Polymarket Mulai Bikin Pejabat Pemilu AS Was-was, Odds Dinilai Bisa Pengaruhi Pemilih

Popularitas pasar prediksi, atau prediction market, jelang pemilu sela atau midterm AS 2026 mulai mengundang kekhawatiran dari kalangan penyelenggara pemilu.

Platform seperti Polymarket dan Kalshi kini menangani perdagangan besar pada kontrak politik, memunculkan pertanyaan apakah pergerakan odds dapat ikut membentuk persepsi dan perilaku pemilih.

Berdasarkan laporan Associated Press pada Selasa (8/9/2026), perdagangan kontrak terkait pemilu melonjak menjelang sejumlah kontestasi besar pada musim gugur ini. Di saat yang sama, sejumlah negara bagian masih berupaya membatasi prediction market dengan menganggapnya sebagai aktivitas perjudian yang tidak berizin.

Kekhawatiran penyelenggara pemilu terutama tertuju pada insentif finansial yang kini semakin melekat pada kontestasi politik. Odds pasar dikhawatirkan dapat dianggap publik sebagai gambaran pasti mengenai kandidat yang akan menang, padahal angka tersebut bukan hasil polling maupun penghitungan suara.

“Ini adalah tren mengkhawatirkan yang harus ditangani oleh penyelenggara pemilu di seluruh negeri,” ujar Administrator Dewan Pemilihan Umum Negara Bagian Maryland, Jared DeMarinis.

Odds Polymarket Mulai Jadi Sorotan

Salah satu skenario yang menjadi perhatian adalah kemungkinan pihak bermodal besar membeli kontrak kandidat tertentu dalam jumlah besar untuk mendongkrak probabilitasnya di prediction market.

Seorang partisan, misalnya, dapat saja bersedia menanggung kerugian demi membuat kandidat pilihannya terlihat memiliki peluang menang lebih tinggi. Odds tersebut kemudian dapat beredar di media sosial dan diperlakukan seperti polling, bahkan digunakan kandidat untuk menunjukkan momentum ketika mencari pendanaan atau dukungan politik.

BACA JUGA:  Firma Trump Jr. Pimpin Pendanaan Polymarket, Valuasi Tembus US$21 Miliar

Direktur Kebijakan Sekuritas di Better Markets, Ben Schiffrin, menilai kondisi seperti itu berpotensi membuat seorang kandidat tiba-tiba terlihat sebagai frontrunner hanya karena ada aktor eksternal yang menempatkan taruhan besar.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Kekhawatiran lain adalah efek terhadap partisipasi pemilih. Ketika peluang kandidat tertentu terlihat sangat kecil di prediction market, pendukungnya berpotensi menganggap perlombaan sudah berakhir dan kehilangan motivasi untuk memberikan suara.

Namun, sejauh ini belum ada bukti bahwa pergerakan odds di Polymarket telah menentukan hasil suatu pemilu.

Skala aktivitasnya sendiri sudah cukup besar. Halaman khusus Midterm 2026 Polymarket menampilkan sebanyak 563 market terkait perlombaan politik.

Saat data diakses, kontrak mengenai partai yang akan menguasai Senat AS telah menghasilkan sekitar US$4 juta volume, dengan peluang Demokrat berada di kisaran 53 persen. Sementara itu, market penguasaan House of Representatives mencatat sekitar US$10 juta volume, dengan peluang Demokrat sekitar 88 persen.

BACA JUGA:  Membedah Fitur Scan Binance di Cryptoiz, Cara Menyaring Kripto Sebelum Trading

Pasar yang tersedia juga tidak sebatas menentukan partai pemenang. Pengguna dapat memperdagangkan kontrak mengenai pemilihan Gubernur, Senat, DPR hingga proyeksi jumlah pemilih pada kontestasi tertentu.

Prediction Market Bantah Ancam Pemilu

Di sisi lain, Polymarket dan Kalshi menolak pandangan bahwa prediction market merupakan ancaman bagi pemilu atau demokrasi.

Kedua platform menilai aktivitas tersebut tidak jauh berbeda dengan investor yang memperdagangkan saham, obligasi atau komoditas menjelang pemilu untuk melindungi portofolio dari potensi perubahan kebijakan pemerintahan berikutnya.

Mereka juga menyatakan telah menerapkan perlindungan terhadap insider trading yang dirancang untuk mencegah kandidat maupun anggota tim kampanye memperdagangkan kontrak yang berkaitan langsung dengan perlombaan mereka sendiri.

Risiko tersebut bukan sekadar teori. Pada akhir Agustus, Kalshi menjatuhkan skorsing tiga tahun dan denda kepada kandidat DPR AS dari Partai Republik di North Carolina, Laurie Buckhout, setelah diketahui memperdagangkan kontrak terkait perlombaannya sendiri.

Pihak prediction market tersebut juga berargumen bahwa manipulasi harga akan sulit bertahan dalam pasar yang likuid. Ketika sebuah kontrak didorong terlalu jauh dari probabilitas yang dianggap wajar, trader lain memiliki insentif untuk mengambil posisi berlawanan dan membawa harganya kembali.

BACA JUGA:  Polymarket Memanas, Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed Melesat

Meski demikian, sejumlah pejabat pemilu mulai mengambil langkah pencegahan. Di Delaware County, Pennsylvania, Election Director Jim Allen meminta larangan perdagangan prediction market dimasukkan ke dalam sumpah petugas pemilu. DeMarinis berencana mendorong kebijakan serupa di Maryland.

Pejabat pemilu juga menilai edukasi publik semakin penting, terutama untuk menegaskan bahwa odds Polymarket dan prediction market lainnya tidak sama dengan polling, apalagi hasil penghitungan suara.

Persoalan ini kemungkinan belum selesai sebelum midterm berlangsung. Pengadilan AS masih menangani sejumlah sengketa mengenai kewenangan negara bagian untuk mengatur atau melarang pasar prediksi berdasarkan undang-undang perjudian.

Dengan miliaran dolar berpotensi diperdagangkan pada kontrak mengenai penguasaan Senat, DPR hingga pemilihan Gubernur, pemilu AS 2026 kini berpeluang menjadi salah satu ujian terbesar mengenai seberapa jauh prediction market dapat masuk ke dalam arena politik nyata.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait