Persaingan Kian Ketat, LINE Andalkan Kripto Agar Jumlah Pengguna Tergenjot

LINE, aplikasi chatting dari Jepang, yang terkenal dengan koleksi stiker dan karakternya yang imut, terjun lebih dalam ke dunia kripto setelah meluncurkan kripto bernama LINK dan blockchain bernama LINK Chain, untuk menggenjot jumlah penggunanya, seperti dilansir dari TechCrunch.com.

LINE go public dua tahun lalu dengan 218 juta pengguna dan berhasil menarik US$1 miliar dana dari publik. Tetapi kemudian laju pertumbuhan jumlah penggunanya melamban. Jumlah pengguna aktif di empat pasar terbesar turun dari 169 juta di kuartal ke-2 tahun 2017 menjadi 164 juta di kuartal ke-2 tahun 2018.

LINK tidak dibuat melalui ICO (initial coin offering) seperti kripto lain pada umumnya, melainkan diberikan secara cuma-cuma kepada pengguna LINE sebagai insentif menggunakan layanan tertentu. LINE belum menjelaskan secara terperinci bagaimana kripto tersebut dapat diperoleh, walau kemungkinan besar akan terkait aktifitas yang mendorong interaksi aplikasinya.

LINK adalah unit dasarnya, sedangkan unit terkecilnya disebut “cony”, di mana 1 LINK setara dengan 1 juta cony. Tidak seperti Bitcoin yang didapatkan melalui mining, jumlah LINE yang tersedia sebanyak 1 miliar LINK akan didistribusikan seiring dengan perkembangan ekosistemnya. LINE berencana menahan 200 juta LINK dengan 800 juta sisanya sebagai imbalan bagi pengguna.

LINK hanya akan di-listing di Bitbox, bursa kripto besutan LINE sendiri, dan bisa digunakan untuk membeli konten seperti stiker dan komik, serta layanan LINE lainnya. LINK juga bermanfaat untuk mendapatkan rabat trading fee di Bitbox, yang besarnya 0,1%.

Saat ini LINE memiliki uang virtual untuk konten dan layanan aplikasinya dan kemungkinan LINK akan menggantikannya. Namun, LINK belum diluncurkan di Jepang, sebab LINE masih menunggu lampu hijau dari badan pengawas untuk operasi kripto dan bursanya. Pengguna LINE di Jepang baru bisa mendapatkan LINK Point yang bisa ditukarkan dengan LINK di masa depan.

Peluncuran LINK di bulan ini, adalah tahapan akhir setelah pengumuman Bitbox di bulan Juli 2018 dan peluncuran dana investasi khusus kripto sebesar US$10 juta di bulan Agustus silam. Bitbox membuka perdagangan untuk 30 kripto, di antaranya Bitcoin, Ethereum, Bitcoin Cash, Litecoin serta kripto lainnya. Sayangnya, Bitbox tidak tersedia bagi pengguna LINE di Jepang dan AS dikarenakan masalah regulasi.

LINE menghindari keruwetan hukum tentang penjualan LINK dengan cara tidak menjualnya melalui ICO. Persaingan ketat dengan Facebook Messenger dan WhatsApp adalah ancaman serius bagi LINE, sehingga keputusan LINE menggunakan LINK sebagai insentif aktifitas pengguna, merupakan langkah tepat.

Tentunya kesuksesan langkah tersebut sangat bergantung pada seberapa menariknya LINK. Jika pengguna LINE bisa menukarkan LINK dengan uang tunai yang lumayan atau poin di dalam platform LINE, maka hal itu bisa jadi sangat menarik. Tetapi, jika pengguna hanya mendapatkan jumlah kecil, motivasi untuk mendapatkan LINK bisa rendah. Momen terbesar adalah saat LINK menggantikan uang virtual LINE untuk semua aktifitas pembelian, tetapi hal itu belum tentu mendongkrak keterlibatan pengguna.

LINE berencana menggunakan LINK dan LINK Chain sebagai platform DApps (decentralized applications) yang terhubung ke aplikasi chatting-nya. Selain chatting, LINE juga menyediakan layanan pembayaran, pemesanan jasa transportasi, konten musik dan video, dan berencana mengundang developer pihak ketiga untuk membuat DApps lainnya.

Akan tetapi, DApps secara umum belum booming. Game CryptoKitties di blockchain Ethereum, misalnya sempat gencar akhir tahun lalu, tetapi sejak saat itu aktifitas penggunanya semakin anjlok setelah minatnya pudar.

Pegiat kripto pasti menyambut berita LINE ini dengan gembira. LINE merupakan perusahaan terbesar yang merangkul kripto dari segi jangkauan pengguna. Tetapi belum tentu LINK dan platform DApps-nya mampu menggenjot jumlah dan aktifitas pengguna LINE.

“Selama tujuh tahun terakhir LINE bertumbuh menjadi layanan global berkat pengguna kami, dan sekarang dengan LINK kami ingin membangun sistem imbalan yang ramah bagi pengguna. Bersama LINK kami ingin terus berkembang sebagai platform berbasis partisipasi pengguna yang memberikan nilai tambah melalui DApps yang mudah digunakan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar CEO LINE Takeshi Idezawa seperti yang dilansir dari TechCrunch.com. [ed]

Terkini

Warta Korporat

Terkait