Meski disebut sebagai tulang punggung masa depan sistem pembayaran, pemanfaatan stablecoin untuk transaksi barang dan jasa ternyata masih sangat terbatas. Laporan terbaru menunjukkan, volume besar transaksi stablecoin di blockchain belum mencerminkan aktivitas ekonomi riil.
Mayoritas Transaksi Stablecoin Bukan Pembayaran Riil
Riset kolaboratif antara McKinsey dan Artemis Analytics yang dirilis pada Jumat (23/01/2026) mengungkap bahwa stablecoin memindahkan US$35 triliun di jaringan blockchain sepanjang 2025. Namun, hanya 1 persen dari volume tersebut yang digunakan untuk pembayaran dunia nyata.
Dari keseluruhan aktivitas, peneliti memperkirakan hanya sebagian kecil yang mencerminkan pembayaran aktual dan kontribusinya hanya 0,02 persen terhadap pembayaran global. Aktivitas tersebut mencakup pembayaran ke pemasok, remitansi, hingga pendanaan payroll.
“Analisis menunjukkan bahwa pada tingkat penggunaan saat ini, volume pembayaran stablecoin yang benar-benar terjadi setiap tahun mencapai sekitar US$390 miliar, atau setara dengan kurang lebih 0,02 persen dari total volume pembayaran global,” jelas mereka.
McKinsey menilai klaim volume transaksi mata uang digital telah melampaui jaringan pembayaran raksasa seperti Visa atau Mastercard kerap keliru. Pasalnya, mayoritas transaksi stablecoin tidak pernah bersentuhan langsung dengan pengguna akhir.
Persaingan Menguat, Interpretasi Data Dipertanyakan
Temuan ini muncul di tengah meningkatnya persaingan untuk mendominasi infrastruktur pembayaran berbasis stablecoin. Raksasa pembayaran tradisional seperti Visa dan Stripe mulai bereksperimen dengan jalur pembayaran berbasis mata uang digital.
Di sisi lain, perusahaan kripto seperti Circle dan Tether mempromosikan token mereka sebagai alternatif transfer lintas negara yang lebih cepat dan murah dibanding sistem perbankan konvensional.
Namun, laporan McKinsey menekankan bahwa sebagian besar volume stablecoin justru berasal dari aktivitas yang masih terbatas di dalam industri kripto itu sendiri dan belum sepenuhnya digunakan secara luas oleh masyarakat.
“Volume transaksi stablecoin di blockchain sering mencakup perpindahan internal exchange, aktivitas smart-contract otomatis, perdagangan dan arbitrase, serta mekanisme teknis protokol, sehingga tidak seluruhnya mencerminkan pembayaran riil,” tulis laporan tersebut.
Karena itu, angka transaksi mentah di blockchain dinilai rawan disalahartikan. Tanpa analisis yang lebih mendalam, data tersebut berpotensi menutupi gambaran sebenarnya mengenai tingkat adopsi mata uang digital sebagai alat pembayaran.
Tiga Sektor Utama Penggunaan Stablecoin
Meski porsinya masih kecil, riset McKinsey dan Artemis mencatat tiga area utama di mana stablecoin mulai berfungsi sebagai alat pembayaran.
Pertama, transaksi business-to-business (B2B) menjadi kontributor terbesar dengan volume sekitar US$226 miliar per tahun. Stablecoin digunakan untuk menyederhanakan pembayaran rantai pasok lintas negara dan meningkatkan manajemen likuiditas.
Kedua, sektor payroll global dan remitansi lintas negara menyumbang sekitar US$90 miliar. Mata uang digital menawarkan transfer hampir instan dengan biaya lebih rendah, meski porsinya masih di bawah 1 persen dari total volume remitansi global.
Ketiga, aktivitas pasar modal seperti penyelesaian dana otomatis dan pembayaran dividen berbasis token mencatat volume sekitar US$8 miliar. Angka ini masih sangat kecil, tetapi menunjukkan potensi stablecoin dalam merampingkan proses settlement.

Potensi Jangka Panjang Masih Terbuka
Pasokan stablecoin global kini telah melampaui US$300 miliar, melonjak tajam dibandingkan kurang dari US$30 miliar pada 2020. Sejumlah proyeksi bahkan memperkirakan pasokan ini bisa menembus US$2–4 triliun pada 2030.
Namun, laporan tersebut menegaskan pentingnya pendekatan realistis. Institusi keuangan diminta tidak menyamakan volume transaksi on-chain dengan adopsi pembayaran yang dapat dimonetisasi.
Bagi pelaku industri, pesan utamanya jelas. Stablecoin memang memiliki potensi besar untuk mengubah sistem pembayaran, tetapi realisasinya membutuhkan data yang jernih, investasi yang disiplin, serta fokus pada use case yang benar-benar terbukti.
“Untuk ditegaskan, rendahnya volume pembayaran stablecoin sesungguhnya tidak mengurangi potensi jangka panjangnya sebagai jalur pembayaran,” tulis analis McKinsey dan Artemis dalam laporan tersebut.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



