Dunia blockchain kembali ramai setelah Robinhood mengumumkan pengembangan Robinhood Chain. Jaringan blockchain ini digadang-gadang menjadi rumah baru bagi aset dunia nyata (RWA).
Sekilas, banyak yang mengira Robinhood Chain hanyalah “Ethereum versi lain”. Padahal, jika ditelusuri lebih dalam, keduanya memiliki tujuan, pendekatan, hingga target pengguna yang cukup berbeda.
Meski sama-sama memanfaatkan teknologi blockchain dan mendukung ekosistem aset digital, Robinhood Chain dan juga Ethereum dibangun dengan visi yang tidak sepenuhnya sama.
Nah, supaya tidak keliru memahaminya, artikel ini akan mengupas tujuh perbedaan Robinhood Chain dan Ethereum. Mulai dari tujuan pengembangan, tingkat desentralisasi, hingga potensi perannya di masa depan.
Sekilas Tentang Robinhood Chain dan Ethereum
Anggap saja Robinhood Chain dan Ethereum sama-sama jalan tol digital. Namun, keduanya dibangun dengan jalur, tujuan, dan fungsi yang berbeda di dalam ekosistem blockchain.
Robinhood adalah Layer-2 yang dikembangkan Robinhood di atas Ethereum. Fokus utamanya menghadirkan tokenized real-world assets seperti saham, ETF, dan instrumen keuangan lainnya.
Apa Itu Robinhood Chain? Kenalan Sama L2 Baru yang Lagi Viral!
Sementara itu, Ethereum merupakan blockchain publik yang menjadi fondasi ribuan aplikasi terdesentralisasi (dApps). Ekosistemnya mencakup DeFi, NFT, GameFi, hingga berbagai proyek tokenisasi.
Meski Robinhood Chain dibangun di atas Ethereum, peran keduanya berbeda. Ethereum menjadi fondasi infrastrukturnya, sedangkan Robinhood Chain lebih berfokus menghadirkan pengalaman investasi yang terintegrasi dengan layanan Robinhood.
1. Tujuan Pengembangan
Perbedaan paling mencolok sebenarnya sudah terlihat sejak awal keduanya dikembangkan.
Ethereum adalah blockchain serbaguna. Siapa pun dapat membangun aplikasi, menerbitkan token, membuat protokol DeFi, hingga mengembangkan berbagai inovasi Web3 tanpa harus meminta izin kepada pihak tertentu.
Robinhood Chain justru memiliki fokus yang jauh lebih spesifik. Blockchain ini dirancang untuk mendukung perdagangan aset RWA, sehingga pengalaman investasi menjadi lebih cepat, sederhana, dan dekat dengan pengguna aplikasi Robinhood.
Singkatnya, Ethereum ingin menjadi “komputer dunia”, sedangkan Robinhood Chain lebih ingin menjadi infrastruktur investasi digital generasi berikutnya.
2. Tingkat Desentralisasi
Kalau membahas soal teknologi blockchain, desentralisasi tentu menjadi topik yang tidak bisa dilewatkan.
Ethereum merupakan blockchain dengan ribuan validator yang tersebar di berbagai negara. Tidak ada satu perusahaan yang mengendalikan jaringan, sehingga pengambilan keputusan dilakukan melalui komunitas dan proses pengembangan yang terbuka.
Sebaliknya, Robinhood Chain memiliki tingkat kontrol yang lebih besar dari pihak Robinhood. Hal ini dilakukan agar integrasi dengan layanan investasi, regulasi, hingga pengalaman pengguna dapat berjalan lebih mulus.
Artinya, Ethereum lebih menonjolkan prinsip desentralisasi, sedangkan Robinhood Chain lebih mengedepankan efisiensi dan integrasi layanan.
3. Target Pengguna
Bayangkan ada dua pusat perbelanjaan.
Yang pertama terbuka untuk siapa saja yang ingin membuka toko sendiri. Yang kedua memang tetap bisa dikunjungi publik, tetapi lebih difokuskan untuk pelanggan dari satu ekosistem tertentu.
