Harga Bitcoin hari ini terlihat bergerak sideways, menyentuh level US$108.000 setelah dini hari naik ke US$113.000, turun sekitar 2,5 persen dalam 24 jam terakhir. Lalu, kemana arah tren BTC selanjutnya?
Analisa Harga Bitcoin Hari Ini
Beberapa analis memberikan pandangan yang berbeda mengenai pergerakan Bitcoin saat ini. Ada yang melihat tanda pemulihan, ditopang oleh meningkatnya minat beli dan harga yang stabil. Namun, ada juga analis yang menilai bahwa potensi koreksi masih cukup besar.
Demand BTC Pulih, Tapi Belum Seagresif Rally Sebelumnya
Berdasarkan data yang diunggah Glassnode pada Selasa (29/10/2025), harga Bitcoin saat ini sedang mencoba pulih setelah terkoreksi hingga US$107.000. Rebound ini bertepatan dengan kembalinya arus masuk bersih ke ETF.
Namun, jika dibandingkan dengan rally Bitcoin sebelumnya, rebound kali ini tidak seagresif karena volume inflow masih tergolong rendah dan belum menunjukkan dorongan kuat dari institusi.
“Aliran masuk Bitcoin Spot ETF tetap <1.000 BTC/hari, jauh lebih rendah dibandingkan >2.500 BTC/hari yang tercatat pada awal rali besar di siklus ini,” jelas Glassnode.

Hal ini menunjukkan bahwa meskipun permintaan meningkat, kekuatan beli dari investor besar belum kembali ke level yang sama seperti awal siklus naik sebelumnya. Akibatnya, harga BTC bergerak naik, tetapi cenderung lambat dan tidak eksplosif.
Long-Term Holders Mulai Jual Bitcoin dalam Jumlah Besar
Penurunan harga Bitcoin hari ini tampaknya juga dipengaruhi oleh aktivitas long-term holders (LTH). Berdasarkan data on-chain yang dibagikan Maartun pada Selasa (29/10/2025), LTH mulai melepas Bitcoin dalam jumlah besar.
“Pemegang jangka panjang telah melepas 325.600 BTC dalam 30 hari terakhir. Ini merupakan penurunan bulanan paling tajam sejak Juli 2025,” jelasnya.

Kondisi ini menandakan bahwa investor BTC yang masuk lebih awal mulai melakukan aksi profit-taking, sehingga banyak Bitcoin kembali beredar di pasar pada saat permintaan belum cukup kuat untuk menyerapnya.
Bitcoin Rebound, Tren Kenaikan Bisa Berlanjut
Analisa harga Bitcoin hari ini diungkapkan oleh salah satu analis ternama, Titan of Crypto. Lewat tweet yang dibagikan pada Selasa (28/10/2025), BTC saat ini masih bergerak di dalam long-term ascending channel.
Setiap kali harga menyentuh lower boundary (lingkaran biru), BTC selalu memantul dan melanjutkan tren naik. Pantulan terbaru dari orange zone kembali menunjukkan bahwa struktur pasar masih kuat dan tren bullish tetap terjaga.

Resistance kunci saat ini berada di US$135.000–US$145.000. Jika terjadi breakout di area ini, kenaikan berpotensi berlanjut. Namun, jika terjadi penolakan, BTC kemungkinan akan kembali menguji support di US$97.000 hingga US$105.000.
FOMO Retail Meningkat, BTC Rentan Alami Retrace
Penurunan harga BTC hari ini juga dipengaruhi oleh meningkatnya gelombang dip-buy dari ritel. Data yang dibagikan Santiment pada Selasa ini menunjukkan bahwa percakapan “membeli saat turun” melonjak, dengan 1 dari setiap 398 komentar membahas ajakan tersebut.
Kondisi ini menandakan ritel merasa penurunan sudah cukup dan harga siap pulih, namun lonjakan dip-buy secara historis sering menjadi tanda retracement lanjutan karena pasar cenderung bergerak berlawanan dengan sentimen mayoritas.
“Saat ritel merasa cukup sakit, biasanya masih ada tekanan tambahan sebelum pulih. Rally besar justru terjadi ketika FOMO berubah menjadi FUD,” jelas Santiment.

Mereka menilai, selama euforia buy the dip dari ritel masih tinggi seperti sekarang, Bitcoin berisiko mengalami koreksi tambahan sebelum menemukan support level yang lebih solid.
Suku Bunga dan ETF Jadi Penentu Arah Bitcoin
Selain analisa di atas, terdapat pandangan menarik lain. Misalnya, menurut Bitcoinvector pada Senin ini, komentar Jerome Powell yang menyebut cute rate Desember “belum tentu terjadi” menekan minat risiko, mendorong BTC turun di bawah holders cost-basis zone, dan menciptakan medan tarik-menarik antara pembeli dan penjual.

Sebaliknya, Axel Adler Jr menilai pasar masih terkendali tanpa tanda kepanikan. Dengan rata-rata pergerakan 30 hari bertahan di kisaran 111 hari, ia menilai struktur pasar tetap kuat, sementara arus likuiditas baru masih mampu menyerap suplai koin yang masuk ke pasar.
“Para pemegang tidak terburu-buru untuk mengambil keuntungan, sementara likuiditas yang masuk, seperti yang saya catat di edisi Substack hari Minggu, terus menyerap koin-koin yang masuk ke pasar,” jelasnya di X.

Namun, data dari Cryptoquant memperlihatkan sisi lain. Permintaan terhadap Bitcoin Spot ETF melemah senada dengan Glassnode, dengan rata-rata arus bersih tujuh hari tercatat -281 BTC, level terendah sejak April.
Di sisi lain, Ali Martinez melihat adanya pergeseran menuju fase risiko rendah berdasarkan indikator Sharpe Ratio. Ia menilai, fase transisi ini bisa membuka peluang pemulihan bertahap jika dukungan makro dan arus masuk likuiditas meningkat.
“Berdasarkan Sharpe Ratio, Bitcoin (BTC) cenderung mengalami siklus antara periode risiko tinggi dan rendah. Setelah mencapai wilayah risiko tinggi, pergeseran menuju risiko rendah kini tampak semakin dekat,” tulisnya.

Tren Bitcoin Belum Jelas, Pasar Menunggu Kepastian
Melihat gabungan data on-chain, minat beli, aksi jual hingga sentimen ritel, tren harga Bitcoin hari ini masih berada di zona ketidakpastian. Rebound memang terlihat, tetapi dorongan beli belum cukup kuat untuk mengonfirmasi kelanjutan tren naik.
Di sisi lain, tekanan koreksi juga masih terbuka selama euforia dip-buy ritel tetap tinggi. Dengan kondisi ini, pasar Bitcoin diperkirakan akan menunggu katalis yang lebih kuat—baik dari arus masuk institusi maupun perubahan sentimen—sebelum menentukan pergerakan berikutnya. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



