Riak Brad Garlinghouse di Raga Ripple

68
IKLAN

Berbicara tentang Ripple (XRP) tentu tak ada kaitannya dengan makna peribahasa “air beriak tanda tak dalam”. Kripto yang satu ini mungkin meminjam hakikat riak: gelombang kecil di permukaan air yang merambat ke segala arah. Dengan pendekatan serupa, “kecil” pada kalimat itu, Ripple mampu membuktikan biaya transfer uang secara global lebih kecil daripada bank.

Di tengah beragam kontroversi Ripple yang sentralistik dan suplainya dikendalikan oleh satu entitas perusahaan, keandalan teknologi Ripple berkembang berkat sentuhan pendiri sekaligus CEO-nya, Bradley Kent Garlinghouse.

Pria yang akrab disapa Brad ini lahir pada 6 Februari 1971 di Topeka, ibu kota negara bagian Kansas yang terletak di bagian Midwest, Amerika Serikat. Jiwa kepemimpinan mungkin telah terbentuk sejak usianya masih belia. Di Topeka High (setingkat SMA) ia menjabat sebagai Presiden Organisasi Siswa. Di Universitas Kansas, ia memimpin Badan Eksekutif Mahasiswa sebagai presiden.

Memilih menyelami ilmu bisnis, setelah lulus dengan gelar MBA dari Harvard Business School, Garlinghouse memegang posisi CEO di Hightail (sebelumnya YouSendIt). Pada 2003-2009, ia memimpin Yahoo! sebagai Wakil Presiden Senior. Keluar dari Yahoo! karirnya semakin moncer, karena dipercaya sebagai Presiden Aplikasi Konsumen di AOL dari pada 2009-2012.

Selain di dua perusahaan itu, Brad termasuk memelopori industri Voice over Internet Protocol (VoIP) sebagai CEO di Dialpad Communications. Ia juga berperan sebagai anggota di Dewan Direksi OutMatch dan pernah memegang posisi sebagai Anggota Dewan di Ancestry.com dan Tonic Health.

Sewaktu bekerja di Yahoo! pada tahun 2006, Brad pernah tenar gara-gara tulisannya “The Peanut Butter Manifesto,” sebuah dokumen yang memaparkan kendala-kendala yang dihadapi perusahaan mesin pencari itu, beserta solusinya. Brad menyoroti bahwa Yahoo! menggarap banyak proyek sekaligus sehingga sumber dayanya tersebar luas tapi tipis bak selai kacang di atas roti. Solusi Garlinghouse atas masalah ini adalah dengan memfokuskan visi perusahaannya, memulihkan akuntabilitas dan menjalankan reorganisasi yang radikal. Sepuluh tahun kemudian, pada 13 Juni 2016, Yahoo! bangkrut dan harus rela diakuisisi oleh Verizon. Ketika itu Yahoo! dipimpin oleh si cantik Marissa Mayer.

Garlinghouse memulai perannya di Ripple Labs sebagai Chief Operating Officer (COO) sejak April 2015. Sejak Januari 2017, ia naik ke kursi CEO Ripple Labs ketika co-founder perusahaan ini, Chris Larsen turun dari jabatan tersebut dan beralih menjadi executive chairman di jajaran direktur Ripple.

Ripple adalah perusahaan teknologi yang mengkhususkan membangun protokol pembayaran, yang memungkinkan penggunanya melakukan transfer internasional secara instan. Perkara kecepatan Ripple diklaim mengalahkan Ethereum dan Bitcoin. Kalau kedua protokol itu masing-masing hanya mampu 2 menit dan 60 menit per transaksi, Ripple cukup 4 detik saja.

“Cukup gila saat ini. Kita bisa menonton video streaming dari stasiun luar angkasa tetapi butuh waktu berhari-hari untuk mengirim uang antar negara. Satu-satunya cara tercepat untuk melakukan itu adalah dengan membawa uang yang banyak dan naik pesawat. Ripple ingin memberdayakan dunia sehingga bisa memindahkan uang secepat informasi berpindah melalui Internet,” jelas Garlinghouse.

Dengan pede-nya, belum lama ini, veteran industri teknologi ini bilang bahwa Ripple sedang menggantikan peran SWIFT dalam hal pembayaran internasional. Membantah rumor tentang Ripple bekerjasama dengan SWIFT, Garlinghouse berkata, “Justru yang kami lakukan dan laksanakan hari demi hari adalah mengambil alih peran SWIFT.”

Society For Interbank Financial Telecommunication (SWIFT) adalah sistem transfer uang internasional lintas bank yang digunakan sejak 1973. Hingga saat ini SWIFT melayani lebih dari 200 negara di dunia dengan menghubungkan lebih dari 11 ribu bank dan perusahaan. SWIFT memang mendominasi sistem keuangan dunia saat ini, sampai-sampai bisa digunakan sebagai “instrumen politik” untuk menekan negara lain. Ini terjadi kepada Iran.  Pada 12 November 2018, SWIFT mulai memblokir akses terhadap transfer internasional bagi anggota bank Iran, sebagai akibat berlakunya sanksi dari Amerika Serikat.

Pada acara Yahoo Finance All Markets Summit pada Februari 2018, Brad berkata ia memandang XRP dan kripto lainnya bukanlah sebagai “mata uang”, tetapi sebagai “aset digital.” Pandangan ini sesuai dengan regulasi di beragam negara, termasuk mirip dengan pandangan oleh Indonesia, yang melarang kripto sebagai alat pembayaran (legal tender), tetapi menerimanya sebagai komoditas digital setara emas dan minyak sawit.

Sebagai CEO Ripple, Brad memiliki 6,3 persen saham di perusahaan tersebut. Pada Februari 2018, kendati Ripple mengendalikan 61,3 miliar XRP, yang bernilai US$95 milyar saat itu, pemodal ventura Ripple memvaluasi perusahaan itu hanya senilai US$410 juta. Namun, bukan hal itu yang membuat Brad terdaftar sebagai “orang kripto” terkaya versi majalah Forbes. Adalah simpanan XRP pribadinya, yang berada pada angka ratusan juta XRP, yang membuat kekayaan kripto Brad bernilai US$400-500 juta di awal tahun 2018.

Selain sebagai CEO Ripple, Garlinghouse juga menjadi angel investor di lebih dari 40 perusahaan, termasuk perusahaan peranti keras Pure Storage, startup kecerdasan buatan Diffbot dan Indigo Agriculture. Atas semua pencapaian yang telah berhasil ia dapatkan, Brad mendapatkan penghargaan Hall of Fame dari Topeka High sebagai salah satu alumnu paling sukses. [ed]

 

Ikuti media sosial kami

Ingin Beriklan? Klik di Sini