Prediksi Harga Bitcoin Menggunakan Moving Average

Prediksi harga Bitcoin menggunakan Moving Average (MA) bisa dilakukan oleh siapa saja. Terpenting di sini adalah memahami konsep dasarnya.

Karena indikator MA adalah universal, tak hanya untuk Bitcoin, ia bisa digunakan untuk aset kripto lain, termasuk kelas aset lain, seperti saham ataupun valas.

MA dan Analisis Teknikal

MA adalah satu dari sekian banyak indikator dalam analisis teknikal. Namun, apa sebenarnya analisis teknikal itu?

Analisis teknikal secara sederhana adalah mengkaji pola gerakan harga di masa lalu agar bisa diproyeksikan alias diprediksi untuk masa depan.

Disebut teknikal karena sejatinya analisisnya menggunakan formula matematis. Namun kini piranti lunak mempermudah kita. Misalnya Tradingview.com.

Analisis teknikal direpresentasikan dalam grafik. Lazimnya grafik gerakan harga digambarkan dalam bentuk candle stick.

Setiap candle stick mewakili gerakan harga tertentu, sesuai dengan time frame alias rentang waktu yang digunakan, misalnya per menit, per hari ataupun per minggu.

Salah satu prinsip analisis teknikal yang dianut secara umum adalah harga cenderung berulang.

Dalam bahasa Inggris ini dikenal dengan history tend to repeat itself.

Maksudnya adalah, kenaikan ataupun turunnya harga cenderung berulang di masa depan, berdasarkan harga di masa lampau. Disebut “cenderung” karena tidak selalu terjadi.

Apa Itu Moving Average?

Moving Average adalah indikator yang menyederhanakan/memperhalus gerakan harga. Caranya adalah dengan membuat pergerakan harga rata-rata (average) yang terus diperbarui.

Contoh sederhana di luar aset kripto dan saham adalah seperti ini. Misalnya nilai penjualan mobil di sebuah show room selama 3 bulan terakhir.

Pada Januari 2021 misalnya terjual 100 unit, lalu Februari 50 unit. Kemudian pada Maret 2021 naik melebihi Januari, yakni 150 unit.

Itulah yang disebut tren nilai ataupun harga, yakni naik, turun lalu naik. Ini adalah sebuah pola.

Nah, agar lebih mudah kita membaca tren itu, maka kita harus menghitung nilai rata-ratanya.

Caranya sangat mudah, yaitu semua nilai ditambahkan, lalu dibagi dengan periode waktunya. Dalam hal ini adalah bulanan, Januari-Maret.

Hasilnya begini: 100+50+150= 300. Kemudian dibagi 3. Maka nilai rata-ratanya adalah: 100.

Nah, nilai 100 itu adalah moving average alias rata-rata bergeraknya harga dalam kurun waktu tertentu.

Di dalam grafik, ketiga angka itu bisa ditampilkan dalam bentuk candle stick dan harga rata-ratanya (MA) dalam bentuk garis.

Pergerakan itu diambil selama periode waktu tertentu, seperti 10 hari, 20 menit, 30 minggu atau periode waktu yang dipilih trader.

Mengapa Menggunakan Moving Average?

Seperti yang disebutkan di atas, fungsi MA adalah memperhalus penampakan gerak harga.

Kalau datanya sangat banyak, misalnya sudah berlangsung 10 tahun, lalu gerakannya pun naik-turun cepat secara 1 jam-an atau 1 menitan, maka MA sangat membantu sekali.

Kesulitan membaca data tanpa menggunakan MA biasanya disebut noise. Nah, MA menghilangkan noise itu.

Contoh grafik pergerakan harga BTC/USD dengan time-frame satu menit tanpa menggunakan moving average. Sumber: Tradingview.com
Contoh grafik pergerakan harga BTC/USD dengan time-frame satu menit menggunakan moving average (ditampilkan dalam bentuk garis). Sumber: Tradingview.com.

Pada gambar di atas, setelah menerapkan MA, gerakan harga lebih mudah dibaca. MA ditampilkan dalam bentuk garis yang saling menyilang.

Moving Average Length

Mengapa garis MA banyak sekali, warnanya berbeda-beda dan posisinya juga berbeda pada gambar di atas? Ini yang disebut dengan panjang MA alias Moving Average Length.

Misalnya pada grafik di atas, MA berwarna biru muda adalah MA50. Artinya panjang MA tersebut adalah “rata-rata 50” terhadap harga.

Ada pula MA10. Di grafik di atas berwarna kuning. Demikian seterusnya. Panjang MA dan warna-warna ini bisa diubah kapan saja sesuai kebutuhan. Anda bisa menggunakan aplikasi web Tradingview.

Semakin besar angkanya, maka semakin halus gerakan harga yang ditampilkan. Demikian pula sebaliknya, jika angkanya semakin kecil, maka semakin kurang halus ditampilkan.

