN/AD INFO