7 Peretasan Kripto Sepanjang 2026, Kerugiannya Tembus Rp157 Triliun!

Daftar peretasan kripto sepanjang 2026 mencakup tujuh insiden besar, mulai dari Drift Protocol hingga Binance, dengan total kerugian tahun berjalan mencapai rekor US$8,7 miliar atau sekitar Rp157 Triliun per akhir Oktober 2026.

Kalau kamu baru mengenal dunia kripto, angka itu mungkin terdengar sulit dibayangkan. Pada 29 Oktober 2026 pukul 20:05 UTC, peretas menguras sekitar US$6,36 miliar (lebih dari Rp100 triliun) dari hot wallet Binance di sepuluh jaringan blockchain hanya dalam sekitar 20 menit. Menurut pengumuman resmi Binance, nilainya sekitar US$6,3 miliar, sedangkan Chainalysis memperkirakan US$6,4 miliar.

Laporan investigasi TRM Labs mencatat bahwa skalanya melampaui rekor peretasan Bybit senilai US$1,5 miliar pada Februari 2025 hingga empat kali lipat. Yuk, simak daftar peretasan kripto sepanjang 2026 berikut ini!

BACA JUGA: Kronologi Lengkap Peretasan Binance 2026: Lebih dari Rp100 Triliun Raib dalam 4 Jam!

Peretasan Kripto 2026 dalam Angka

Sebelum ledakan kasus Binance, tahun 2026 sudah diwarnai rentetan serangan bernilai ratusan juta dolar. Berdasarkan laporan CertiK H1 2026 Hack3D yang dikutip Chainland, paruh pertama 2026 mencatat 344 insiden dengan kerugian kotor US$1,316 miliar.

Celah kode smart contract memang paling sering terjadi (204 kasus, kerugian US$151,6 juta). Namun, kompromi operasional dompet dan infrastruktur jauh lebih merusak, kerugian lebih dari US$444,5 juta hanya dari 33 insiden, atau hampir tiga kali lipat.

BACA JUGA:  Ini Profil 5 Platform Crypto yang Didukung Y Combinator Sepanjang 2026!

Data CoinGecko yang dikutip sumber yang sama menunjukkan hampir 60 persen platform yang dibobol sepanjang 2026 sebenarnya sudah lulus audit keamanan independen. Artinya, audit kode statis tidak cukup untuk membendung pembajakan infrastruktur off-chain dan rekayasa sosial.

Siapa dalang di balik sebagian besar kerugian ini? Data TRM Labs menyebut kelompok peretas yang disponsori pemerintah Korea Utara, khususnya unit elit TraderTraitor, bertanggung jawab atas US$7,4 miliar atau 85 persen dari seluruh aset kripto yang dicuri sepanjang 2026. Porsinya melonjak dari 63 persen pada 2025. Secara kumulatif, TRM Labs mencatat Korea Utara telah mencuri US$12,8 miliar dalam bentuk kripto.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

BACA JUGA: 15 Cara Menjaga Aset Kripto dari Ancaman Hacker untuk Pemula

Daftar Peretasan Kripto Sepanjang 2026

Sepanjang 2026 terdapat setidaknya tujuh kasus peretasan besar yang menimpa industri kripto, di luar Binance, berikut ini adalah daftar kasus dan penjelasan lengkapnya:

1. Drift Protocol

Protokol di jaringan Solana ini kehilangan sekitar US$285 juta. Menurut rangkuman Chainland, peretas melakukan rekayasa sosial terhadap anggota Dewan Keamanan Drift dengan memanfaatkan durable nonces Solana, fitur yang memungkinkan transaksi yang sudah ditandatangani dijalankan di kemudian hari. Hasilnya, hak admin protokol jatuh ke tangan penyerang.

Dengan kendali itu, peretas meloloskan token tanpa nilai sebagai agunan yang sah, lalu menguras likuiditas USDC, SOL, dan ETH milik protokol. Di dunia kripto, tanda tangan digital adalah kekuasaan, dan satu tanda tangan yang dijebak bisa berakibat fatal.

2. KelpDAO

KelpDAO kehilangan sekitar US$292 juta (116.500 rsETH). Peretas TraderTraitor membobol infrastruktur RPC internal LayerZero, lalu meracuni respons yang diterima sistem. Serangan ini efektif karena konfigurasi verifikator tunggal (DVN) yang dipakai.

Akibatnya, kontrak jembatan (bridge) lintas-rantai percaya pada atestasi status yang palsu dan melepas 116.500 rsETH. Kasus ini kembali mengekspos kerentanan bridge, jalur yang menghubungkan satu blockchain dengan blockchain lain.

3. Coldcard dan Dompet Perangkat Keras

Biasanya dompet perangkat keras (hardware wallet) dianggap pilihan paling aman. Namun, pada Juli 2026, celah firmware pada Random Number Generator (RNG) Coldcard melemahkan entropi, yaitu tingkat keacakan saat seed phrase dibuat. Kerugian pengguna disebut masif.

