Klaim bahwa Iran memungut biaya kapal tanker menggunakan Bitcoin mengguncang pasar. Namun, di balik narasi yang terdengar revolusioner ini, muncul keraguan besar dari pelaku industri. Salah satu suara paling lantang datang dari Arthur Hayes.
Klaim Pungutan Kripto Selat Hormuz Picu Skeptisisme
Kontroversi ini bermula dari laporan bahwa Iran mengenakan biaya bagi tanker yang melintasi Selat Hormuz. Menurut Hamid Hosseini, juru bicara asosiasi ekspor minyak dan petrokimia Iran, kapal diwajibkan mengirimkan detail kargo melalui email sebelum menerima tagihan.
Biaya yang dikenakan sekitar US$1 per barel minyak. Untuk kapal supertanker, nilainya bisa membengkak hingga sekitar US$2 juta atau setara ratusan BTC. Pembayaran diklaim dapat dilakukan menggunakan kripto, termasuk Bitcoin, atau yuan China.
Menariknya, jendela pembayaran disebut hanya berlangsung dalam hitungan detik. Skema ini diduga dirancang agar transaksi sulit dilacak atau disita di tengah tekanan sanksi. Pengawasan dan penegakan aturan tersebut disebut berada di bawah kendali IRGC.
Namun, di titik ini keraguan mulai mencuat. Pendiri BitMEX, Arthur Hayes, merespons kabar tersebut dengan nada skeptis melalui tweet di platform X pada Kamis (09/04/2026).
“Aku baru akan percaya Iran benar-benar memungut biaya dalam BTC jika ada bukti transaksi yang terhubung langsung dengan pembayaran tol kapal. Kalau tidak, ini hanya akal-akalan IRGC untuk menyindir sistem keuangan fiat Barat,” tulisnya.
Data Lapangan Tak Sejalan, Narasi Kian Dipertanyakan
Di tengah klaim yang beredar, data pergerakan kapal justru menunjukkan kondisi berbeda. Meski ada gencatan senjata dua minggu antara AS dan Iran, lalu lintas tanker di Selat Hormuz tetap minim.
Laporan firma intelijen Kpler menyebut hampir tidak ada kapal minyak maupun gas yang beroperasi sejak kesepakatan berlaku. Ratusan kapal masih tertahan, sementara jalur yang biasanya dilalui sekitar 135 kapal per hari kini nyaris lumpuh.
Sebelumnya, berbagai laporan menyebutkan bahwa sebagian kapal membayar menggunakan yuan atau stablecoin seperti Tether untuk pengawalan IRGC. Namun, hingga kini belum ada bukti transaksi Bitcoin yang bisa diverifikasi secara on-chain.
Iran Ancam Hancurkan Kapal di Selat Hormuz, Gencatan Senjata Masih Rapuh
Keraguan pun kian meluas. Sejumlah pihak menyebutnya sebagai “geopolitical shitposting”, sementara spekulasi lain muncul bahwa Iran juga menerima token USD1 yang dikaitkan dengan Donald Trump.
“Laporan menyebut Iran menuntut pembayaran kripto dari tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz. Pembayaran dapat dilakukan menggunakan Bitcoin, USDT… bahkan termasuk USD1 yang dikaitkan dengan Trump,” tulis akun yang disebut berkaitan dengan Mossad.
Pasar Bereaksi, Tapi Bukti Masih Nihil
Terlepas dari kontroversi, pasar kripto sempat merespons positif. Harga Bitcoin naik ke kisaran US$72.800 setelah kabar ini mencuat, sebelum kembali terkoreksi ke sekitar US$72.000 di tengah memanasnya situasi geopolitik.
Jika suatu saat muncul bukti transaksi on-chain yang menghubungkan pembayaran Bitcoin, hal ini berpotensi menjadi tonggak penting dalam penggunaan kripto oleh negara. Namun, hingga kini, klaim tersebut masih berada di wilayah abu-abu.

Untuk saat ini, seperti yang ditegaskan Arthur Hayes, tanpa bukti konkret di blockchain, narasi pembayaran kripto oleh kapal tanker di Selat Hormuz lebih terlihat sebagai drama ketimbang realitas.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



