Pasar keuangan global memasuki fase reflektif setelah volatilitas tinggi. Investor mulai menata ulang ekspektasi terhadap aset berisiko, termasuk kripto, seiring perubahan kebijakan moneter dan meningkatnya peran institusi.
Bitcoin (BTC) kembali menjadi sorotan sebagai indikator sentimen risiko global. Pergerakannya saat ini dinilai semakin dipengaruhi oleh faktor struktural, bukan sekadar spekulasi jangka pendek.
Laporan 2026 Crypto Outlook Bybit dan Block Scholes yang dirilis pada Senin (05/01/2026) menyajikan pandangan berbeda. Alih-alih memprediksi pasar bearish pasca-halving, laporan ini membuka peluang lanjutan tren jangka panjang dengan Bitcoin sebagai pusatnya.
Siklus Empat Tahunan Bitcoin Mulai Kehilangan Relevansi
Selama lebih dari satu dekade, siklus empat tahunan Bitcoin kerap dijadikan kerangka utama membaca arah pasar. Polanya konsisten: konsolidasi sebelum halving, reli pasca-halving, pencetakan ATH, lalu koreksi tajam menuju bear market. Namun, data menunjukkan kebalikannya.
“Kami meyakini bahwa siklus telah keluar dari pola tradisional empat tahunan, terutama karena perubahan struktural pada permintaan. Bitcoin dan Ethereum Spot ETF mengubah pembeli utama, dari ritel menjadi investor institusional,” jelas mereka.
Hal ini terlihat pada siklus 2024–2025, di mana Bitcoin justru mencetak ATH sebelum halving, tepatnya pada Maret 2024, dipicu oleh peluncuran BTC ETF di AS. Fenomena ini belum pernah terjadi pada siklus sebelumnya dan menjadi sinyal awal perubahan struktur permintaan.
Secara historis, puncak siklus sebelumnya (2014, 2018, dan 2022) selalu diikuti drawdown lebih dari -60 persen. Sebaliknya, penurunan dari ATH Oktober 2025 di kisaran US$126.000 hanya mencapai sekitar -30 persen, jauh lebih dangkal dibanding siklus-siklus terdahulu.

Durasi saat ini juga lebih panjang dari siklus halving sebelumnya. Hal ini memperkuat indikasi bahwa pergerakan harga Bitcoin kini tidak lagi sepenuhnya dikendalikan oleh mekanisme halving, melainkan oleh faktor makro dan institusional.
ETF dan Institusi Mengubah Peta Permintaan Bitcoin
Perubahan besar datang dari sisi permintaan. Jika pada siklus lama pembeli utama BTC adalah ritel, kini peran tersebut diambil alih oleh institusi melalui ETF dan DAT. Hingga 2025, Bitcoin ETF menguasai lebih dari 6 persen suplai BTC yang beredar, setara sekitar 1,3 juta BTC.
Peralihan ini juga tercermin pada strategi korporasi. Selain ETF, perusahaan publik seperti Strategy (MSTR) secara agresif menambah Bitcoin di neraca mereka. Dua entitas besar, Strategy dan Bitmine, menguasai sekitar 3,2 persen total kripto yang dimiliki perusahaan publik.
Perubahan di sisi kepemilikan berdampak langsung pada struktur pasar crypto. Dominasi Bitcoin tetap tinggi dan tidak turun sedalam siklus 2016 dan 2020. Pada siklus ini, setiap pelemahan dominasi BTC lebih banyak mengalir ke Ethereum.
“Perbedaan besar pertama dalam siklus saat ini terlihat pada pergerakan dominasi Bitcoin. Pada siklus-siklus sebelumnya, kapitalisasi pasar BTC relatif terhadap total kapitalisasi pasar kripto biasanya turun tajam, yang menandai awal dari “musim altcoin” klasik.

Meski basis investor kini lebih berorientasi jangka panjang, risiko volatilitas belum sepenuhnya hilang. Peristiwa likuidasi besar pada 10 Oktober 2025 menunjukkan bahwa gejolak masih dapat muncul ketika leverage terpaksa keluar dari pasar.
BTC Bisa Menyentuh US$150.000 di 2026
Di sinilah narasi harga Bitcoin 2026 menjadi menarik. Pasar derivatif saat ini hanya memberi probabilitas sekitar 10,3 persen bagi Bitcoin untuk diperdagangkan di atas US$150.000 pada akhir 2026. Sementara itu, Polymarket memasang peluang lebih tinggi, sekitar 22 persen.

Block Scholes menilai angka tersebut terlalu rendah. Dengan asumsi lingkungan makro tetap kondusif, termasuk lanjutan siklus pemangkasan suku bunga The Fed serta dukungan regulasi dari pemerintahan AS yang pro-kripto, peluang Bitcoin mencetak ATH baru akan semakin besar.
“Dengan lingkungan makroekonomi yang mendukung aset berisiko serta berlanjutnya dukungan regulasi dari pemerintahan Trump, kami menilai probabilitas terlalu rendah. Kami memberikan peluang yang lebih besar bagi Bitcoin untuk mencetak rekor tertinggi baru di US$150.000 pada 2026,” tegas mereka.
Hubungan Bitcoin dengan pasar saham AS juga menjadi faktor kunci. Pada 2025, S&P 500 naik lebih dari 16 persen, sementara Bitcoin turun 6 persen. Jika korelasi positif BTC–S&P 500 selaras, BTC berpeluang berada di kisaran US$120.000 dan membuka ruang reli lanjutan.

Meski demikian, laporan mengingatkan risiko eksternal, terutama dari Jepang. Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang ke sekitar 2,1 persen berpotensi memicu gejolak global jika yen carry trade dilepas secara masif.
Namun, jika berbagai risiko eksternal dapat dikelola, prospek harga Bitcoin pada 2026 dinilai positif. Dengan dukungan faktor makro, institusional, dan regulasi, laporan menyimpulkan bahwa pasar saat ini masih meremehkan peluang bagi Bitcoin untuk menembus US$150.000.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