Karena keacakannya lemah, peretas berhasil merekonstruksi kunci privat pengguna secara offline, lalu menguras dompet perangkat tersebut. Ini pengingat bahwa keamanan sebuah dompet dimulai sejak kunci pertama dibuat.

BACA JUGA: 10 Cold Wallet Murah Terbaru 2026 dan Tips Memilihnya!

4. Tectonic di Cronos

Tectonic, protokol peminjaman (lending protocol) di jaringan Cronos, kehilangan sekitar US$74 juta akibat eksploitasi teknis. Sebagian kecil, yaitu US$6 juta, sempat lolos ke Ethereum.

Untuk menahan kerugian lebih lanjut, jaringan Cronos dijeda darurat agar sisa aset curian bisa dibekukan. Langkah ini menunjukkan bagaimana komunitas bisa bergerak cepat, meski tidak semua dana bisa diselamatkan.

5. Liquid Network

Sidechain Bitcoin ini kebobolan 3.996 BTC senilai US$319 juta hanya dalam 36 menit. Penyebabnya bug perangkat lunak Elements melalui operator SideSwap, yang memungkinkan pencetakan 4.000 L-BTC tanpa jaminan. Peg L-BTC pun dihentikan, dan rasio cadangannya turun ke sekitar 86 persen.

Analisis TRM Labs mencatat pelaku meninggalkan pesan di kolom OP_RETURN Bitcoin yang mengklaim dirinya whitehat. Setelah celah ditambal, peretas mengembalikan 85 persen dana (US$272 juta), tetapi menahan 598,5 BTC (US$47 juta) sebagai komisi sepihak.

6. Bitget

Laporan awal TRM Labs mencatat kerugian US$351,6 juta. Audit forensik SlowMist, Mandiant, Certora, dan DFNS kemudian menelusurinya hingga US$387,5 juta dari 12 hot dan warm wallet di 11 jaringan. Pelaku mengeksploitasi celah zero-day pada perangkat keamanan pihak ketiga untuk memalsukan parameter kontrol risiko di server produksi.

Menurut analisis Halborn, sistem manajemen risiko otomatis Bitget sempat memblokir penarikan pengguna biasa enam menit setelah serangan dimulai. Namun, sistem itu gagal menghentikan antrean instruksi palsu di server internal, sehingga peretas menguras tambahan US$203,1 juta dari warm wallet hanya dalam sembilan detik.

Penarikan dihentikan bertahap hingga awal Oktober, dan kerugian ditutup penuh oleh User Protection Fund senilai US$464 juta.

BACA JUGA: 10 Fakta Kasus Peretasan Bitget Terbaru yang Harus Kamu Tahu!

Peretasan Binance Terbaru yang Memecah Rekor Sepanjang Sejarah

Ini adalah kasus yang paling banyak dibicarakan dalam daftar peretasan kripto sepanjang 2026, dan layak mendapat ruang tersendiri. Sepuluh Jaringan, Dua Gelombang, dan 20 Menit yang Mengubah Segalanya

Pada 29 Oktober 2026 pukul 20:05 UTC, peretas menguras sekitar US$6,36 miliar dari hot wallet Binance dalam sekitar 20 menit, disusul gelombang kedua pada pukul 23:05 UTC.

Insiden tunggal ini langsung mengerek total kerugian peretasan kripto 2026 ke rekor US$8,7 miliar. Binance sempat membekukan penarikan sementara, dan kerugian ditanggung dana darurat SAFU.

Kunci Utama Aman, tetapi Pintu Samping Terbuka

Fakta paling mengkhawatirkan dari kasus peretasan Binance bukan kegagalan enkripsi. Kunci privat utama (master private keys) Binance dipastikan tidak bocor.

Berdasarkan laporan Daily Maverick dan konfirmasi internal Binance, penyerang masuk lewat laptop seorang engineer DevOps yang terinfeksi, lalu menyusup ke service container internal untuk mengirim instruksi penarikan otomatis yang tampak sah.

Di jaringan Ethereum, peretas memakai fitur delegasi EIP-7702 dengan 50 otorisasi pra-tanda tangan untuk mengubah hot wallet Binance menjadi kontrak penyapu otomatis (sweeper contract).

Pada saat yang sama, mereka memicu sistem penandatanganan internal untuk mengotorisasi transfer keluar serentak di sembilan jaringan lainnya. Menurut TRM Labs, pelakunya adalah TraderTraitor asal Korea Utara.

