Situasi memanas di dunia finansial setelah laporan menyebut bahwa tindakan JPMorgan dapat menekan perusahaan DAT terbesar saat ini, Strategy. Ketegangan muncul di tengah jatuhnya harga Bitcoin dan anjloknya saham MSTR, sehingga memperbesar kekhawatiran investor..
Gelombang Boikot dan Kekhawatiran Investor
Perseteruan ini bermula ketika media sosial dipenuhi seruan boikot terhadap JPMorgan. Banyak pengguna yang mengaku sebagai nasabah menyampaikan kekesalannya, sementara pendukung Strategy menilai laporan JPMorgan sebagai serangan terselubung terhadap Bitcoin dan MSTR.

Laporan Decrypt pada Jumat (21/11/2025) menyebut bahwa JPMorgan memperkirakan outflow dari Strategy bisa mencapai US$2,8 miliar, dan melonjak hingga US$11,6 miliar jika indeks lain mengikuti MSCI menghapus perusahaan tersebut dari daftar mereka.
Analis JPMorgan juga menilai penurunan lebih dari 40 persen pada saham Strategy (MSTR) dalam sebulan bukan hanya akibat melemahnya Bitcoin, tetapi juga kekhawatiran bahwa Strategy akan dikeluarkan dari indeks besar seperti MSCI, Nasdaq 100, dan Russell 1000.
“Inklusi indeks ini membuat eksposur terhadap Bitcoin secara tidak langsung masuk ke dalam portofolio ritel maupun institusional. Dengan MSCI yang mempertimbangkan untuk menghapus Strategy dan perusahaan DAT lainnya dari indeks, penetrasi tidak langsung yang sebelumnya terjadi bisa saja berbalik arah.” tulis analis JPMorgan.
Tak ayal, komentar itu dianggap sebagai bentuk tekanan nyata terhadap perusahaan yang dipimpin oleh Michael Saylor dan dikenal sangat agresif mengakumulasi Bitcoin tersebut.
Penghapusan MSCI Jadi Ancaman Baru untuk Strategy
Situasi memanas setelah MSCI mengonfirmasi bahwa mereka tengah mempertimbangkan untuk menghapus perusahaan yang menyimpan crypto 50 persen pada asetnya. Proposal ini masih dalam tahap konsultasi hingga akhir tahun dan akan diputuskan pada awal 2026.
Strategy kini berada dalam tekanan. Valuasi pasar mereka mencapai US$49 miliar, namun premium atau mNAV-nya merosot hingga 0,86, jauh dari 2,7 pada tahun sebelumnya. Data SaylorTracker menunjukkan penyusutan premium ini semakin memperkuat kekhawatiran investor.

Michael Saylor sempat membantah rumor bahwa perusahaan menjual sebagian Bitcoinnya. Namun penjelasan tersebut tidak cukup meredam kepanikan pasar. Harga saham MSTR turun lebih dari 10 persen dalam sebulan terakhir dan kini berada di level US$170.
Penurunan berkelanjutan ini menunjukkan bahwa pasar semakin sensitif terhadap setiap perkembangan seputar indeks. Sentimen negatif pun makin mudah melebar ketika harga Bitcoin sendiri belum stabil.
Para analis JPMorgan memperingatkan bahwa jika Strategy benar-benar dikeluarkan dari indeks besar, likuiditas dan arus perdagangan sahamnya bisa merosot drastis. Kondisi ini berpotensi menghambat kemajuan perusahaan.
“Dikeluarkannya sebuah perusahaan dari indeks-indeks besar hampir pasti akan dipandang negatif oleh pelaku pasar. Hal ini menimbulkan kekhawatiran tentang biaya serta kemampuan MicroStrategy untuk menghimpun ekuitas dan utang di masa depan,” tulis mereka.
Di tengah tekanan yang berat dan ketidakpastian arah kebijakan, nasib Strategy (MSTR) kini berada di persimpangan. Dengan Bitcoin yang melemah dan dinamika geopolitik yang tidak menentu, para investor hanya bisa menunggu bagaimana keputusan MSCI dan respons pasar akan membentuk babak selanjutnya.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



