Harga Bitcoin kembali menarik perhatian setelah sejumlah analis menilai bahwa aset kripto terbesar di dunia ini mulai memasuki fase baru dalam siklus pasar. Saat ini, BTC bergerak di kisaran US$105.000–US$108.000 dan sempat menunjukkan tanda-tanda pelemahan.
Namun, di tengah tekanan tersebut, muncul spekulasi bahwa fase ini bisa jadi bukan awal dari bear market panjang, melainkan masa akumulasi sebelum pergerakan parabolik berikutnya.
Siklus Bull Run Bitcoin Masuki Fase Kedua
Berdasarkan pola historis yang dibagikan oleh Raoul Pal, CEO Real Vision dan mantan eksekutif Goldman Sachs, melalui podcast bersama Julien Bittel pada akhir September lalu, ia menampilkan grafik siklus Bitcoin sejak 2011 hingga 2024.
Dari data yang dibagikan oleh Pal, pasar Bitcoin kini diyakini berada di awal fase kedua dari siklus bull run yang lebih panjang — periode yang kerap menjadi pemicu kenaikan harga paling signifikan.

Pal menegaskan bahwa pasar saat ini masih berada di “fase awal dari fase kedua”. Ia menyebut bahwa Bitcoin bahkan belum benar-benar memasuki fase parabolik seperti yang terjadi pada tiga siklus sebelumnya.
“Kita baru saja mulai menembus tren. Faktanya, sebagian besar aset lain seperti total market cap, Bitcoin, dan ETH pun belum benar-benar breakout,” ujarnya.
Jika melihat grafik historis, setiap kali Bitcoin melewati dua fase koreksi besar, harga biasanya bergerak cepat dan eksponensial dalam periode yang disebut “Banana Zone” — fase ketika reli harga BTC berlangsung agresif dan mencapai puncaknya.
Menariknya, Pal menilai bahwa kali ini “Banana Zone” akan jauh lebih lebar dan bertahan lebih lama dibandingkan tiga siklus sebelumnya yang terjadi pada 2011–2012, 2014–2016, dan 2019–2020.
“Itulah mengapa pasar saat ini terlihat belum terlalu parabolik. Tapi parabola itu akan terjadi,” kata Pal, mengisyaratkan bahwa reli besar belum benar-benar dimulai.
Ia memperkirakan bentuk parabola kali ini akan berkembang lebih bertahap, seiring semakin besarnya kapitalisasi pasar kripto global dan meningkatnya adopsi institusional.
Bitcoin Siap Meledak Akhir Tahun
Pandangan Raoul sejalan dengan CNBC pada 3 Oktober 2025 yang menyebut bahwa Bitcoin berpotensi “naik parabolik” dalam dua bulan ke depan. Dalam potongan siaran langsung yang dibagikan oleh Vivek Sen, CNBC menyoroti tren yang menunjukkan potensi reli menjelang akhir tahun.
Menariknya, emas — yang selama ini dianggap sebagai aset pembanding utama Bitcoin — justru diprediksi akan bergerak mendatar atau bahkan melemah.
“Para manajer investasi kini berada dalam situasi yang sama seperti sebelumnya, dan saya pikir ada peluang besar hal itu akan terjadi lagi… kita bisa melihat reli untuk Bitcoin dan fase konsolidasi untuk emas,” ujar analis CNBC dalam siaran tersebut.
Jika pola historis kembali terulang, Q4 2025 bisa menjadi titik awal lonjakan besar berikutnya bagi Bitcoin. Sejarah mencatat bahwa fase parabolik Bitcoin sering kali dimulai setelah periode konsolidasi panjang seperti yang sedang berlangsung saat ini.
Pandangan positif ini juga diperkuat oleh siklus empat tahunan Bitcoin halving. Sejak pertama kali diluncurkan, setiap kali jumlah BTC yang ditambang berkurang setengah, harga Bitcoin cenderung naik signifikan dalam jangka menengah hingga panjang.
Mengulang Pola, Tapi Lebih Matang
Dengan sinyal yang mengarah bullish dan dukungan dari figur seperti Raoul Pal, optimisme terhadap Bitcoin kian menguat. Siklus kali ini dinilai lebih matang, didukung oleh kapitalisasi pasar kripto yang jauh lebih besar serta meningkatnya adopsi institusi.
Lalu, apakah “Banana Zone” kali ini akan menjadi fase paling spektakuler dalam sejarah Bitcoin? Pasar tampaknya sedang bersiap untuk membuktikannya. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