BACA JUGA: 10 Crypto Exchange Indonesia Terbaik 2026 yang Diawasi OJK

Rincian Aset yang Terkuras di Setiap Jaringan

Masifnya kerugian yang ditanggung oleh Binance akibat kasus peretasan tersebar di berbagai jaringan, berikut adalah rinciannya:

Jaringan BlockchainNilai Aset TerkurasRincian Aset Utama
Ethereum~US$3,79 miliar200.630 ETH serta 185 token lain (termasuk 1,875 miliar USDT, 823 juta USDC, dan 88,5 juta RLUSD)
Bitcoin~US$1,47 miliar18.270 BTC yang kemudian dipecah lewat metode peel chain ke dompet berkapasitas 1.000 BTC dan 100 BTC
Tron~US$628 juta612,7 juta USDT dan 46,4 juta TRX
XRP Ledger~US$296 juta233,46 juta XRP
Solana~US$96 juta970.500 SOL
Arbitrum, Optimism & Base~US$39 jutaBerbagai aset Layer-2, termasuk 74,6 juta ARB dan 8.426 ETH di Arbitrum
Avalanche & Polygon~US$38 jutaSekitar US$28 juta dari Avalanche dan sekitar US$10 juta dari Polygon

Dampak Sistemik Peretasan Kripto Sepanjang 2026

Rentetan peretasan ini menimbulkan dampak langsung sekaligus efek domino pada likuiditas pasar. Berikut empat dampak sistemik yang paling menonjol.

1. Layanan Terhenti dan Dana Talangan Terkuras

Bagi bursa terpusat seperti Binance dan Bitget, dampak paling instan adalah penghentian sementara penarikan pengguna demi membangun ulang arsitektur signing server dan mencabut otorisasi dompet yang terinfeksi.

Baik Binance (lewat dana SAFU dan kas perusahaan) maupun Bitget (lewat User Protection Fund US$464 juta) menanggung sendiri seluruh kerugian demi mencegah kepanikan penarikan massal (bank run). Meski begitu, guncangan pasar akibat kasus Binance tetap menyeret turun saham Coinbase sebesar 4,8 persen dan Strategy hampir 6 persen di bursa AS.

2. Ilusi Pembekuan Dana

Melalui koordinasi kilat, penerbit stablecoin dan pengelola jaringan berhasil membekukan sekitar US$2,7 miliar hingga US$3 miliar aset curian. Rinciannya meliputi Tether (~1,77 miliar USDT), Circle (~US$825 juta USDC), Ripple (40,5 juta RLUSD), World Liberty Financial (27,8 juta USD1), dan Dewan Keamanan Arbitrum (~US$30 juta dalam ETH dan ARB).

Namun, laporan India Today dan TRM Labs menegaskan bahwa aset yang dibekukan tidak otomatis kembali ke korban, dan TraderTraitor bergerak jauh lebih cepat daripada tombol freeze. Dalam hitungan menit, peretas menjual 325 juta USDT dengan diskon lebih dari 10 persen di UniswapX, lalu menjaminkan 60 juta USDT ke protokol peminjaman Aave untuk meminjam 19.760 ETH murni.

BACA JUGA: Begini Cara Tether Untung Rp160 Triliun dari “Mencetak” USDT!

3. Protokol DeFi Ikut Menanggung Beban

Ketika Tether membekukan USDT di dalam kontrak Aave, peretas sudah kabur membawa lebih dari 420.000 ETH dan 18.270 BTC (sekitar US$2,4 miliar) yang mustahil dibekukan secara terpusat. Protokol DeFi pun harus menanggung agunan USDT yang sudah beku. Ini menunjukkan bahwa kejahatan di satu bursa bisa merembet ke ekosistem keuangan terdesentralisasi.

4. Uang Hasil Peretasan Mengalir ke Program Negara

Temuan CoinGecko bahwa hampir 60 persen platform yang dibobol sudah diaudit, hasil ini menegaskan bahwa mesin internal yang memberi perintah tanda tangan, bukan lagi algoritma enkripsi.

Di sisi lain, menurut The Guardian, hasil peretasan kripto menyumbang sekitar separuh pendapatan valuta asing Korea Utara, sehingga isu ini bukan sekadar urusan keamanan siber, tetapi juga geopolitik.

BACA JUGA:  Jalan Masih Panjang, Ini Prediksi Harga Bitcoin 2027 Versi Bitwise!

Belajar dari Daftar Peretasan Kripto Sepanjang 2026

Peretasan kripto sepanjang 2026 terbesar menyasar infrastruktur operasional, rekayasa sosial, dan celah pihak ketiga, bukan memecahkan kriptografi. Binance menjadi puncaknya dengan kerugian US$6,36 miliar, mendorong total peretasan kripto 2026 ke US$8,7 miliar, dengan Korea Utara bertanggung jawab atas 85 persen di antaranya.

Dampak sistemiknya nyata, mulai dari penghentian layanan, guncangan saham, hingga terbatasnya efektivitas pembekuan dana. Mau belajar crypto dan blockchain lebih lanjut? Yuk, pelajari selengkapnya hanya di Blockchain Media Indonesia! [msn]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait