Polymarket vs Kalshi: Mana yang Cocok Buat Pasang Prediksi?

Polymarket vs Kalshi adalah dua platform pasar prediksi populer dengan pendekatan berbeda. Polymarket unggul di sisi desentralisasi dan kripto, sementara Kalshi menonjol lewat legalitas dan kemudahan berbasis fiat. Berikut ini adalah ulasan dan perbandingan keduanya.

BACA JUGA: Layer 1 Aster vs Hyperliquid: Begini Perbandingan Lengkap Antara Keduanya!

Polymarket vs Kalshi: Apa Itu Pasar Prediksi?

Tampilan Polymarket
Tampilan platform Polymarket.

Sebelum masuk ke perbandingan Polymarket vs Kalshi, kamu perlu paham dulu konsep pasar prediksi. Singkatnya, pasar prediksi adalah platform yang memungkinkan pengguna “memasang prediksi” atas suatu peristiwa di masa depan, mulai dari hasil pemilu, harga aset kripto, hingga kejadian sehari-hari. Jika prediksimu benar, kontrak yang kamu pegang akan bernilai penuh dan memberikan keuntungan.

Baik Polymarket maupun Kalshi sama-sama memanfaatkan mekanisme ini, tetapi dibangun dengan filosofi yang berbeda. Inilah yang membuat perbandingan keduanya menarik untuk dibahas.

IKLAN
Chat via WhatsApp

BACA JUGA: Apa Itu Token Terminal? Ini Harga dan Cara Pakainya!

Legalitas Polymarket vs Kalshi

Dari sisi legalitas, Polymarket vs Kalshi punya perbedaan paling mencolok. Kalshi merupakan platform pasar prediksi yang legal di Amerika Serikat karena beroperasi di bawah pengawasan CFTC (Commodity Futures Trading Commission). Artinya, semua pasar yang tersedia di Kalshi telah melewati proses persetujuan regulator, sehingga memberikan rasa aman bagi pengguna yang mengutamakan kepastian hukum.

Sebaliknya, Polymarket beroperasi sebagai platform terdesentralisasi berbasis blockchain dan bersifat internasional. Polymarket sempat membatasi operasinya di AS karena isu regulasi, dan secara umum dianggap sebagai platform offshore.

Di Indonesia sendiri, baik Polymarket maupun Kalshi belum memiliki regulasi khusus, sehingga hingga saat ini masih dapat diakses secara normal melalui internet. Namun, kamu tetap perlu sadar bahwa aspek regulasi ini bisa berubah sewaktu-waktu.

BACA JUGA:  Tragis! Anak Purbaya Rungkad Rp4,9 Miliar Akibat Crypto Crash Hari Ini

Kemudahan Penggunaan

Jika kamu membandingkan Polymarket vs Kalshi dari sisi kemudahan penggunaan, Kalshi cenderung lebih ramah bagi pemula.

Platform ini menggunakan mata uang fiat (USD), sehingga kamu bisa melakukan deposit melalui transfer bank atau kartu tanpa perlu dompet kripto. Antarmukanya juga sederhana dan mudah dipahami, bahkan untuk pengguna yang baru pertama kali mencoba pasar prediksi.

Polymarket, di sisi lain, lebih cocok untuk pengguna yang sudah familiar dengan dunia kripto. Platform ini berjalan di blockchain dan menggunakan stablecoin USDC sebagai alat transaksi.

Untuk mulai trading, kamu harus menghubungkan dompet kripto terlebih dahulu. Bagi sebagian orang, proses ini terasa lebih kompleks, tetapi bagi kripto-enthusiast, justru menjadi nilai tambah karena sepenuhnya berbasis Web3.

Topik Pasar yang Ditawarkan

Tampilan Kalshi
Tampilan platform Kalshi.

Dalam hal topik pasar yang ditawarkan, keduanya sama-sama unggul soal variasi topik pasar.

Polymarket dikenal sangat fleksibel karena siapa pun bisa membuat pasar prediksi baru dengan cepat. Topiknya sangat luas, mulai dari politik global, olahraga, kripto, hingga budaya pop.

Kalshi juga menawarkan banyak kategori pasar, tetapi dengan pendekatan yang lebih terkurasi.

Karena berada di bawah pengawasan regulator AS, setiap pasar harus disetujui terlebih dahulu. Akibatnya, jumlah pasar mungkin tidak secepat Polymarket, tetapi biasanya lebih terstruktur dan relevan dengan isu makro seperti ekonomi, cuaca, pemilu, dan harga aset.

Biaya Transaksi

Soal biaya, Polymarket dan Kalshi kembali menunjukkan perbedaan filosofi. Polymarket tidak mengenakan biaya platform untuk trading. Tidak ada fee deposit, penarikan, maupun transaksi, meskipun kamu tetap perlu memperhitungkan biaya gas blockchain.

Kalshi menerapkan biaya transaksi kecil pada setiap kontrak yang diperdagangkan dengan standar fee berkisar antara US$0,07 – US$1,75 per 100 kontrak. Biaya ini biasanya berupa persentase kecil dari potensi keuntungan dan sudah dijelaskan secara transparan. Meski kecil, fee ini tetap memengaruhi keuntungan bersih yang kamu terima.

BACA JUGA: Ini Perbandingan Biaya dan Withdraw Limit Rupiah di Crypto Exchange Indonesia

Potensi Keuntungan

Dari sisi potensi keuntungan, Polymarket dan Kalshi sebenarnya sama-sama menawarkan return yang menarik. Setiap kontrak prediksi umumnya akan bernilai penuh jika hasilnya benar. Keuntunganmu berasal dari selisih harga beli dengan nilai akhir kontrak tersebut.

Polymarket sering dianggap lebih menarik bagi trader kripto karena tidak ada potongan biaya platform, sehingga keuntungan yang diperoleh bisa lebih maksimal. Namun, kamu juga harus siap menghadapi risiko volatilitas pasar kripto.

Kalshi sendiri menawarkan potensi keuntungan serupa, tetapi dengan potongan biaya transaksi kecil sebagai konsekuensinya.

BACA JUGA:  7 Prompt ChatGPT Terbaru 2026 untuk Trading Kripto, Wajib Coba!

Jadi, Polymarket vs Kalshi, Pilih yang Mana?

Secara keseluruhan, Polymarket dan Kalshi menawarkan pengalaman yang berbeda. Polymarket cocok untuk kamu yang nyaman dengan blockchain, crypto wallet, dan ingin merasakan pasar prediksi yang cepat serta tanpa biaya platform.

Sementara itu, Kalshi lebih ideal bagi pengguna yang mengutamakan legalitas, kemudahan penggunaan, dan transaksi berbasis fiat. Apa pun pilihanmu, memahami perbedaan keduanya adalah langkah awal yang penting sebelum terjun ke dunia pasar prediksi.

Mau belajar crypto dan blockchain lebih lanjut? Yuk, pelajari selengkapnya hanya di Blockchain Media Indonesia! [msn]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait

Iklan Bitget Blockchain Media Indonesia