Menjadi liquidity provider atau LP bisa menjadi salah satu cara yang menarik untuk memperoleh trading fee dari aktivitas di pasar kripto. Alih-alih hanya membeli token lalu menunggu naik, pengguna menyediakan likuiditas agar transaksi di DEX dapat berjalan.
Namun, setiap platform LP punya mekanisme yang berbeda. Ada yang menawarkan model sederhana, ada pula yang memungkinkan pengguna menentukan price range secara lebih presisi untuk mengejar efisiensi modal.
Bagi pemula yang baru ingin mencoba, berikut empat platform LP kripto yang bisa dipelajari, mulai dari Meteora dan Raydium di Solana hingga Uniswap dan PancakeSwap yang tersedia di berbagai jaringan.
4 Platform LP Kripto yang Bisa Dicoba Pemula
1. Meteora

Meteora menjadi salah satu platform LP kripto yang cukup menarik bagi pengguna Solana. Platform ini memiliki beberapa jenis liquidity pool, tetapi salah satu yang paling populer adalah Dynamic Liquidity Market Maker atau DLMM.
Berbeda dengan AMM biasa, DLMM membagi area harga menjadi sejumlah bin. Pengguna dapat menentukan rentang harga tempat modal mereka aktif dan menghasilkan trading fee.
Meteora menggunakan sistem dynamic fee. Artinya, biaya transaksi dapat berubah mengikuti kondisi pasar dan volatilitas. Mekanisme ini memberi peluang bagi LP memperoleh fee lebih tinggi saat aktivitas perdagangan meningkat.
Pengguna bahkan bisa memilih beberapa pendekatan distribusi likuiditas sesuai strategi trading LP. Namun, semakin sempit range yang dipilih, semakin aktif pula posisi tersebut perlu dipantau.
Kelebihan:
- Transaksi Solana relatif cepat dan murah.
- Price range dapat diatur dengan cukup fleksibel.
- DLMM memiliki dynamic fee.
- Banyak pilihan pool, termasuk pasangan token dengan aktivitas tinggi.
Kekurangan:
- Lebih rumit dibanding LP model klasik.
- Posisi dapat keluar dari range ketika harga bergerak tajam.
- Membutuhkan pemantauan lebih aktif jika memakai rentang sempit.
Meteora cocok bagi pemula yang sudah memahami dasar LP dan ingin mulai belajar strategi concentrated liquidity secara lebih aktif.
2. Raydium

Pilihan berikutnya masih berasal dari ekosistem Solana, yakni Raydium. Platform ini sudah lama menjadi salah satu protokol DEX utama di jaringan tersebut dan menawarkan beberapa jenis liquidity pool.
Pemula bisa menemukan model Constant Product Market Maker (CPMM) yang relatif lebih sederhana. Sementara itu, pengguna yang ingin mengatur modal lebih efisien dapat menggunakan Concentrated Liquidity Market Maker (CLMM).
Pada CLMM, likuiditas hanya aktif pada rentang harga yang dipilih. Jika harga keluar dari rentang tersebut, posisi berhenti memperoleh trading fee dan farm reward sampai harga kembali masuk ke area aktif.
Raydium juga membagikan sebagian trading fee kepada LP. Berdasarkan dokumentasinya, 84 persen dari trading fee pada pool CLMM dan CPMM dialokasikan kepada penyedia likuiditas.
Kelebihan:
- Berada di jaringan Solana dengan biaya transaksi rendah.
- Tersedia CPMM dan CLMM.
- Banyak pilihan pasangan kripto.
- Beberapa pool menawarkan farm reward tambahan.
Kekurangan:
- CLMM tetap membutuhkan pengaturan range.
- Posisi out of range tidak memperoleh fee.
- Pool token kecil dapat membawa risiko volatilitas dan likuiditas yang jauh lebih besar.
Untuk pemula, Raydium cukup menarik karena pengguna dapat memulai dari mekanisme yang lebih sederhana sebelum mencoba CLMM.
3. Uniswap

