Reli Bitcoin yang terjadi sejak awal tahun dinilai belum ditopang oleh masuknya likuiditas baru ke pasar kripto.
Analis on-chain Darkfost di CryptoQuant mengungkapkan bahwa sekitar US$1,2 miliar stablecoin keluar secara bersih dari Binance sepanjang Mei 2026, sebuah sinyal yang menunjukkan minat modal terhadap aset kripto masih relatif lemah.
Temuan tersebut muncul di tengah kondisi pasar keuangan global yang justru menunjukkan performa berbeda. Selama Mei, indeks saham AS seperti S&P 500 dan Nasdaq berhasil mencetak kenaikan masing-masing sekitar 5,15 persen dan 10,5 persen.
Namun di saat yang sama, BTC justru ditutup melemah sekitar 3,5 persen, mengindikasikan bahwa arus dana investor masih lebih banyak mengalir ke pasar saham dibandingkan pasar kripto.
Cadangan Stablecoin Menyusut, Reli Bitcoin Dipertanyakan
Menurut Darkfost, indikator utama yang mencerminkan kondisi tersebut adalah pergerakan stablecoin di Binance, bursa kripto dengan cadangan stablecoin terbesar di dunia.
Setelah mencatat arus masuk bersih sekitar US$2,5 miliar dan US$870 juta dalam dua bulan sebelumnya, Mei menjadi bulan yang berbeda karena terjadi arus keluar bersih sekitar US$1,2 miliar.
“Likuiditas saat ini tidak benar-benar mengalir ke pasar kripto,” ujar Darkfost.

Data yang ia paparkan menunjukkan bahwa Binance masih menguasai sekitar 68 persen cadangan stablecoin di industri. Namun, jumlah stablecoin yang tersimpan di platform tersebut terus menyusut.
Sejak November 2025, cadangan stablecoin Binance turun dari sekitar US$51 miliar menjadi US$44 miliar atau berkurang sekitar 13,7 persen.

Penurunan tersebut terjadi karena lebih banyak pengguna menarik dana dibandingkan menyetorkan modal baru ke bursa. Dalam ekosistem aset digital, stablecoin sering dianggap sebagai indikator kesiapan investor untuk membeli aset kripto.
Ketika jumlah stablecoin di bursa menurun, kemampuan pasar untuk mendukung reli harga yang berkelanjutan juga cenderung melemah.
Darkfost menilai pemulihan Bitcoin yang terlihat sejak awal tahun lebih mencerminkan reaksi teknikal setelah periode oversold yang panjang dibandingkan awal dari tren bullish baru. Menurutnya, pasar kemungkinan sedang mengalami proses penyeimbangan ulang setelah koreksi tajam yang terjadi sebelumnya.
Ia juga menegaskan bahwa reli besar yang terjadi pada akhir 2025 didukung oleh masuknya likuiditas secara konsisten, sesuatu yang hingga kini belum terlihat kembali di pasar. Karena itu, perhatian investor masih lebih banyak tertuju pada pasar saham yang sedang mencatatkan kinerja lebih kuat.
Skenario Terburuk dan Harapan Pemulihan BTC
Di tengah lemahnya aliran likuiditas tersebut, sejumlah analis lain turut menyoroti area harga yang dinilai penting bagi arah Bitcoin dalam beberapa bulan mendatang.
Analis Ali Martinez menyebut level US$72.650 sebagai area support utama yang saat ini dipantau pasar. Berdasarkan indikator MVRV Pricing Bands, level tersebut dianggap sebagai batas penting yang dapat menentukan apakah Bitcoin mampu mempertahankan struktur harga saat ini atau tidak.

Apabila support tersebut gagal dipertahankan, Martinez melihat zona permintaan berikutnya berada di kisaran US$54.300 hingga US$51.000. Area tersebut dinilai berpotensi menjadi tujuan koreksi berikutnya jika tekanan jual kembali meningkat.
Sementara itu, analis Aralez memproyeksikan pasar kripto masih berpotensi menghadapi periode sulit sebelum memasuki fase pemulihan yang lebih kuat.
Dalam proyeksinya untuk 2026, ia memperkirakan Bitcoin dapat mengalami pelemahan menuju area US$58.000 pada kuartal kedua seiring meningkatnya ketakutan di pasar dan potensi penurunan indeks S&P 500 menuju kisaran 7.400.

Menurut Aralez, fase kapitulasi berpotensi terjadi pada kuartal ketiga ketika volatilitas meningkat akibat perubahan kebijakan moneter dan transisi The Fed. Meski demikian, ia menilai investor besar atau whale kemungkinan tetap melakukan akumulasi selama periode tersebut, sehingga membentuk fondasi bagi terbentuknya dasar harga baru.
Lebih lanjut, Aralez memperkirakan tren Bitcoin dapat berbalik arah pada kuartal keempat 2026 apabila likuiditas mulai kembali masuk ke pasar kripto.
Dalam skenario tersebut, aliran modal yang kembali meningkat serta berkembangnya narasi kecerdasan buatan (AI) berpotensi menjadi faktor yang mendorong pemulihan pasar secara lebih luas.
Untuk saat ini, data stablecoin yang dipantau Darkfost menunjukkan bahwa pasar masih kekurangan bahan bakar utama untuk menopang kenaikan yang berkelanjutan.
Selama likuiditas belum kembali mengalir secara konsisten, pergerakan Bitcoin masih berisiko lebih banyak dipengaruhi faktor teknikal dibandingkan dorongan modal baru dari investor.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


