Pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali mencatat angka stabil di kisaran 5 persen pada kuartal III 2025.
Berdasarkan laporan Kontan, Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan bahwa ekonomi nasional tumbuh sebesar 5,04 persen secara tahunan (year-on-year), didorong oleh kuatnya konsumsi rumah tangga dan peningkatan ekspor barang serta jasa.
Angka tersebut menunjukkan daya tahan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global, sekaligus menjadi indikator bahwa Indonesia masih mampu mempertahankan momentum pemulihan pascapandemi.
Kinerja ekonomi yang konsisten ini juga memberi sinyal positif bagi pelaku pasar keuangan, termasuk investor kripto.
Dalam situasi di mana indikator makroekonomi menunjukkan kestabilan, minat terhadap aset berisiko seperti kripto cenderung meningkat. Membaiknya kepercayaan konsumen dan kestabilan daya beli berpotensi mendorong peningkatan transaksi di bursa kripto domestik.
Konsumsi dan Stabilitas Rupiah Jadi Faktor Utama
Berdasarkan data BPS, konsumsi rumah tangga masih menjadi penyumbang terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dengan kontribusi lebih dari 50 persen. Sementara itu, ekspor dan investasi tetap tumbuh meskipun dengan laju yang lebih moderat.
Pertumbuhan ekonomi ini tidak hanya menunjukkan kekuatan permintaan domestik, tetapi juga mencerminkan keberhasilan pemerintah menjaga kestabilan harga dan nilai tukar rupiah.
Bagi investor kripto di Indonesia, stabilitas nilai tukar menjadi faktor penting. Ketika rupiah berada dalam kondisi stabil, tekanan terhadap aset berbasis dolar seperti stablecoin (USDT dan USDC) cenderung berkurang.
Hal ini membuat investor lokal tidak perlu memindahkan aset mereka ke aset berdenominasi dolar AS, sehingga volume perdagangan dalam pasangan IDR di bursa kripto seperti Indodax, Tokocrypto dan Pintu tetap terjaga.
Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi yang kuat dapat memperkuat ekosistem perdagangan kripto di dalam negeri.
Selain itu, kestabilan ekonomi memberikan rasa aman bagi masyarakat untuk melakukan diversifikasi investasi. Aset digital semakin dilihat sebagai alternatif oleh investor muda yang mencari potensi pertumbuhan di luar instrumen konvensional.
Jika daya beli masyarakat meningkat dan inflasi tetap terkendali, minat terhadap aset kripto kemungkinan akan terus tumbuh seiring meningkatnya kepercayaan terhadap perekonomian nasional.
Potensi Dampak Global Masih Harus Diwaspadai
Namun demikian, sejumlah faktor eksternal masih perlu diwaspadai. Perlambatan ekonomi global, terutama di Tiongkok dan AS, dapat memengaruhi kinerja ekspor Indonesia dan berdampak pada arus modal.
Jika ekspor melemah atau terjadi tekanan terhadap nilai tukar rupiah, sebagian investor berpotensi mengalihkan portofolionya ke Bitcoin atau stablecoin sebagai bentuk lindung nilai. Kondisi tersebut bisa menciptakan perubahan arah investasi, di mana aset kripto tertentu menjadi pilihan defensif di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Meskipun demikian, dalam jangka menengah, pertumbuhan ekonomi yang solid tetap memberi landasan kuat bagi perkembangan industri aset digital di Indonesia.
Ekonomi yang tumbuh stabil menciptakan iklim keuangan yang sehat, memungkinkan investor mengambil risiko lebih besar tanpa khawatir terhadap fluktuasi ekstrem.
Hal ini dapat meningkatkan arus dana ke aset digital yang memiliki potensi pertumbuhan tinggi, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pasar kripto paling aktif di kawasan Asia Tenggara.
Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi 5 persen menunjukkan bahwa Indonesia masih berada di jalur yang positif menuju pemulihan berkelanjutan. Dengan konsumsi domestik yang kuat, stabilitas rupiah dan meningkatnya minat terhadap aset digital, kondisi ini memberikan dasar yang kokoh bagi investor kripto untuk tetap optimistis.
Selama tidak terjadi guncangan eksternal yang besar, momentum pertumbuhan ekonomi nasional dapat menjadi pendorong baru bagi perkembangan ekosistem kripto di Indonesia. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