Sebenarnya Anda bisa saja menggunakan satu MA saja, misalnya MA10. Di sini kita bisa melihat ke mana harga/nilai melaju. Apakah cenderung naik atau turun.

Menggunakan hanya satu MA untuk melihat pergerakan harga. Sumber: Tradingview.com.

Prediksi Harga Bitcoin: Sinyal Jual-Beli

Pada grafik di atas, hanya menggunakan MA10. Cara membacanya adalah. Pertama, ketika candle stick (mewakili gerakan harga real yang naik dan turun), berada di atas garis MA, maka disebut harga dalam tren naik.

Kedua, dan sebaliknya, jika candle stick berada di bawah garis MA, maka harga bergerak turun.

Artinya, ketika candle stick mulai berada di atas MA, ini memberikan kita sinyal untuk mulai membeli alias entry.

Dan sebaliknya, ketika candle stick mulai berada di bawah MA, ini memberikan kita sinyal untuk mulai mejual alias exit.

MA Banyak, Sinyal Lebih Jelas

Nah, penggunaan Moving Average Length yang berbeda-beda dan banyak membantu kita untuk menentukan kapan kita membeli dan menjual aset secara lebih akurat.

Misalnya kita menerapkan 3 MA sekaligus, yakni MA10 (kuning), MA30 (merah) dan MA50 (hijau). Lihat gambar berikut.

Perhatikan pada lingkaran pertama di sisi kiri, ketika garis MA10 menyilang (crossing) dari bawah ke atas MA yang lebih panjang, yakni MA30 dan MA50, maka harga sedang bergerak naik. Lihatlah, bahwa rata-rata candle stick berada di atas garis MA10.

Persilangan itu yang juga disebut dengan istilah golden cross, yang menggambarkan support (penopang).

Dan sebaliknya, perhatikan lingkaran putih di sisi kanan, ketika MA10 menyilang dari atas ke bawah MA yang lebih panjang, yakni MA30 dan MA50, maka harga bergerak turun.

Perhatikan, bahwa rata-rata candle stick berada di atas bawah garis MA10.

Persilangan itu yang disebut dengan istilah death cross yang menggambarkan resistance (tahanan).

Kesimpulan di sini adalah prediksi harga Bitcoin dengan MA yang banyak dengan panjang yang berbeda, lebih memudahkan kita melihat ke mana harga akan bergerak.

Kata kuncinya di sini adalah perhatikan persilangan (crossing) garis MA terpendek dengan MA yang lebih panjang.

Exponential Moving Averages

Indikator MA memiliki banyak varian. Salah satunya popular digunakan adalah Exponential Moving Averages (EMA).

Perbedaannya adalah garis EMA cenderung lebih peka terhadap perubahan harga daripada MA biasa.

Penggunan MA30 (putih) dengan EMA30 (merah). EMA 30 lebih peka terhadap perubahan harga daripada MA30. Artinya EMA memberikan sinyal lebih awal. Sumber: Tradingview.

Artinya EMA akan memberikan sinyal lebih awal daripada MA, walaupun panjangnya sama. Penggunaan EMA barangkali tepat bagi daily trader alias scalping khususnya di bursa berjangka.

Kelemahan MA

Prinsip dasar MA adalah berdasarkan data harga masa lalu, kemudian dihitung secara rata-rata.

Namun, cara seperti itu hasilnya malah lebih acak daripada yang kita inginkan. Kalau sudah begini, sinyal malah bisa keliru.

Prediksi harga Bitcoin dengan MA jarang digunakan ketika harga bergerak relatif sideways, di mana harga bergerak bolak-balik antara support dan resisten di rentang yang pendek.

Harga Bitcoin dalam keadaan sideway (kotak putih). Sumber: Tradingview.com.

Sejumlah trader menyarankan menggunakan MA hanya ketika tren harga secara mencolok memang dalam tren naik ataupun turun.

Kesimpulan Prediksi Harga Bitcoin

Prediksi harga Bitcoin menggunakan MA menyederhanakan data harga dengan merapikannya dan membuatnya dalam bentuk garis. Ini membuat melihat tren lebih mudah.

EMA bereaksi lebih cepat terhadap perubahan harga daripada MA. Dalam beberapa hal, MA dan EMA bagus. Tetapi dalam hal lain ketika keadaan sideway, malah “sinyal palsu” yangn diterima.

Panjang MA yang pendek lebih cepat merespons perubahan harga daripada yang lebih panjang, misalnya 100 ataupun 200.

MA yang lebih panjang biasanya digunakan untuk trading jangka yang sangat panjang, bisa tahunan.

Perpotongan antar MA dengan panjang yang berbeda bisa digunakan untuk membeli dan menjual. [bar]

Terkini

Warta Korporat

Terkait