Tweet legendaris “Volatility is a gift to the faithful,” yang diunggah oleh pendiri Strategy, Michael Saylor, kembali menjadi sorotan. Ungkapan yang kerap muncul ketika pasar sedang bergejolak itu ternyata menunjukkan pola menarik jika dibandingkan dengan pergerakan harga Bitcoin setelahnya.

Volatilitas Bitcoin sebagai “Hadiah” yang Diikuti Koreksi
Berdasarkan data historis dari StatMuse, sejumlah unggahan Michael Saylor sepanjang tahun 2025 menunjukkan pola yang menarik: ada korelasi konsisten antara sentimen positif terkait BTC dan arah pasar jangka pendek.
Dari tiga unggahan Saylor yang dapat diverifikasi—pada 27 Januari, 25 Februari, dan 15 Agustus 2025—semuanya diikuti penurunan harga Bitcoin dalam rentang waktu satu hingga empat minggu setelah tweet dipublikasikan.
Pada 27 Januari 2025, harga Bitcoin (BTC) ditutup di level US$102.087,69. Seminggu kemudian, pada 3 Februari, harganya turun tipis menjadi US$101.405 atau melemah sekitar 0,15 persen. Tren pelemahan ini terus berlanjut hingga akhir bulan, dan pada 28 Februari, BTC anjlok ke level US$84.704 — mencatat koreksi lebih dari 17 persen dari posisi akhir Januari.

Menariknya, pola serupa juga kembali terlihat setelah unggahan berikutnya. Tren penurunan Bitcoin muncul lagi usai tweet Saylor pada 25 Februari 2025. Saat itu, harga BTC ditutup di kisaran US$88.736, namun sehari kemudian kembali melemah dan turun ke sekitar US$84.347.

Dengan kata lain, setiap kali Saylor menulis “volatility is a gift,” harga Bitcoin cenderung melemah dalam jangka pendek. Menariknya, pada Jumat lalu ia kembali menulis tweet serupa yang menggambarkan keyakinannya bahwa fluktuasi bukan ancaman
Namun, hal ini bukan berarti cuitannya menjadi penyebab langsung. Sebaliknya, Saylor dikenal sebagai sosok “ultra-bullish” terhadap Bitcoin—tweet-nya sering kali mencerminkan kondisi pasar yang sedang melemah, bukan memicunya.
Dari Koreksi ke Pemulihan: Gambaran Jangka Menengah
Meski cuitan Saylor sering muncul di fase bearish, data jangka menengah menunjukkan arah berbeda. Dua contoh utama—unggahan pada 27 Januari dan 25 Februari 2025, menunjukkan adanya pemulihan sekitar enam bulan setelahnya. Harga Bitcoin masing-masing naik 15,5 persen dan 24,1 persen dibanding harga BTC saat tweet diposting.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa reaksi pasar BTC terhadap unggahan Saylor bersifat sementara. Dalam rentang enam bulan, harga Bitcoin umumnya kembali menguat, mengikuti pola siklus yang dikenal volatil namun tetap resilien.
Bagi trader jangka pendek, tweet yang diunggah oleh Saylor mungkin menjadi tanda adanya risiko koreksi. Namun bagi investor jangka menengah, justru bisa dilihat sebagai peluang untuk melakukan akumulasi di harga rendah.
Apalagi, Saylor melalui Strategy kerap menambah kepemilikan BTC dalam periode yang berdekatan dengan tweet tersebut. Hal ini menegaskan bahwa unggahannya bukan sinyal teknis, melainkan ekspresi keyakinan jangka panjang terhadap masa depan Bitcoin.
Refleksi Sentimen Bitcoin
Pola historis tahun 2025 memperlihatkan bahwa setiap kali Saylor menulis “Volatility is a gift to the faithful,” Bitcoin memang cenderung turun dalam waktu singkat, namun pulih beberapa bulan kemudian.
Dengan kata lain, tweet itu lebih berfungsi sebagai pengingat bagi para HODLer bahwa volatilitas adalah bagian alami dari pergerakan harga Bitcoin—ujian bagi keyakinan, bukan tanda bahaya.
Dalam jangka panjang, pesan Saylor terbukti selaras dengan filosofi dasar Bitcoin: volatilitas bukan ancaman, melainkan “hadiah” bagi mereka yang tetap setia dan sabar menghadapi badai pasar. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



