Perbandingan QRIS vs Kripto semakin relevan karena pembayaran lintas negara kini tidak lagi bergantung sepenuhnya pada kartu, uang tunai, atau layanan remitansi tradisional. Dari Indonesia, kamu bisa membayar di beberapa negara menggunakan QRIS antarnegara. Di sisi lain, aset kripto dan stablecoin juga menawarkan cara baru untuk memindahkan nilai secara global melalui jaringan blockchain.
Namun, mana yang lebih baik? Yuk, temukan jawabannya melalui penjelasan berikut ini!
BACA JUGA:Â Kenapa Crypto Menarik untuk Investasi Jangka Panjang?
Ringkasan QRIS vs Kripto
QRIS, atau Quick Response Code Indonesian Standard, adalah standar pembayaran berbasis QR yang digunakan di Indonesia. Dalam versi antarnegara, QRIS memungkinkan pengguna aplikasi pembayaran Indonesia melakukan transaksi di merchant negara mitra dengan memindai QR lokal, seperti PromptPay di Thailand atau jaringan QR lain yang sudah terhubung.
Alurnya sederhana. Kamu membuka aplikasi pembayaran Indonesia, scan QR merchant luar negeri, melihat nominal dalam rupiah, lalu menyelesaikan pembayaran dengan PIN atau biometrik. Kurs dikonversi otomatis, notifikasi transaksi muncul real-time, dan jika ada masalah, pengguna bisa menghubungi penyedia jasa pembayaran di Indonesia.
Kripto bekerja dengan cara berbeda. Bitcoin, Ether, USDT, USDC, dan aset digital lain berjalan di atas blockchain. Untuk pembayaran atau transfer, pengguna perlu memiliki wallet atau akun exchange, memilih aset, memilih jaringan, lalu mengirim dana ke alamat tujuan.
Stablecoin seperti USDT dan USDC lebih sering digunakan untuk transaksi lintas negara karena nilainya dirancang mengikuti dolar AS, sehingga lebih stabil dibanding kripto biasa.
BACA JUGA:Â Begini Cara Tether Untung Rp160 Triliun dari “Mencetak” USDT!
Keunggulan QRIS untuk Pembayaran Lintas Negara
Terkait perbandingan QRIS vs Kripto, QRIS unggul dari sisi kemudahan. Pengguna tidak perlu memahami wallet address, private key, seed phrase, gas fee, atau perbedaan jaringan blockchain. Pengalaman transaksinya mirip seperti menggunakan QRIS di Indonesia.
Ini penting karena mayoritas pengguna tidak ingin sistem pembayaran yang rumit. Mereka hanya ingin transaksi cepat, jelas, dan aman. Untuk turis Indonesia, QRIS antarnegara sangat cocok digunakan saat makan di restoran, berbelanja, membayar transportasi, atau melakukan transaksi ritel di negara mitra.
QRIS juga lebih jelas dari sisi regulasi. Di Indonesia, rupiah tetap menjadi alat pembayaran yang sah. Aset kripto boleh diperdagangkan sebagai aset digital dalam kerangka regulasi, tetapi tidak boleh digunakan sebagai alat pembayaran barang dan jasa. Karena itu, untuk merchant Indonesia, menerima kripto secara langsung sebagai pembayaran bukan pilihan yang aman secara hukum.
Selain itu, QRIS sudah punya ekosistem besar. Bank Indonesia mencatat QRIS telah menjangkau puluhan juta pengguna dan puluhan juta merchant di Indonesia, dengan mayoritas berasal dari UMKM.
Batasan QRIS Antarnegara
Meski praktis, QRIS antarnegara belum bisa digunakan di semua negara. Jangkauannya bergantung pada kerja sama antarnegara, aplikasi pembayaran yang mendukung, serta merchant yang sudah terhubung dengan jaringan QR lokal.
Bank Indonesia menyebut cakupan QRIS antarnegara sudah mencakup beberapa negara seperti Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan yang terbaru Tiongkok. Namun, wilayah yang lebih luas seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa belum tersedia hingga saat ini.
