Harga Bitcoin kembali gagal menembus level psikologis penting di US$110.000 meskipun diselimuti sejumlah kabar positif dari pasar global.
Berdasarkan analisis XWIN Research Japan di CryptoQuant, pada awal pekan ini, Bitcoin sempat melonjak mendekati ambang tersebut setelah muncul optimisme terhadap rencana “tariff dividend” senilai US$2.000 yang diusulkan Presiden AS Donald Trump dan kesepakatan untuk membuka kembali pemerintahan AS. Namun, reli itu tak bertahan lama dan tekanan jual kembali mendominasi pasar.
Tekanan Makro dan Ketidakpastian Regulasi
XWIN Research Japan menilai, terdapat sejumlah faktor yang menghambat reli Bitcoin. Salah satunya adalah tekanan makroekonomi.
Meski The Fed memangkas suku bunga pada Oktober, Ketua Jerome Powell menegaskan bahwa pemangkasan lanjutan pada Desember belum tentu dilakukan. Peringatan tersebut memicu kekhawatiran baru di kalangan investor dan menekan selera risiko terhadap aset berisiko, termasuk kripto.
Selain faktor suku bunga, ketidakpastian regulasi di AS turut membebani pasar. Pemerintahan Trump memang menunjukkan sikap pro-kripto melalui dorongan terhadap GENIUS Act dan penunjukan pejabat yang mendukung industri aset digital.
Namun, kebijakan di tingkat negara bagian masih menimbulkan kekhawatiran tersendiri, terutama terkait volatilitas dan potensi tindakan penegakan hukum terhadap platform perdagangan digital.
Situasi ini membuat sebagian besar investor institusional memilih menahan diri hingga ada kejelasan lebih lanjut.
“Pasar tampaknya menghadapi gesekan antara optimisme terhadap arah kebijakan baru dan kenyataan bahwa tekanan struktural belum benar-benar mereda,” ujar analis XWIN Research Japan.
Tekanan Jual dari Pemegang Lama dan Melemahnya Sentimen
Faktor lain yang turut menekan harga datang dari perilaku pemegang jangka panjang atau long-term holder (LTH). Berdasarkan data on-chain, arus masuk Bitcoin ke bursa meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan level normal.

Menurut XWIN Research Japan, hal ini menunjukkan bahwa LTH mulai meningkatkan aktivitas jual mereka di kisaran harga US$107.000–US$118.000, yang kini menjadi zona resistance kuat di pasar.
Laporan tersebut juga menyoroti indikator LTH-SOPR (Spent Output Profit Ratio) yang mengukur tingkat realisasi keuntungan dari para pemegang jangka panjang. Nilainya terus menurun sejak Juli dan kini berada di sekitar 1,6.
Angka ini mencerminkan turunnya keyakinan investor lama untuk menahan aset mereka, dengan sebagian besar memilih untuk menjual dalam kondisi keuntungan yang semakin tipis.
Di sisi lain, sentimen pasar juga terpukul oleh sejumlah peristiwa negatif pada Oktober. Pasar mencatat rekor likuidasi posisi long, disusul gangguan penarikan dana di bursa MEXC, serta beberapa kasus peretasan besar di sektor DeFi.
Kondisi tersebut diperburuk oleh arus keluar dana dari Bitcoin ETF, yang pada akhir Oktober mencapai sekitar US$1,5 miliar. Padahal, sebelumnya arus masuk ETF inilah yang menjadi pendorong utama reli Bitcoin di kuartal sebelumnya.
Menurut laporan yang sama, kombinasi dari faktor makro, regulasi dan teknikal tersebut menciptakan hambatan struktural yang signifikan bagi pergerakan harga Bitcoin.
Investor ritel kehilangan momentum, sementara pelaku institusi masih menunggu sinyal yang lebih jelas sebelum kembali melakukan akumulasi.
Meski begitu, analis XWIN menilai peluang pemulihan masih terbuka jika tiga syarat utama terpenuhi, yakni meningkatnya arus masuk modal baru, kepastian regulasi yang lebih solid, serta berkurangnya tekanan jual dari para pemegang jangka panjang.
Hingga hal-hal tersebut tercapai, Bitcoin kemungkinan akan tetap bergerak di kisaran US$107.000–US$118.000 dengan volatilitas yang tinggi.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



