Permintaan Bitcoin Melemah, Fase Akumulasi Sebelum Reli?

Harga Bitcoin dalam beberapa hari terakhir tampak melemah setelah gagal bertahan di atas level psikologis US$110.000. Saat ini, BTC diperdagangkan di kisaran US$104.000 hingga US$106.000.

Pelemahan ini mencerminkan turunnya minat investor terhadap aset kripto terbesar tersebut. Namun, di balik sinyal negatif dari data on-chain, muncul pertanyaan penting: apakah ini justru menjadi fase akumulasi sebelum rally besar berikutnya dimulai?

Sinyal Lemah dari Investor AS, Awal Pola Reli Bitcoin?

Berdasarkan data yang dibagikan oleh First1Bitcoin pada Sabtu (18/10/2025), grafik Coinbase Premium Gap menunjukkan perubahan. Indikator ini membandingkan harga BTC di Coinbase — yang mewakili pasar AS — dengan harga global. Area hijau menandakan permintaan kuat dari investor AS, sementara area merah menandakan sebaliknya.

Sejak 17 Oktober, grafik menunjukkan perubahan warna dari hijau ke merah. Pergeseran ini menandakan melemahnya minat beli dan meningkatnya tekanan jual dari pasar AS. Fenomena ini menjadi sinyal bahwa pelaku besar sedang melakukan profit-taking atau menunggu momentum.

IKLAN
Chat via WhatsApp
BACA JUGA:  Anak Purbaya Soroti Isu Rug Pull Token POWER
Bitcoin Coinbase Premium Gap - First1Bitcoin
Bitcoin Coinbase Premium Gap – First1Bitcoin

Dari sisi teknikal, harga Bitcoin tampak menurun dari US$115.000 ke kisaran US$105.000. Pola yang terbentuk menyerupai descending channel. Level US$110.000 kini menjadi area resistensi yang kuat, sementara zona US$104.000 US$105.000 menjadi support yang harus dijaga.

Menariknya, pola negatif pada premium gap seperti ini pernah terjadi pada Maret–April 2025. Kala itu, fase merah berlangsung beberapa hari sebelum harga Bitcoin (BTC) justru berbalik naik dan memulai rally besar. 

“Hal yang sama juga terjadi pada Maret hingga April lalu sebelum harga Bitcoin memulai reli 60 persen dan mencapai rekor tertinggi (ATH) baru,” jelasnya.

Lemahnya minat investor AS memang menekan BTC dalam jangka pendek. Namun, secara historis, pola ini menjadi bagian dari fase pra-reli. Dengan support di US$104.000 US$105.000 dan resistance di US$110.000, area ini akan menjadi zona penentu tren Bitcoin selanjutnya.

BACA JUGA:  Pernah Dikaitkan dengan Terorisme, Ini Kisah Terbentuknya Indodax

Bukan Faktor Internal, Ini Penyebab Penurunan Bitcoin

Penurunan minat investor AS terhadap Bitcoin tampaknya bukan disebabkan faktor internal. Menurut RLinda pada Jumat (17/10/2025), tekanan jual muncul akibat kekhawatiran atas masalah di sektor perbankan AS.

“Alasan terjadinya aksi jual: Berita mengenai masalah di bank-bank regional AS (Zions dan Western Alliance) akibat pinjaman berisiko telah memicu kekhawatiran akan potensi krisis sistemik,” jelasnya.

Zions dilaporkan mengalami kerugian sekitar US$50 juta, memicu kekhawatiran potensi krisis sistemik. Investor pun memilih keluar dari aset berisiko dan beralih ke aset aman seperti emas. Arus dana ke emas menandakan meningkatnya sentimen defensif.

Peter Brandt Ramal Puncak Emas di US$4.474, Token Emas Ikut Meroket

Pasar saham juga ikut melemah, menegaskan bahwa tekanan terhadap Bitcoin dipengaruhi faktor makro, bukan kondisi di dalam pasar kripto. Koreksi ini lebih mencerminkan kehati-hatian investor terhadap risiko ekonomi ketimbang hilangnya kepercayaan pada aset digital.

BACA JUGA:  Whale Akumulasi Bitcoin di US$71.000, Sinyal Bullish BTC?

RLinda menilai, selama potensi krisis perbankan AS tidak berlanjut, Bitcoin (BTC) masih memiliki peluang untuk pulih. Dengan kata lain, penurunan saat ini lebih merupakan efek domino ekonomi, bukan masalah fundamental di pasar kripto.

Tekanan terhadap Bitcoin saat ini tampaknya lebih dipicu oleh faktor eksternal ketimbang kondisi internal pasar kripto. Jika kekhawatiran perbankan AS mereda dan arus modal kembali masuk ke aset berisiko, peluang pemulihan Bitcoin masih terbuka. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait