Polymarket kembali menghadapi sorotan serius setelah terungkap bahwa regulator komoditas AS telah membuka sedikitnya tiga penyelidikan yang sebelumnya tidak diketahui publik terkait dugaan insider trading di platform pasar prediksi tersebut.
Penyelidikan itu mencakup kontrak yang berhubungan dengan pengampunan mantan Presiden AS Joe Biden, konflik Iran, serta hasil Google Year in Search 2025. Kasus-kasus tersebut menjadi perhatian karena sejumlah trader berhasil mencetak keuntungan besar dari peristiwa yang informasinya berpotensi belum tersedia bagi publik.
Berdasarkan laporan WIRED pada Jumat (11/9/2026), keberadaan penyelidikan terungkap melalui dokumen Commodity Futures Trading Commission (CFTC) yang diperoleh menggunakan Freedom of Information Act (FOIA).
Dokumen tersebut menunjukkan Ketua CFTC Michael Selig pada awal Mei memberikan izin kepada divisi penegakan hukum untuk menyelidiki potensi perdagangan menggunakan informasi orang dalam pada kontrak Polymarket terkait pengampunan yang dikeluarkan Biden.
Izin tersebut memberi penyelidik kewenangan untuk meminta kesaksian, menerbitkan subpoena dan memperoleh dokumen yang relevan. Beberapa pekan kemudian, CFTC membuka penyelidikan kedua terhadap kontrak yang berkaitan dengan Iran.
Akun Misterius Polymarket Raup US$2,4 Juta dengan Win Rate 98 Persen
Penyelidikan Iran menjadi salah satu bagian paling mencolok dari kasus ini. Sebelumnya, investigasi 60 Minutes dan Bubblemaps menemukan sembilan akun Polymarket yang saling terhubung dan secara kolektif meraup lebih dari US$2,4 juta.
Akun-akun tersebut melakukan lebih dari 80 taruhan yang sebagian besar berkaitan dengan operasi militer AS dan perkembangan konflik Iran. Tingkat kemenangan atau win rate kelompok akun itu mencapai sekitar 98 persen.
Pola tersebut menarik perhatian karena beberapa posisi ditempatkan pada peristiwa dengan probabilitas pasar yang rendah sebelum kemudian berakhir sesuai taruhan mereka. Meski demikian, keberhasilan luar biasa dalam perdagangan tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa pemilik akun menggunakan informasi orang dalam.
Pada Juli, CFTC kemudian mengizinkan penyelidikan ketiga. Fokusnya adalah kemungkinan individu lain yang memperdagangkan kontrak Polymarket berdasarkan informasi nonpublik mengenai Google Year in Search 2025.
Kasus itu berbeda dari perkara Michele Spagnuolo, mantan engineer Google yang sebelumnya dituduh menggunakan informasi rahasia perusahaan untuk berdagang di Polymarket.
Dalam gugatan resmi CFTC terhadap Spagnuolo, regulator menuduhnya melakukan perdagangan pada sedikitnya 23 kontrak Year in Search dengan tingkat akurasi nyaris sempurna dan menghasilkan keuntungan sekitar US$1,2 juta.
Spagnuolo menghadapi tuduhan commodities fraud, wire fraud dan money laundering. Perkara tersebut masih berupa tuduhan hukum yang harus dibuktikan melalui proses pengadilan.
Jejak On-Chain Justru Membuka Pola Baru
Sorotan terhadap Polymarket tidak berhenti di tiga penyelidikan tersebut.
Temuan terbaru yang dilaporkan WSJ pada Jumat (11/9/2026) mengungkap jaringan lain yang terdiri dari 19 akun Polymarket yang saling terhubung.
Analisis Bubblemaps menemukan kelompok tersebut memiliki tingkat keberhasilan sekitar 98 persen dari 42 taruhan terhadap hasil keuangan perusahaan yang diaudit KPMG, termasuk Wells Fargo dan Home Depot. Pengguna di balik jaringan itu dilaporkan memperoleh keuntungan sekitar US$22.000.
Aliran dana antar-wallet menjadi salah satu faktor yang membuat akun-akun tersebut diduga berada di bawah kendali pihak yang sama. Namun, belum ada bukti bahwa jaringan tersebut terkait dengan tiga penyelidikan CFTC yang terungkap dalam dokumen FOIA.
Kasus-kasus ini sekaligus memperlihatkan paradoks prediction market berbasis blockchain. Identitas trader dapat tetap pseudonim, tetapi perpindahan dana dan aktivitas wallet tersimpan secara terbuka sehingga pola antar-akun bisa ditelusuri oleh perusahaan analitik.
Penegakan hukum terhadap praktik semacam ini juga bukan lagi sekadar teori. Pada April, Departemen Kehakiman AS mendakwa tentara AS Gannon Ken Van Dyke karena diduga menggunakan informasi rahasia mengenai operasi penangkapan Nicolás Maduro untuk menghasilkan lebih dari US$400.000 melalui Polymarket.
Polymarket sendiri mengatakan tidak mengomentari investigasi tertentu, tetapi secara rutin menyerahkan aktivitas mencurigakan kepada penegak hukum dan mendukung penyelidikan yang sedang berjalan. Perusahaan juga menegaskan bahwa insider trading tidak diperbolehkan di platform-nya.
Terungkapnya tiga penyelidikan CFTC kini menambah tekanan bagi industri pasar prediksi. Pertanyaan besarnya bukan lagi hanya apakah pasar semacam ini mampu memprediksi suatu peristiwa dengan akurat, tetapi juga bagaimana memastikan harga yang terbentuk tidak berasal dari keuntungan informasi yang hanya dimiliki segelintir orang.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


