Januari 2026 jelas bukan bulan yang ramah bagi investor. Hampir semua kelas aset mulai dari saham, kripto, sampai logam mulia bergerak serempak ke arah yang bikin dahi berkerut.
IHSG ambruk sampai memicu trading halt dua hari berturut-turut, Bitcoin gagal menunjukkan pemulihan meyakinkan, sementara emas dan perak yang sempat jadi pelarian justru ikut melemah. Awal tahun yang seharusnya penuh harapan malah dibuka dengan alarm keras dari pasar. Berikut ini adalah rekap investasi Januari 2026 yang bisa kamu simak:
BACA JUGA: Investor Kripto Tembus 19 Juta, Transaksi Capai Rp482 Triliun pada 2025
Gejolak IHSG Akibat Teguran MSCI
Gejolak pasar saham domestik mencapai puncaknya ketika IHSG bergejolak ekstrem hingga memaksa Bursa Efek Indonesia melakukan trading halt selama dua hari berturut-turut. Biang keladinya bukan isu sepele, tapi teguran keras dari MSCI terkait masalah transparansi dan akuntabilitas di pasar modal Indonesia.
Teguran ini datang bersama sederet konsekuensi serius. MSCI menghentikan sementara kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF), menahan penambahan jumlah saham dalam indeks, menunda kenaikan kelas indeks, bahkan membuka peluang penurunan status Indonesia dari Emerging Market ke Frontier Market.
Jika penurunan status tersebut terjadi, Indonesia akan berada sejajar dengan negara-negara berkembang berisiko tinggi lain seperti Burkina Faso, Pakistan, dan Bangladesh.

Pasar tentu tak tinggal diam. IHSG yang sempat menyentuh level 9.134 langsung berbalik arah, anjlok tajam hingga ke titik terendah 8.232 sebelum akhirnya mencoba bangkit dan ditutup di kisaran 8.329. Volatilitas ekstrem ini sukses memicu kepanikan, terutama di kalangan investor ritel.

Efek dominonya pun terasa ke ranah kebijakan. Jajaran direksi BEI dan OJK mengundurkan diri secara serempak, sementara pemerintah bergerak cepat dengan paket perbaikan struktural. Mulai dari menaikkan batas minimum free float dari 7,5 persen menjadi 15 persen, hingga melonggarkan porsi investasi dana pensiun dan asuransi di pasar saham dari 8 persen ke 20 persen.
MSCI sendiri memberi tenggat hingga Mei 2026 bagi regulator untuk membenahi isu transparansi dan akuntabilitas. Pemerintah, di sisi lain, menargetkan penyelesaian lebih cepat paling lambat Maret 2026.
Bitcoin Tak Banyak Berkutik

Di tengah kekacauan pasar saham, Bitcoin ternyata tak banyak memberi pelipur lara. Sepanjang 1 hingga 30 Januari 2026, pergerakan BTC cenderung datar dengan penurunan tipis sekitar 3,2 persen.
Berdasarkan data CoinMarketCap, harga dibuka di kisaran US$87.508 dan ditutup mendekati US$84.650.
Bitcoin memang sempat menunjukkan taringnya di pertengahan bulan. Pada 15 Januari, harga melonjak hingga mendekati US$96.931, didukung lonjakan volume harian yang menembus US$50–60 miliar. Namun, euforia itu tak bertahan lama.
Memasuki paruh akhir bulan, harga kembali melemah, bahkan sempat menyentuh level terendah di sekitar US$81.118 pada 31 Januari sebelum akhirnya bergerak stabil di bawah US$90.000.
Saat ini, volume transaksi harian rata-rata berada di kisaran US$38,44 miliar, menandakan minat pasar masih ada, tapi belum cukup kuat untuk mendorong tren naik yang berkelanjutan.
BACA JUGA: VP Indodax Singgung Beli Bitcoin Bertahap Usai Jatuh Pasca FOMC
Kilau Logam Mulia Meredam
Ironisnya, aset yang selama ini dianggap “aman” pun tak luput dari tekanan. Setelah reli konsisten, logam mulia mulai kehilangan kilau akibat aksi profit taking.
Melansir Metals Daily, pada saat artikel ini ditulis harga emas turun tajam ke kisaran US$4.868, terkoreksi lebih dari 10 persen hanya dalam 24 jam.

Perak bahkan mengalami tekanan lebih ekstrem, terjun ke level US$84 dengan penurunan hingga 28 persen dalam sehari.

Pergerakan ini menjadi pengingat pahit bahwa dalam kondisi pasar yang bergejolak, tak ada aset yang benar-benar kebal. Bahkan emas dan perak pun bisa bergerak liar ketika sentimen berubah arah.
Pelajaran Mahal di Awal Tahun
Rangkaian kejadian di rekap investasi Januari 2026 ini jelas menekan mental banyak investor, terutama pemula. Saham Indonesia, Bitcoin, hingga emas dan perak sama-sama terkoreksi dalam rentang waktu yang berdekatan.
Di balik semua itu, pasar kembali mengajarkan satu pelajaran klasik yang sering diabaikan soal pentingnya money management. Baik untuk investasi jangka panjang maupun aktivitas trading, disiplin dalam mengelola risiko sering kali lebih penting daripada sekadar memilih aset “paling populer”. Karena ketika pasar serempak berbalik arah, yang bertahan bukan yang paling berani, tapi yang paling siap.
Mau belajar crypto dan blockchain lebih lanjut? Yuk, pelajari selengkapnya hanya di Blockchain Media Indonesia! [msn]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



