Ripple tampaknya semakin serius menjadikan tokenisasi aset dunia nyata (RWA) sebagai salah satu pilar pengembangan XRP Ledger (XRPL).
Langkah terbaru terlihat pada awal Agustus 2026, ketika perusahaan mengumumkan investasi di ZILO dan Licuido untuk memperkuat infrastrukturnya di pasar modal digital.
Menurut pengumuman resmi Ripple, ZILO berfokus pada teknologi transfer agency untuk manajer aset dan wealth management. Sementara itu, Licuido menyediakan solusi tokenisasi dan platform perdagangan aset digital.
Investasi tersebut ditujukan untuk membawa kemampuan regulated transfer agency, penerbitan aset, hingga collateral mobility ke infrastruktur Ripple di XRPL.
Langkah ini memperlihatkan bahwa ambisi Ripple bukan sebatas memindahkan aset tradisional ke blockchain. Perusahaan tampaknya ingin membangun ekosistem tempat aset dapat diterbitkan, diperdagangkan, diselesaikan, hingga digunakan sebagai jaminan dalam aktivitas keuangan on-chain.
Ripple Membidik Pasar Tokenisasi Triliunan Dolar
Alasan Ripple semakin agresif cukup mudah dipahami jika melihat besarnya pasar yang diperebutkan. Berdasarkan riset Ripple dan Boston Consulting Group (BCG), nilai RWA yang ditokenisasi diperkirakan meningkat dari sekitar US$600 miliar pada 2025 menjadi US$18,9 triliun pada 2033, dengan compound annual growth rate sekitar 53 persen.
Kategori asetnya pun jauh lebih luas daripada sekadar real estat. Tokenisasi berpotensi merambah fixed income, saham, deposito, obligasi, produk likuiditas, lending dan kredit, mutual fund hingga private market.
Ripple sudah mulai membawa sejumlah nama institusional ke dalam strategi tersebut. Pada Februari 2026, Aviva Investors mengumumkan kolaborasi dengan Ripple untuk mengeksplorasi tokenisasi struktur dana investasi tradisional di XRPL. Aviva Investors merupakan bisnis manajemen aset dari Aviva plc.
Contoh lain datang dari Ondo Finance melalui OUSG, produk yang memberikan eksposur terhadap obligasi AS yang ditokenisasi. Pada Mei 2026, Ondo, Ripple, Mastercard dan Kinexys milik JPMorgan menjalankan ujicoba penebusan lintas batas OUSG di XRPL.
Proses tersebut diselesaikan dalam waktu kurang dari lima detik dan bahkan berlangsung di luar jam operasional perbankan tradisional.
Tokenisasi Hanya Menjadi Pintu Masuk
Strategi Ripple terlihat lebih luas ketika berbagai fitur XRPL dipandang sebagai satu kesatuan.
Ripple menjelaskan bahwa XRPL sedang dikembangkan untuk mengakomodasi aset yang ditokenisasi, perdagangan, likuiditas hingga pasar kredit. Sejumlah infrastrukturnya mencakup Multi-Purpose Tokens (MPT), Credentials, Permissioned Domains dan Lending Protocol.
Tujuannya adalah membuat aset yang sudah berada di blockchain tidak berhenti sebagai representasi digital semata. Aset tersebut dapat masuk ke pasar perdagangan, digunakan untuk settlement, bahkan berpotensi menjadi collateral dalam aktivitas lending.
Hal itu cukup penting bagi institusi keuangan. Tokenisasi saham, obligasi atau dana investasi tanpa infrastruktur untuk memperdagangkan dan memanfaatkan aset tersebut hanya menyelesaikan sebagian persoalan.
Ripple kini bahkan memasarkan XRPL sebagai platform tokenisasi RWA yang menggabungkan order book on-chain dan automated market maker (AMM), sekaligus menawarkan kemampuan penerbitan, perdagangan, escrow dan pemindahan aset.
Dengan kata lain, Ripple tampaknya mengejar sebuah rantai yang lebih lengkap, yakni aset diterbitkan secara on-chain, diperdagangkan, diselesaikan, kemudian digunakan kembali dalam aktivitas keuangan lainnya.
Di Mana XRP Bisa Kebagian Untung?
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah ekspansi tokenisasi tersebut benar-benar menguntungkan XRP.
Di sinilah penting membedakan Ripple, XRPL dan XRP. Ripple adalah perusahaan, XRPL merupakan blockchain publik, sementara XRP adalah aset native dari jaringan tersebut. Karena itu, masuknya aset senilai miliaran dolar ke XRPL tidak berarti nilai yang sama otomatis berubah menjadi permintaan XRP.
Namun, XRP tetap berada di beberapa bagian penting ekosistem.
Sebagai aset native XRPL, XRP digunakan dalam mekanisme jaringan, termasuk untuk membayar biaya transaksi. Selain itu, XRP juga mempunyai potensi fungsi sebagai aset penghubung likuiditas.
Dalam pembahasan mengenai institutional DeFi di XRPL, Ripple menempatkan XRP sebagai aset yang dapat memainkan peran dalam pembayaran, likuiditas dan pasar kredit, termasuk aktivitas yang melibatkan aset yang ditokenisasi.
Secara konseptual, jika dua aset di XRPL membutuhkan jalur pertukaran dan XRP menawarkan likuiditas terbaik, transaksi dapat diarahkan melalui XRP sebagai bridge asset.
Akan tetapi, XRP tidak harus menjadi perantara dalam setiap perdagangan. Pasangan aset tokenisasi dengan stablecoin seperti RLUSD, misalnya, dapat memiliki jalur likuiditas tersendiri.
RLUSD Bisa Jadi Kawan Sekaligus Tantangan XRP
Kemunculan RLUSD justru membuat hubungan tokenisasi dengan XRP semakin menarik untuk diperhatikan.
Stablecoin Ripple tersebut menawarkan unit nilai yang stabil sehingga lebih praktis digunakan sebagai sisi kas dalam transaksi institusional. Hal tersebut berbeda dengan XRP yang nilainya bergerak mengikuti pasar.
Karena itu, pertumbuhan tokenisasi di XRPL mungkin meningkatkan penggunaan RLUSD secara langsung untuk settlement, sementara manfaat terhadap XRP lebih banyak bergantung pada apakah aset tersebut dibutuhkan untuk likuiditas, bridging maupun aktivitas pasar lainnya.
Pada akhirnya, angka RWA yang besar di XRP Ledger memang dapat memperluas ekosistem tempat XRP beroperasi. Namun, hal itu sendiri belum cukup untuk memastikan permintaan XRP meningkat secara proporsional.
Pertaruhan sebenarnya bagi XRP bukan sekadar seberapa banyak aset yang berhasil dibawa Ripple ke XRPL, melainkan seberapa sering XRP benar-benar dibutuhkan ketika aset-aset itu mulai diperdagangkan, dipindahkan, digunakan sebagai collateral dan masuk ke pasar kredit on-chain.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


