Token Saham di Kripto vs Saham Konvensional, Apa Bedanya?

Token saham membuat batas antara pasar modal dan kripto menipis. Saham seperti NVIDIA, Apple, atau Tesla kini dapat hadir dalam bentuk token dan diperdagangkan melalui jaringan blockchain.

Sekilas keduanya terlihat serupa karena mengikuti nilai perusahaan yang sama. Namun, cara memiliki, memperdagangkan, menyimpan, hingga risiko pada saham on-chain dan konvensional ternyata berbeda.

Apa Itu Token Saham di Kripto?

Bentuk token saham sendiri tidak selalu sama. Ada yang diterbitkan secara on-chain, ada yang didukung saham asli sebagai aset penopang, dan ada pula produk sintetis yang mengikuti pergerakan harga.

Pada model wrapped token, saham asli biasanya disimpan oleh kustodian dan token diterbitkan dengan dukungan 1:1. Sementara itu, synthetic token mengikuti harga saham melalui oracle tanpa kepemilikan langsung.

Apa Itu Tokenized Stocks? Ini Cara Kerja dan Risikonya!

Karena berjalan di blockchain, token saham dapat disimpan di wallet, dipindahkan secara on-chain, dan pada platform tertentu diperdagangkan lebih fleksibel dibanding saham yang hanya mengikuti jam bursa.

Namun, kepemilikan tokenized stock tidak otomatis memberikan hak yang sama seperti pemegang saham. Hak suara, dividen, hingga mekanisme redemption bergantung pada struktur produk dan penerbitnya.

Lalu, Bagaimana dengan Saham Konvensional?

Saham konvensional merupakan kepemilikan pada perusahaan yang umumnya dibeli melalui broker atau sekuritas. Transaksi berlangsung melalui bursa dengan aturan, jam perdagangan, dan mekanisme penyelesaian yang berlaku.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Pemegang saham memperoleh hak sesuai kelas saham dan aturan pasar modal, termasuk potensi dividen atau hak suara. Pada token saham, hak tersebut belum tentu hadir dalam bentuk yang sama.

BACA JUGA:  Robinhood Salip Binance, Holder Token Saham Tembus 862 Ribu

Perbedaan lain terasa pada cara aset disimpan. Saham konvensional biasanya berada dalam sistem broker dan kustodian, sedangkan token saham dapat masuk langsung ke wallet crypto serta aplikasi berbasis blockchain.

Karena itu, membeli token NVIDIA tidak selalu sama dengan membeli saham NVIDIA melalui broker. Investor perlu melihat siapa penerbit token, aset penopangnya, serta hak ekonomi yang benar-benar diberikan.

Model saham konvensional terasa lebih kaku dibanding blockchain, tetapi infrastrukturnya sudah berkembang jauh lebih lama, terutama dari sisi likuiditas, perlindungan investor, hingga mekanisme penyelesaian transaksi.

Token Saham vs Saham Konvensional, Apa Bedanya?

Perbedaan keduanya paling mudah dilihat dari fleksibilitas, hak kepemilikan, likuiditas, dan risiko. Token saham menawarkan ruang gerak lebih luas, sedangkan saham konvensional memiliki struktur pasar lebih matang.

Perbedaan Token Saham dan Saham Konvesional
Perbedaan Token Saham dan Saham Konvesional

Kelebihan Token Saham

  • Lebih fleksibel: token dapat disimpan di wallet, dipindahkan secara on-chain, serta pada sejumlah platform diperdagangkan lebih panjang dibanding jam operasional bursa saham konvensional.
  • Akses fraksional lebih mudah: tokenisasi memungkinkan aset dibagi menjadi unit lebih kecil, sehingga pengguna tidak selalu harus membeli satu saham penuh untuk memperoleh eksposur.
  • Bisa masuk DeFi: token tertentu dapat digunakan pada DEX atau liquidity pool, membuka utilitas tambahan yang tidak tersedia secara langsung pada kepemilikan saham biasa.