Jika platform LP Meteora dan Raydium identik dengan Solana, Uniswap menjadi salah satu nama terbesar untuk LP pada ekosistem Ethereum dan berbagai jaringan blockchain lain yang berbasis EVM.
Uniswap saat ini tersedia di banyak jaringan, termasuk Ethereum, Base, Arbitrum, Optimism, Polygon, BNB Smart Chain, Unichain, Avalanche, Robinhood Chain, hingga beberapa blockchain lainnya.
Pilihan mekanismenya juga luas. Uniswap v2 menggunakan model LP klasik dengan likuiditas yang tersebar di seluruh rentang harga. Sementara Uniswap v3 memperkenalkan concentrated liquidity, sehingga LP dapat menentukan rentang tertentu.
Uniswap v4 membawa mekanisme tersebut lebih jauh dengan pilihan fee tier yang lebih fleksibel serta sistem hooks untuk menambahkan logika tertentu ke dalam sebuah pool likuiditas kripto.
Bagi pemula, salah satu daya tarik Uniswap adalah fleksibilitasnya. Pengguna yang belum ingin aktif mengatur posisi dapat memilih full range, sedangkan pengguna yang sudah memahami LP dapat mempersempit rentang untuk meningkatkan efisiensi modal.
Kelebihan:
- Mendukung banyak blockchain.
- Ekosistem dan pilihan pool sangat luas.
- Bisa memilih model sederhana maupun concentrated liquidity.
- Cocok untuk mempelajari mekanisme LP dari dasar hingga tingkat lanjut.
Kekurangan:
- Biaya transaksi di Ethereum bisa lebih mahal dibanding Solana atau jaringan L2.
- Concentrated liquidity membutuhkan pengelolaan range.
- Banyaknya pilihan pool bisa membingungkan pengguna baru.
Untuk pemula, menggunakan Uniswap melalui jaringan berbiaya relatif murah seperti BSC atau Robinhood Chain bisa menjadi cara yang lebih ringan untuk mulai bereksperimen.
4. PancakeSwap

PancakeSwap identik dengan BNB Chain, tetapi kini berkembang menjadi DEX multichain. Platform ini tersedia di berbagai jaringan seperti BNB Chain, Ethereum, Base, Arbitrum, Solana, ZKsync, Linea, opBNB, Monad dan Aptos.
Untuk LP, PancakeSwap menawarkan model V3 dengan concentrated liquidity. Pengguna bisa menentukan rentang harga tempat modal aktif dan memperoleh fee. Jika harga keluar dari area tersebut, posisi tidak aktif dan berhenti menghasilkan fee.
Menariknya, PancakeSwap juga telah menyediakan V3 liquidity di Solana. Pengguna dapat mencari pool berdasarkan TVL, volume, fee atau APR, kemudian menentukan price range sendiri sebelum memasukkan modal trading kripto.
Pada beberapa jaringan tersedia fitur Zap yang menyeimbangkan token secara otomatis ketika pengguna ingin membuka posisi LP. Fitur tersebut dapat menyederhanakan proses yang biasanya mengharuskan pengguna menyiapkan komposisi dua aset secara manual.
Kelebihan:
- Mendukung banyak blockchain.
- Pilihan pool cukup luas.
- Tersedia concentrated liquidity.
- Beberapa pool memiliki farm reward tambahan.
- Fitur Zap dapat mempermudah proses menyediakan likuiditas crypto.
Kekurangan:
- Fitur yang tersedia bisa berbeda pada setiap jaringan.
- Pengguna tetap harus memahami price range pada V3.
- Banyak pool dengan APR tinggi berasal dari token yang lebih berisiko.
Mana Platform LP Kripto yang Cocok untuk Pemula?
Tidak ada satu platform LP kripto yang otomatis paling baik untuk semua pengguna. Pilihannya sangat bergantung pada jaringan yang digunakan, modal, toleransi risiko, serta seberapa aktif posisi ingin dikelola.
Meteora menarik bagi pengguna Solana yang ingin mendalami DLMM dan strategi range yang lebih aktif. Raydium menawarkan jalur yang sedikit lebih fleksibel karena terdapat CPMM maupun CLMM.
Uniswap bisa menjadi pilihan bagi yang ingin mengeksplorasi ekosistem EVM dengan pilihan sangat luas. PancakeSwap berada di posisi serupa, tetapi menawarkan pengalaman multichain yang cukup mudah diakses, termasuk LP di Solana.
Hal terpenting, LP bukan sekadar memasukkan dua token lalu menunggu fee. Impermanent loss, pergerakan harga, kualitas kripto, volume perdagangan, kedalaman likuiditas hingga pemilihan price range tetap perlu diperhitungkan.
Bagi pemula, memulai dengan modal kecil dan pasangan aset yang memiliki likuiditas besar biasanya jauh lebih masuk akal dibanding langsung mengejar pool dengan APR atau trading fee tertinggi.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita Bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


