Revolut mengonfirmasi insiden keamanan yang menyebabkan informasi sensitif sejumlah pelanggannya diberikan kepada pihak tidak berwenang.
Kasus ini bukan berasal dari peretasan sistem internal perusahaan, melainkan permintaan informasi palsu yang dikirim menggunakan domain email resmi milik sebuah lembaga pemerintah.
Berdasarkan laporan Reuters pada Sabtu (12/6/2026), perusahaan fintech asal Inggris tersebut mengatakan telah menjadi sasaran penipuan yang membuat permintaan tersebut tampak berasal dari pihak pemerintah yang sah. Revolut baru menyadari permintaan itu tidak berwenang setelah informasi pelanggan telanjur diberikan.
Revolut kemudian memblokir alamat email terkait dan menghubungi lembaga pemerintah yang domainnya disalahgunakan, aparat penegak hukum, otoritas perlindungan data serta regulator keuangan.
“Sistem Revolut dan dana nasabah tidak terdampak,” ujar juru bicara perusahaan.
Artinya, sejauh keterangan Revolut saat ini, pelaku tidak mendapatkan akses langsung ke infrastruktur perusahaan ataupun mengambil dana dari rekening pelanggan.
Namun, persoalannya menjadi lebih serius karena informasi yang berpotensi jatuh ke tangan pihak tak berwenang mencakup data identitas dan aktivitas finansial pengguna.
Riwayat Transaksi Bitcoin Ikut Terekspos
Pemberitahuan yang diterima pelanggan terdampak menunjukkan data yang mungkin diberikan meliputi nama, tanggal lahir, alamat, email, nomor telepon, serta salinan dokumen identitas seperti paspor dan SIM. Verification swafoto, laporan rekening dan riwayat transaksi juga berpotensi terdampak.
Revolut menyebut kasus tersebut sebagai “sophisticated external impersonation scam” dan mengatakan hanya sejumlah terbatas pelanggan yang terdampak. Namun, perusahaan belum mengungkap jumlah pastinya maupun lembaga pemerintah mana yang domain email-nya digunakan pelaku.
Untuk pengguna kripto, dampaknya bahkan lebih sensitif. Pemberitahuan Revolut mencantumkan laporan rekening, IBAN, catatan penarikan serta riwayat transaksi lengkap, termasuk transaksi Bitcoin, sebagai informasi yang berpotensi dibagikan kepada pihak tidak berwenang.
Mantan CEO Mt. Gox, Mark Karpelès, mengatakan dirinya termasuk pelanggan yang terdampak dan membagikan pemberitahuan Revolut tersebut kepada publik.
Sementara itu, investigator on-chain ZachXBT menduga kasus ini kemungkinan menyasar pengguna dengan kekayaan tinggi. Namun, dugaan tersebut belum dikonfirmasi Revolut, sehingga belum dapat dipastikan apakah pelaku memang memilih korban berdasarkan nilai aset mereka.
Kombinasi data KYC, informasi rekening dan riwayat transaksi kripto dapat menjadi perhatian karena berpotensi menghubungkan identitas dunia nyata seseorang dengan aktivitas finansialnya.
Meski demikian, belum ada bukti bahwa data tersebut telah digunakan untuk mencuri aset ataupun melakukan serangan lanjutan terhadap pelanggan.
Bagaimana Permintaan Pemerintah Diproses Revolut?
Permintaan data dari pemerintah sendiri bukan sesuatu yang luar biasa bagi perusahaan keuangan. Dalam Customer Privacy Notice resmi Revolut, perusahaan menjelaskan bahwa informasi pribadi dapat dibagikan kepada pemerintah, aparat penegak hukum, otoritas pajak dan pihak terkait apabila diperlukan untuk memenuhi kewajiban hukum, aturan anti-pencucian uang atau investigasi penipuan.
Revolut bahkan menyediakan saluran khusus bagi otoritas dan perwakilan hukum untuk mengirim perintah pengadilan maupun permintaan informasi pelanggan.
Kasus terbaru karena itu menyoroti persoalan berbeda, yakni bagaimana permintaan yang tampak sah dapat melewati proses verifikasi ketika berasal dari domain pemerintah yang benar, tetapi digunakan oleh pihak yang sebenarnya tidak berwenang.
Revolut mengatakan telah menghubungi langsung pelanggan terdampak dan memberi tahu otoritas terkait.
Pedoman Information Commissioner’s Office Inggris mewajibkan organisasi melaporkan pelanggaran data tertentu dalam waktu 72 jam sejak menyadarinya, serta memberi tahu individu tanpa penundaan apabila insiden menimbulkan risiko tinggi terhadap hak dan kebebasan mereka.
Insiden tersebut terjadi ketika skala bisnis Revolut terus membesar. Perusahaan menyatakan saat ini melayani lebih dari 80 juta pelanggan ritel di seluruh dunia dan sedang mengejar target 100 juta pelanggan pada pertengahan 2027.
Hingga kini, Revolut belum mengungkap jumlah pelanggan yang terdampak, negara tempat insiden terjadi, identitas lembaga pemerintah yang domain-nya digunakan, maupun bagaimana pihak tidak berwenang dapat memperoleh akses ke alamat email resmi tersebut.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