Kekurangan Token Saham

  • Likuiditas belum besar: volume perdagangan token tertentu lebih kecil dibanding saham acuannya, sehingga transaksi besar berpotensi menghadapi slippage dan price impact lebih tinggi.
  • Risiko teknis bertambah: pengguna tidak hanya menghadapi risiko pasar, tetapi juga risiko penerbit, kustodian, smart-contract, jaringan blockchain, hingga mekanisme oracle yang digunakan.
  • Hak investor bisa berbeda: beberapa produk hanya memberikan eksposur ekonomi, bukan kepemilikan langsung, sehingga hak suara dan perlindungannya perlu diperiksa terlebih dahulu.
BACA JUGA:  10.000 Token Saham Siap Masuk Solana, Siap Digoreng Ala Meme Coin?

Di sisi lain, investasi saham konvensional menawarkan struktur yang lebih familiar dan juga mapan. Kekurangannya, investor tetap mengikuti jam bursa, broker, yurisdiksi, serta sistem pasar modal yang berlaku.

Kelebihan Saham Konvensional

  • Struktur kepemilikan lebih mapan: investor membeli instrumen yang tercatat melalui infrastruktur pasar modal dengan hak dan kewajiban yang mengikuti kelas saham serta regulasi terkait.
  • Likuiditas lebih matang: terutama untuk perusahaan besar, pasar saham memiliki aktivitas perdagangan dan kedalaman pasar yang sudah berkembang jauh lebih lama dibanding pasar tokenisasi.
  • Mekanisme pasar lebih jelas: perdagangan, kustodian, penyelesaian transaksi, serta perlindungan investor berjalan melalui sistem pasar modal yang memiliki aturan dan lembaga pendukung.

Kekurangan Saham Konvensional

  • Jam transaksi lebih terbatas: perdagangan biasanya mengikuti jadwal bursa, berbeda dengan sejumlah token saham yang dapat berpindah atau diperdagangkan lebih panjang melalui infrastruktur blockchain.
  • Bergantung pada perantara: akses membutuhkan broker atau sekuritas, sedangkan token saham bisa disimpan dan ditransfer melalui wallet yang kompatibel.
  • Utilitas terbatas: saham biasa tidak dapat langsung dibawa ke DEX atau dimasukkan ke liquidity pool seperti beberapa tokenized stocks berbasis teknologi blockchain.
BACA JUGA:  Mastercard Dukung Stablecoin, Nasabah Bank Ini Jadi yang Pertama Bisa Coba!

Jadi, tidak ada gunanya hanya melihat ticker yang sama. Sebelum membeli, pahami dulu produk yang sebenarnya dimiliki karena dua aset dengan nama serupa dapat memberi hak berbeda.

Tokenized Stocks Punya Kartu Tambahan di DeFi

Token saham juga punya utilitas tambahan karena dapat digunakan dalam ekosistem DeFi. Pada jaringan tertentu, aset ini bisa dimasukkan ke liquidity pool untuk menyediakan likuiditas bagi aktivitas swap.

Cara Investasi Saham di Robinhood Chain sambil Mendapat Passive Income

Pendekatan tersebut membuka strategi yang menarik. Investor dapat melakukan DCA pada token saham yang ingin dikumpulkan, lalu menempatkan asetnya sebagai liquidity provider untuk mengejar fee tambahan.

Dengan begitu, potensi hasil tidak hanya datang dari kenaikan saham. Selama posisi likuiditas aktif dan volume perdagangan tersedia, LP juga berpeluang memperoleh pendapatan dari aktivitas transaksi.

Namun, fee tersebut tetap datang bersama risiko. Posisi LP dapat menghadapi impermanent loss, perubahan komposisi aset, keluar dari rentang harga, penurunan APR, hingga risiko teknis smart-contract.

Pada akhirnya, token saham berbasis blockchain dan saham konvensional punya karakter berbeda. Keduanya sama-sama memberi eksposur ke perusahaan tertentu, tetapi cara akses, fleksibilitas, hingga risikonya tidak berjalan dengan pola yang sama.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita Bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait