Pada tahun 2018–2021, Badan Intelijen FBI (AS) bersama kepolisian Australia (AFP) melancarkan Operasi Trojan Shield/Ironside dengan membuat dan menyebarkan smartphone ber-OS khusus bernama ANOM. ANOM dikemas sebagai aplikasi pesan terenkripsi aman untuk sindikat penjahat internasional, namun sebenarnya sudah memiliki backdoor rahasia.
Semua pesan ANOM disalin ke server FBI/Australia dan dapat di-dekripsi dengan kunci rahasia milik aparat. Dengan cara ini FBI “mengoperasikan perusahaan telepon terenkripsi sendiri” sambil membiarkan sekitar 12.000 perangkat ANOM terjual kepada sekitar 300 sindikat kriminal di lebih 100 negara.
BACA JUGA: 9 Jenis Scam Crypto Paling Umum dan Cara Menghindarinya!
Teknologi Di Balik Aplikasi ANOM

Melansir laman Vice, perangkat ANOM adalah ponsel Android dengan custom ROM (sering disebut ArcaneOS) yang sangat dibatasi fungsinya. Sistem operasi ini menonaktifkan telepon biasa (panggilan suara), email, dan layanan lokasi, serta menambahkan pengamanan ekstra seperti tata letak keypad PIN acak (anti-tilt), dan opsi hapus otomatis data jika ponsel tidak aktif.
Aplikasi ANOM itu sendiri tersembunyi di balik aplikasi kalkulator palsu: pengguna memasukkan perhitungan rahasia di kalkulator untuk membuka antarmuka chat.
Setiap ponsel ANOM memiliki dua mode kunci, satu untuk fungsi telepon standar, dan satu lagi untuk mengakses layanan pesan rahasia. Dengan menekan bidang sandi tersembunyi, pengguna menuju layar login chat terenkripsi
Sistem enkripsinya sendiri dibangun agar tampak end-to-end encrypted. Namun FBI sudah menyisipkan backdoor: setiap pesan ANOM disalin secara rahasia ke server FBI/AFP sebelum sampai penerima. Informasi pesan (teks, gambar, koordinat, dll.) lalu di-dekripsi dengan private key yang dikendalikan aparat.
Kondisi ini membuat penjahat merasa aman karena aplikasinya memiliki “kunci”, tetapi sebenarnya, kuncinya juga dipegang FBI. Dokumen pengadilan bahkan mengungkap bahwa setiap pesan ANOM mengandung “Master Key” khusus bagi aparat untuk membuka enkripsinya. Teknik ini seperti menyalin ke-bcc dalam email, sehingga FBI mampu memantau 100% komunikasi ANOM tanpa jejak.
Dampak Penggunaan Aplikasi ANOM pada Sindikat Kriminal
Operasi Trojan Shield yang menggunakan ANOM terbukti sangat sukses. Pada 8 Juni 2021, penegak hukum di seluruh dunia menyerbu dan menahan ratusan tersangka secara bersamaan. Secara total lebih dari 800 orang ditangkap di 16 negara.
Tersangka itu adalah anggota sindikat besar, misalnya mafia Italia cabang Australia, mafia Albania, geng motor outlaw, kartel internasional, dan jaringan penjualan senjata. Press release DOJ menyebutkan penyelidikan ini “menghancurkan” sekitar 300 sindikat kriminal yang mengoperasikan lebih dari 12.000 perangkat ANOM di 100+ negara.
Barang bukti yang disita pun luar biasa besar, termasuk uang tunai dan aset kripto hasil kejahatan lebih dari US$48 juta turut diamankan.
Puluhan laboratorium gelap juga dibongkar. Di Australia sendiri tercatat disita 104 senjata dan 45 juta Dolar Australia; di Selandia Baru aset sebesar US$3,7 juta termasuk kendaraan, obat-obatan terlarang, dan senjata ditahan. Operasi ini disebut oleh Europol sebagai “penegakan hukum terbesar terhadap komunikasi rahasia”, karena berhasil membongkar rahasia transaksi gelap berskala global.
BACA JUGA: Apakah Binary Option Penipuan? Begini Legalitas di Indonesia!
Kekhawatiran Baru Terhadap Teknologi Enkripsi
Di ranah teknologi keamanan, kasus ANOM juga memantik perdebatan besar soal enkripsi. Banyak yang terkesima dengan inovasi FBI yang memasang master key rahasia tanpa perlu meretas iPhone atau WhatsApp biasa.
Namun, di sisi lain, ada kekhawatiran baru: jika aparat bisa membuat perangkap seperti ini, akankah kepercayaan terhadap aplikasi terenkripsi lainnya menurun?
Melansir laman American University, wired dan pakar kriptografi memperingatkan ini bisa memicu penjahat beralih ke platform mainstream seperti Signal atau Telegram yang lebih sulit dipantau.
Namun bagi penggemar teknologi, operasi ANOM adalah contoh cemerlang taktik siber: justru perangkat yang dianggap paling tahan kawat itu menjadi mercu suar bagi penegak hukum.
Seperti yang dikatakan jaksa AS, “Berkat strategi inovatif ini, perangkat yang digunakan penjahat untuk menyembunyikan diri dari polisi ternyata berbalik menjadi beacon (sinyal) bagi polisi”.
Aplikasi ANOM adalah pelajaran bagi dunia keamanan siber bahwa tidak ada sistem yang benar-benar kebal. Kasus ANOM juga menunjukkan sisi gelap kriptografi sekaligus kecerdasan unik aparat penegak hukum dalam menumpas kelompok-kelompok kriminal.
Mau belajar crypto dan blockchain lebih lanjut? Yuk, pelajari selengkapnya hanya di Blockchain Media Indonesia! [msn]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