Selain itu, QRIS lebih ditujukan untuk pembayaran merchant, bukan transfer uang antarindividu secara global. Jadi, jika tujuan kamu adalah mengirim uang ke keluarga atau rekan di luar negeri, QRIS bukan jalur paling fleksibel.
QRIS juga tetap memiliki risiko kurs. Walau nominal rupiah tampil di aplikasi sebelum pembayaran, nilai transaksi tetap bergantung pada konversi mata uang yang berlaku. Karena itu, pengguna tetap perlu mengecek nilai akhir sebelum menyetujui transaksi.
Keunggulan Kripto dan Stablecoin
Kripto, khususnya stablecoin, unggul dalam fleksibilitas transfer lintas negara. Transaksi bisa dilakukan 24/7 tanpa menunggu jam operasional bank. Jika kedua pihak sudah punya wallet atau akun exchange, stablecoin bisa dikirim dengan cepat ke berbagai negara.
Stablecoin seperti USDC dan USDT juga lebih stabil dibanding Bitcoin atau Ether karena nilainya mengikuti dolar AS. Inilah alasan stablecoin sering dibahas sebagai alternatif untuk remitansi atau transfer dana global, terutama di wilayah yang biaya layanan keuangannya tinggi atau akses perbankannya terbatas.
Contohnya, seseorang di luar negeri dapat mengirim USDC ke penerima di Indonesia. Penerima kemudian menjual USDC tersebut ke rupiah melalui exchange yang mendukung, lalu menarik dananya ke rekening bank. Jika semua proses berjalan lancar, alur ini bisa cepat dan efisien.
Namun, keunggulan ini lebih cocok untuk pengguna yang sudah paham kripto. Bagi pemula, prosesnya bisa membingungkan karena ada banyak langkah teknis yang harus dilakukan dengan benar.
BACA JUGA: Pakai Crypto versus Cara Biasa, Adu Hemat Kirim Uang Antar Negara
Risiko Kripto untuk Pembayaran Lintas Negara
Dalam perbandingan QRIS vs Kripto, risiko kripto jauh lebih besar bagi pengguna awam. Salah satu risiko utama adalah transaksi blockchain umumnya tidak bisa dibatalkan. Jika kamu salah memasukkan alamat wallet atau memilih jaringan yang keliru, dana bisa hilang atau sulit dipulihkan.
Selain itu, biaya kripto tidak selalu murah. Biaya transaksi bergantung pada jaringan, platform, kondisi blockchain, biaya trading, spread, dan biaya pencairan ke fiat. Mengirim stablecoin di jaringan murah bisa efisien, tetapi di jaringan yang mahal atau saat kondisi padat, biayanya bisa meningkat.
Stablecoin juga bukan tanpa risiko. Meski disebut stabil, tetap ada risiko de-peg, risiko penerbit, risiko cadangan, risiko regulasi, dan risiko likuiditas. Nilainya memang dirancang mengikuti dolar AS, tetapi bukan berarti sama dengan uang tunai di rekening bank.
Dari sisi hukum, penggunaan kripto sebagai alat pembayaran juga tidak seragam di tiap negara. Di Indonesia, kripto tidak boleh digunakan sebagai alat pembayaran. Beberapa negara lain berbeda, ada yang mengatur stablecoin, ada yang membatasi, dan ada pula yang melarang aktivitas tertentu terkait aset digital.
BACA JUGA:Â 10 Tempat Trading Crypto Tanpa KTP dan Modal Kecil Terbaru!
QRIS vs Kripto, Mana yang Lebih Baik?
Jika kebutuhan kamu adalah membayar merchant di luar negeri, QRIS lebih baik karena ini lebih mudah, lebih familiar, lebih sesuai regulasi, dan tidak menuntut pemahaman teknis. Kamu cukup scan QR, cek nominal, lalu bayar.
Jika kebutuhan kamu adalah transfer dana lintas negara ke individu lain, stablecoin bisa menjadi opsi yang menarik. Namun, ini hanya ideal jika pengirim dan penerima sama-sama paham wallet, exchange, jaringan blockchain, biaya transaksi, dan aturan hukum di negara masing-masing.
Mau belajar crypto dan blockchain lebih lanjut? Yuk, pelajari selengkapnya hanya di Blockchain Media Indonesia! [msn]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