Ethereum ditujukan bagi developer, startup blockchain, institusi, hingga pengguna Web3 dari seluruh dunia. Siapa pun dapat membangun aplikasi di atasnya.
Robinhood Chain memiliki target yang lebih spesifik, yakni jutaan pengguna aplikasi Robinhood yang ingin membeli, menjual, atau mengelola aset digital tanpa harus memahami kerumitan blockchain.
Dengan kata lain, Ethereum lebih dekat dengan ekosistem developer, sedangkan jaringan Robinhood Chain adalah ekosistem yagn dirancang lebih dekat dengan investor ritel.
4. Jenis Aset yang Diutamakan
Meski sama-sama mendukung aset digital, fokus keduanya berbeda.
Ethereum sejak lama menjadi rumah bagi ribuan token kripto, stablecoin, NFT, meme coin, hingga berbagai aplikasi DeFi yang berkembang sangat pesat.
Robinhood Chain lebih mengutamakan tokenisasi aset RWA. Artinya, blockchain ini dirancang untuk membawa instrumen seperti saham, ETF, atau aset keuangan tradisional ke dalam ekosistem blockchain.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa Robinhood ingin menjembatani dunia keuangan tradisional (TradFi) dengan teknologi blockchain.
5. Pengalaman Pengguna
Tidak bisa dimungkiri, menggunakan Ethereum secara langsung terkadang masih terasa cukup rumit bagi pengguna baru.
Pengguna harus memahami wallet, seed phrase, biaya gas, hingga berbagai risiko saat berinteraksi dengan aplikasi blockchain.
Robinhood Chain menyederhanakan proses melalui aplikasi Robinhood yang digunakan jutaan orang. Pengguna diharapkan bisa bertransaksi layaknya menggunakan aplikasi investasi biasa tanpa perlu memahami detail teknis.
Pendekatan ini berpotensi membuat adopsi blockchain menjadi lebih mudah bagi masyarakat umum.
6. Biaya Transaksi dan Skalabilitas
Ethereum dikenal memiliki keamanan tinggi, tetapi biaya transaksi di jaringan utamanya (Layer-1) terkadang meningkat ketika aktivitas jaringan sedang padat.
Karena dibangun sebagai Layer-2, Robinhood Chain dirancang untuk menawarkan transaksi yang lebih cepat dengan biaya rendah. Sebagian besar transaksi diproses di luar jaringan utama sebelum akhirnya diselesaikan (settlement) ke Ethereum.
Inilah salah satu alasan mengapa banyak perusahaan kini memilih membangun Layer-2 dibanding menciptakan blockchain baru dari nol.
7. Peran dalam Ekosistem Blockchain
Meski sering dibandingkan, sebenarnya Robinhood Chain dan Ethereum bukanlah pesaing langsung.
Jaringan Ethereum tetap menjadi infrastruktur blockchain terbesar yang menopang ribuan aplikasi terdesentralisasi di seluruh dunia.
Jaringan Robinhood Chain justru memanfaatkan kekuatan Ethereum untuk menghadirkan layanan investasi yang lebih praktis kepada pengguna mainstream.
Ibaratnya, Ethereum adalah kota besarnya, sedangkan Robinhood Chain merupakan kawasan bisnis modern yang dibangun di dalam kota tersebut dengan fungsi yang lebih spesifik.
Apa Itu Real World Assets (RWA)? Ini Pengertian dan Daftar Koinnya!
Tren Adopsi Blockchain Kian Beragam
Perkembangan blockchain kini tidak hanya berfokus pada kripto. Semakin banyak perusahaan teknologi dan keuangan mulai membangun jaringan yang dirancang untuk kebutuhan pengguna dengan fungsi lebih spesifik.
Robinhood Chain menjadi salah satu contohnya. Alih-alih bersaing langsung dengan Ethereum, jaringan ini hadir untuk melengkapi ekosistem blockchain melalui fokus pada RWA dan pengalaman investasi yang lebih sederhana.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


