Pergerakan harga Bitcoin dalam beberapa waktu terakhir memicu kekhawatiran di kalangan investor dan trader. Setelah sempat stagnan di area US$80.000, BTC akhirnya tertekan hingga menyentuh US$77.000 pada Sabtu dini hari, di tengah gelombang likuidasi besar yang kembali mengguncang pasar kripto.
Zona US$75.000 Dianggap Bottom Siklus Bitcoin
Beradasarkan analisis harga Bitcoin terbaru yang diunggah oleh PlanC pada menyebut area US$75.000–US$80.000 sebagai kandidat kuat titik bottom siklus Bitcoin saat ini. Menurutnya, ada peluang bahwa zona tersebut menjadi penurunan terdalam dalam bull run Bitcoin kali ini.
PlanC menyoroti bahwa koreksi Bitcoin saat ini sudah mencapai sekitar 38 persen dari rekor tertingginya di US$126.000 yang tercapai pada 6 Oktober 2025. Angka tersebut, menurutnya, masih sejalan dengan pola historis bull market Bitcoin yang kerap mengalami koreksi.
“Zona US$75.000–US$80.000 merepresentasikan koreksi 37 persen hingga 40 persen. Ada peluang besar bahwa ini akan menjadi peluang koreksi terdalam dalam bull run Bitcoin kali ini,” jelasnya di X, Minggu (01/02/2026).
Namun tidak semua analis sepakat bahwa bottom Bitcoin saat ini sudah terbentuk. Trader veteran ternama, Peter Brandt, memproyeksikan bahwa harga BTC masih bisa turun hingga US$60.000 pada Q3 2026.
“Saya menilai ada peluang sekitar 30 persen bahwa BTC sudah mencapai puncaknya dalam siklus bull market ini. Jika terjadi, target berikutnya adalah ke kisaran US$60.000–US$70.000 pada November 2026,” jelasnya, Jumat (15/08/2025).
Tak hanya Brand, pandangan serupa bahwa harga Bitcoin masih bisa turun juga datang dari analis makro kripto Benjamin Cowen, yang menempatkan titik terendah siklus di sekitar akhir 2026.
“Jika mengacu pada pola historis, titik terendah siklus pasar Bitcoin diperkirakan akan terjadi pada rentang 3 hingga 11 Oktober 2026, dengan selisih beberapa hari,” tulis Cowen di X, Minggu (01/02/2026).
Cowen menekankan bahwa pasar kemungkinan masih akan diwarnai reli sementara sebelum mencapai bottom final. Kondisi ini berisiko menjebak pelaku pasar yang tampaknya terlalu cepat mengantisipasi rebound berkelanjutan.
Sinyal On-Chain dan Risiko Bearish Berkepanjangan
Dari sisi teknikal, analis Rekt Capital menyoroti hilangnya 21-week exponential moving average (EMA), sinyal yang secara historis sering mendahului fase bearish lanjutan. Sejak crossover EMA bull market terjadi, harga Bitcoin tercatat telah terkoreksi cukup dalam.
“Sejak crossover tersebut terjadi, harga Bitcoin telah turun sekitar 17 persen, dari US$90.000 ke US$78.000. Pola historis menunjukkan bahwa masih ada potensi kelanjutan penurunan seiring berjalannya waktu,” tegasnya di X, Minggu (01/02/2026).

Sinyal kehati-hatian juga datang dari data on-chain. Platform analitik CryptoQuant menilai harga spot Bitcoin yang bergerak di bawah realized price holder jangka menengah, yakni investor dengan periode kepemilikan 12–18 bulan, sebagai indikasi risiko struktural.
Kontributor CryptoQuant, Crazzyblockk, menjelaskan bahwa kondisi ini menandai peralihan dari koreksi normal menuju fase bearish berkepanjangan. Saat BTC bertahan di bawah realized cost yang datar atau naik, reli cenderung gagal akibat tekanan jual dari investor yang ingin keluar.
“Perlambatan ini menjadi sinyal krusial karena mencerminkan melemahnya keyakinan marginal, bukan aksi beli agresif saat harga turun. Dalam siklus sebelumnya, pola seperti ini kerap mendahului fase distribusi yang lebih luas,” jelasnya.

Dengan sinyal teknikal dan on-chain yang belum sejalan, zona US$75.000–US$80.000 kini menjadi pusat perhatian pasar. Area ini dinilai krusial untuk menentukan apakah Bitcoin mampu membentuk titik bottom sebelum rebound, atau justru melanjutkan koreksi yang lebih dalam.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



