Perdebatan soal dampak Bitcoin mining terhadap lingkungan kembali memanas. Kali ini, riset terbaru dari Cambridge menunjukkan konsumsi listriknya terus meningkat, tetapi penggunaan energi rendah karbon semakin dominan
Konsumsi Listrik Bitcoin Mining Melonjak
Laporan TheEnergyMag pada Sabtu (25/07/2026) mengungkap hasil riset Cambridge yang menunjukkan konsumsi listrik tahunan Bitcoin mining meningkat 38 persen dalam kurun 18 bulan hingga Desember 2025. Kenaikan ini sejalan dengan pertumbuhan aktivitas mining.
Alexander Neumueller dari Cambridge Centre for Alternative Finance memaparkan bahwa konsumsi listrik tahunan Bitcoin kini mencapai sekitar 190 terawatt-hour (TWh). Sebagai perbandingan, angka tersebut masih berada di kisaran 138 TWh pada Juni 2024.
Meski kebutuhan listrik meningkat, pertumbuhan emisi gas rumah kaca ternyata tidak bergerak dengan kecepatan yang sama. Estimasi emisi karbon hanya naik sekitar 20 persen, dari sekitar 40 juta ton menjadi 48 juta ton setara karbon dioksida.
Cara Mining Bitcoin untuk Pemula: Ikuti Panduan Praktis Ini!
Perbedaan tersebut terjadi karena bauran energi yang digunakan industri penambangan Bitcoin mulai bergeser. Porsi energi rendah karbon meningkat menjadi 59,4 persen, naik dari 52,4 persen, sementara tenaga air kini melampaui gas alam sebagai sumber energi terbesar.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa konsumsi listrik Bitcoin mining memang membesar. Namun, setiap unit listrik yang digunakan kini berasal dari sumber energi yang lebih bersih dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Di sisi lain, Cambridge menegaskan bahwa angka tersebut masih bersifat awal. Data diperoleh melalui survei perusahaan penambangan yang mewakili lebih dari separuh hashrate global, sehingga hasil akhirnya masih bisa berubah saat laporan lengkap diterbitkan pada akhir 2026.
Efisiensi Mesin Belum Mampu Menahan Lonjakan Energi
Menurut Neumueller, peningkatan konsumsi listrik menunjukkan ekspansi berlangsung lebih cepat dibandingkan peningkatan efisiensi perangkat penambangan. Akibatnya, kebutuhan energi terus bertambah seiring bertambahnya aktivitas Bitcoin mining.
Meski perangkat Bitcoin mining generasi terbaru lebih efisien, pertumbuhan jumlah mesin yang beroperasi tetap lebih cepat. Kondisi tersebut membuat konsumsi energi jaringan Bitcoin secara keseluruhan terus meningkat.
Cambridge juga menyoroti perubahan geografis dalam aktivitas penambangan BTC. Salah satu contohnya adalah Ethiopia yang mulai berkembang menjadi pusat Bitcoin mining baru berkat pasokan listrik dari Grand Ethiopian Renaissance Dam.
Bertambahnya cakupan survei di negara kaya tenaga air turut memengaruhi bauran energi global Bitcoin. Temuan ini menunjukkan estimasi penggunaan energi sangat dipengaruhi lokasi penambangan dan partisipasi perusahaan dalam survei.
Cambridge mengingatkan laporan edisi 2025 didominasi partisipasi perusahaan asal Amerika Serikat. Kondisi tersebut berpotensi membuat porsi aktivitas penambangan negara itu terlihat lebih besar dibandingkan kondisi sebenarnya.
Karena itu, Cambridge menegaskan hasil riset terbaru masih berupa estimasi awal. Laporan lengkap dijadwalkan terbit pada akhir 2026 sehingga angka-angka tersebut masih berpotensi mengalami penyesuaian.
Miner Bitcoin Mulai Melirik Sektor AI
Selain membahas konsumsi energi, Cambridge turut meneliti tren baru di kalangan perusahaan penambangan Bitcoin, yakni diversifikasi menuju layanan kecerdasan buatan (AI) dan komputasi berkinerja tinggi atau high-performance computing (HPC).
Hasil survei menunjukkan hanya 10 persen perusahaan Bitcoin mining telah mengalokasikan sebagian pasokan listriknya untuk AI. Sementara itu, lebih dari 40 persen responden mengaku sedang mengeksplorasi diversifikasi ke AI dan HPC.
Menurutnya, alasan utama perusahaan mulai melirik AI adalah untuk memperkuat ketahanan bisnis sekaligus membuka sumber pendapatan baru. Namun, kebutuhan belanja modal yang besar masih menjadi hambatan terbesar sebelum transformasi dilakukan.
“Niat untuk mengeksplorasinya bukan berarti sudah berkomitmen untuk menerapkannya. Perusahaan mining memang ingin memiliki sumber pendapatan kedua, asalkan tidak mengganggu bisnis utama mereka,” jelas Neumueller.
Cambridge memperkirakan diversifikasi menuju AI akan berkembang. Namun, membangun pusat data AI bukan sekadar mengganti perangkat, melainkan membutuhkan investasi besar, infrastruktur memadai, dan keahlian teknis yang lebih kompleks.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


